
Tinggal di Jambi. Menulis cerita-cerita pendek yang diangkat dari kehidupan nyata orang-orang berprestasi, dengan maksud menggugah etos kerja dan memupuk semangat kebangsaan.
Dibaca: 241
Komentar: 5
2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif
Konon, kesibukan adalah buah manis modernisasi. Pengaturan waktu menjadi kuncinya. Setiap menit, setiap detik, hendak dibagi teliti demi mengejar efektifitas dan efisiensi. Kabarnya di negara maju semacam Jepang dan Amerika jadwal pribadi bukan barang baru lagi. Bahkan seorang ayah yang hendak mengunjungi puteranya wajib melakukan reservasi terlebih dahulu. Jika mencoba datang mendadak, bukan hal aneh jika para menantu yang cantik dan bahenol-bahenol di negeri itu menolak membuka pintu dengan jawaban: “Kami tak punya waktu untuk Anda!”
Nah, mereka pun tak sungkan-sungkan memanggil ayah mertuanya dengan: “Anda!”
Tapi omong-omong, apakah Anda orang sibuk juga? Sesibuk apa? Mungkin Anda memiliki jadwal ketat, seketat ikat pinggang pesenam ritmik Romania. Tapi sesibuk apa pun itu, semoga Anda tetap menempatkan keluarga pada kolom prioritas waktu utama.
Bicara mengenai orang sibuk, ada seseorang dengan kemampuan unik di Jambi. Daeng Jamaludin, perantau dari Tanah Bugis. Berusia sekitar 40 tahun, ia adalah kapal phinisi yang bertarung di tengah ombak. Tak mengenal lelah, tak mengenal badan meriang. Ia semacam boneka jin terbuat dari karet, dapat dilihat tapi tak dapat disentuh. Ia memiliki kesibukan yang nyaris mustahil dilakukan orang biasa.
Gambarannya sebagai berikut. Ia memiliki 2 hektar kebun karet yang ia sadap sendiri, Ia juga memiliki sekawanan kambing yang ia rumputi sendiri, berkandang di atas 2 hektar lahan miliknya yang ia tanami sendiri dengan pisang dan pepaya. Di rumahnya, ia juga memiliki usaha cas aki yang terkenal telaten dan banyak pelanggan - tak kurang dari 100 aki selalu ‘on charge’ di rumah itu. Lalu ia juga dikenal sebagai tukang potret panggilan, khususnya resepsi pernikahan. Jika ada orang menggelar hajatan, cukup kirimkan pesan padanya, ia akan datang sesuai waktu yang diinginkan, lengkap dengan kamera video….
Satu hal lagi yang tak boleh diabaikan, Daeng Jamaluddin juga adalah seorang Guru SD yang tak pernah mangkir dari tanggungjawabnya!
Bagaimana ia membagi-bagi waktunya? Itu adalah fenomena, tak bisa diuraikan dengan kata-kata! Jika Anda ingin tahu juga, tak ada cara lain selain menemuinya langsung dan menyaksikan caranya bekerja. Satu hal yang tak boleh dikatakan di dekatnya adalah satire ini: “Tanah air Indonesia katanya subur dan makmur, tapi tanah tak punya air pun membeli….!”
Ia akan marah jika tanah air yang dicintainya ini dihina orang. Bukan mengada-ada. Jika kepadanya diceritakan soal politik atau carut-marut terorisme yang marak belakangan ini, ia akan berkomentar : “Itu semua pekerjaan orang malas! Orang malas yang banyak ulah!”
Daeng Jamaluddin, Perumahan Bougenville, Simpang Rimbo, pinggiran Kota Jambi. Ia adalah idaman pembangunan.
****