Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mahyuddin Nasution

Mahyuddin (K. M. Nasution) dilahirkan di desa Teluk Pulai Dalam, Kabupaten Labuhan Batu Propinsi Sumatera selengkapnya

Ala Bisa karena Biasa – Satu Sisi Kehidupan di Sungai Citarum

OPINI | 25 April 2011 | 17:03 Dibaca: 176   Komentar: 2   0

Dalam masyarakat tradisional, sungai menjadi tulang punggung kehidupan anggota-anggota masyarakat itu, mulai dari kebutuhan dasar sampai keperluan ibadah. Sungai menyediakan air untuk hidup: makan dan minum. Sungai menyediakan air untuk pertanian dan peternakan: padi, jagung, ikan, daging dan susu atau lainnya. Melalui sungai juga bahan-bahan untuk membangun tempat berteduh dapat disediakan dari lingkungan sekitarnya dengan mudah. Sungai memberikan setiap anggota masyarakat itu untuk membentuk kehidupan sosial dengan baik, karena sungai memudahkan sarana transportasi dapat bergerak sehingga komunikasi dapat dilakukan sekaligus melakukan perdagangan (tukar-menukar keperluan sesamanya). Sungai yang mengalirkan air juga diperlukan untuk ibadah, pada batas-batas tertentu setiap orang yang akan melakukan ibadah harus membersihkan diri, tentunya dengan air, tetapi pada batas-batas tertentu air juga digunakan sebagai media ibadah.

Ketika masyarakat nomaden (hidup berpindah-pindah) ditinggalkan, satuan-satuan  kecil masyarakat (sebut saja sebagai komunitas) mencari sumber air untuk hidup menetap, membangun tempat tinggal, dan membuat suatu struktur sosial. Banyak di antara komunitas ini menetap di pinggir sungai, dan menjadikannya sebagai prasarana dan sarana kehidupan komunitas itu, dan membangun aturan-aturan untuk bertahan hidup termasuk untuk berdamai dengan sungai atau alam ketika tidak bersahabat. Aturan-aturan itu menjadi kebiasaan atau ditetapkan dari kebiasaan yang sudah ada turun-temurun berdasarkan pengalaman pendahulunya. Banyak kebiasaan atau aturan itu yang membuat sekitarnya menjadi rusak, seperti merambah hutan sedikit demi sedikit untuk memperluas pertanian mereka, membuang sampah termasuk hajat mereka ke sungai sebagai salah satu implikasi kebersihan.

Ketika komunitas masih kecil dan hidup seadanya, kondisi alam termasuk sungai tidak menerima akibat (mempengaruhinya) begitu parah dan tidak terasa pengaruhnya bagi kehidupan, tapi ketika komunitas tumbuh membesar dan sebagian menjadi kota, maka ketika itulah persoalan demi persoalan muncul berkaitan dengan sungai dan lingkungannya. Pencemaran disebabkan limbah bersatu dengan keperluan masyarat itu terhadap sungai. Mereka memperlakukan air sungai sebagai kebutuhan hidup: makan dan minum, tetapi mereka juga mengotorinya dengan limbah mereka: sampah dan buang hajat. Tidak saja pencemaran, struktur sungai juga berubah, terjadi pendangkalan disebabkan sampah dan sendimen, kadangkala pendangkalan disertai pelebaran atau penyempitan sungai. Sampah berasal dari masyarakat dalam menjalani kehidupannya, tetapi sendimen diakibatkan perilaku masyarakat untuk memenuhi kehidupannya, seperti perambahan hutan dan pertanian. Walaupun sering terjadi bencana, komunitas-komunitas itu masih tetap bertahan, dan berkembang dan tumbuh membesar menjadi masyarakat sosial tertentu, yang tidak saja bersosial budaya tetapi menjadi bagian dari suatu negara. Barangkali terbiasa dengan keadaan dan menjadi kebal akan segala hal, berlaku suatu prinsip hidup, seperti kata pepatah

Ala bisa karena biasa

Komunitas terdiri dari anak-anak dan orang-orang dewasa. Orang-orang tua menjadi contoh kepada anak-anaknya, dan masyarakat itu mengambil tauladan kepada yang lebih dituakan dan berpengalaman sebagai pemimpin mereka. Kebiasaan-kebiasaan menjadi diturunkan dari orang tua kepada generasi-generasi berikutnya, apa yang lakukan oleh komunitas itu berlaku secara umum, oleh karena itu kalaupun ada pendatang luar yang akan menetap dan hidup bersama mereka, pendatang itu segera membiasakan diri dengan apa yang ada, kadangkala dengan sedikit perubahan, tetapi banyak juga tanpa ada perubahan yang berarti. Apalagi, anggota-anggota masyarakat itu hidup bersama kemiskinan, maka dehumanisasi berlaku secara berterusan, kebiasan-kebiasaan buruk tidak saja terpelihara tetapi juga tambah meningkat baik dalam bentuk maupun mutu. Anak-anak mungkin mandi dan membuang hajat di tempat yang sama karena orang tua mereka melakukan hal yang sama, bahkan kadangkala mereka juga mengambil air ditempat yang sama sebagai bahan untuk minum dan memasak makanan, sebagaimana orang tua mereka pernah lakukan. Mungkin bedanya, ketika orang tua mereka melakukan tidak secara sembarangan, hanya di tempat-tempat tertentu saja di sungai, tetapi anak-anak mereka melakukannya secara serampangan tanpa mengindahkan tata krama, namun akibatnya sama saja, pencemaran tetap berlaku, dan ini adalah kebiasaan buruk.

Seorang anak di dalam komunitas akan membesar menjadi dewasa dan membangun rumah tangga. Dengan demikian suatu komunitas tumbuh membesar menghilang dalam suatu sosial masyarakat, dan kadangala menjadi kota. Masyarakat tidak lagi hidup dalam kehidupan tradisional bertani atau berternak, muncul industri dan perdagangan sebagai akibat dari pemenuhan hajat hidup yang semakin tinggi dan berkualitas. Tetapi, anehnya, kebiasaan hidup tetap tidak berubah, dan ditambah lagi dengan limbah-limbah pabrik juga dibuang ke tempat yang sama, barangkali karena sudah menjadi budaya seperti kata pepatah

Dari kecil teranjak-anjak sampai besar terbawa-bawa.”

Lingkungan, terutama sungai, tidak saja tercemar oleh limbah manusia, tetapi juga bahan-bahan kimia sisa pengolahan pabrik dan industri di sekitarnya, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perkotaan itu atau sekitarnya.

Demikian juga masyarakat yang hidup di sekitar Sungai Citarum. Di bagian hulu sungai banyak komunitas masyarkat dan hidup sebagai petani atau peternak, kadangkala pada bagian tertentu terdapat pabrik-pabrik, dan pada bagian hilir tersemai toko-toko dan perumahan-perumahan sebagai karakter dari adanya kota atau sebagai akibat dari adanya industri dan perdagangan. Sebagaimana yang hampir sama berlaku seperti dikebanyakan sungai di dunia, Sungai Citarum menampung segalanya dari hajat hidup manusia yang ada di sekitarnya. Namun, tidak seperti kebanyakan sungai-sungai lainnya di mana manusia-manusianya mampu menyadari pentingnya sungai dan atas dasar itu mengubah perilaku memperlakukannya sehingga sungai dapat mengalirkan air hingga jauh dari hulu ke hilir untuk mendukung kehidupan di sekitarnya, Sungai Citarum seperti terbiar/terlantar yang menyebabkan bagian demi bagian darinya mengalami perubahan, kadangkala membuat ulah sekedar untuk mengingatkan, seperti banjir apabila hujan atau menebarkan bau busuk ketika musim kemarau. Sebagian dari masyarakat di sekitarnya mungkin menyadari, dan telah membuat tindakan-tindakan. Namun, tindakan-tindakan itu tidak berpengaruh besar terhadap perbaikan Sungai Citarum, karena kerusakan berlangsung yang teruk dan telah parah, apalagi aktivitas yang dilakukan tidak menyentuh hal-hal mendasar dari struktur dan budaya sosialnya dan tidak didukung oleh kebijakan-kebijakan pemerintah. Walaupun, masyarakat di sekitar Sungai Citarum sadar tentang perlunya hidup sehat bersama sungai, ketika aparat yang berwenang sebagai pemerintah tidak ambil peduli, instansi-instansi terkait saling berlepas tangan, aturan-aturan dan perundang-undangan tidak berjalan sebagaimana mestinya, terutama dengan membiarkan pabrik-pabrik membuang limbahnya ke sungai Citarum, ketika itu juga kehidupan disekitar Sungai Citarum termegap-megap untuk berjuang hidup, tidak saja manusia tetapi ikan-ikan yang menjadi pengisi sungai dan laut di hilir sungai, hingga Sungai Citarum mendapat gelar terbaik sebagai salah satu sungai terkotor di dunia, dan ketika itu juga kita semua tersadar dari mimpi indah tidur kita, karena walaupun hidup jauh di istana yang megah sebenarnya telah turut bergelimang dengan kotoran dan najis secara tidak sadar.

Barangkali saat ini teriakan untuk slogan “Selamatkan Sungai Citarum” tidak lagi cukup, perlu tindakan-tindakan nyata yang teratur, sistematis dan berkesinambungan agar Sungai Citarum kembali bernapas hidup, tidak lagi termegap-megap menampung semua keperluan hidup di lingkunganya. Segenap tenaga dan kemampuan haruslah dikerahkan untuk menata sosial masyarakat di sekitar Sungai Citarum khususnya, umumnya berkaitan dengan sikap dan budaya masyarakat Indonesia dalam memperlakukan sungai-sungai. Pemerintah harus membiasakan diri untuk bertindak tegas sewaktu menjalankan peraturan-peraturan mengenai lingkungan hidup, agar masyarakat juga dapat berdisiplin dengan itu dan menghargai lingkungannya.

Apabila nasi telah menjadi bubur. Pemerintah dengan lembaga-lembaga sosial termasuk organisasi-organisasi bukan pemerintah (non-government organization, NGO) perlu saling bergandeng tangan melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyentuh perilaku sosial masyarakat dan mengubahnya ke arah yang lebih baik, menyadarkan mereka. Menyadarkan orang-orang tua akan perilakunya, menyadarkan anak-anak tentang perlunya hidup sehat bersama sungai, menyadarkan semua akan perlunya lingkungan yang baik untuk berlangsungnya kehidupan. Pengajaran dan pengetahuan perlu diberikan, agar masyarakat mempunyai kehendak untuk berubah, tidak saja melalui sekolah-sekolah tetapi melalui pertemuan-pertemuan antara masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah, termasuk juga melibatkan rumah-rumah ibadah dan peribadahan. Generasi-generasi baru dibentuk untuk menyadari arti lingkungan, barangkali membiasakan diri dengan wawasan berlingkungan hidup, sehingga menjadi bisa berdisiplin terhadap lingkungan dan tumbuh besar menjadi orang yang menghargai lingkungan yaitu dari kecil terbiasa bersama lingkungan sehat hingga besar menjadi terbawa-bawa. Tentunya, pemerintah bersama-sama dengan masyarakat harus mampu mengubah struktur dan budaya masyarakat itu sendiri, terutama yang berada di sekitar Sungai Citarum, dalam hal ini dengan lebih memperhatikan tingkat kesejahteraan setiap anggota masyarakat tersebut, memberikan fasilitas hidup sebagai manusia, misalnya rumah yang layak, pendidikan, kemudahan-kemudahan umum, dan lainnya, yang dapat menunjang perubahan perilaku masyarakat.

Sungai Citarum mungkin satu kasus dari semua kasus yang terpeta tentang kehidupan sungai yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, semua kita hendaklah mampu mengambil pelajaran dari kasus ini, terutama pemerintah harus mampu memfasilitasi perubahan ke arah kebaikan. Jadi, sebagai manusia berbudaya dan bernegara mari “Selamatkan Citarum”, selamatkan sungai-sungai kehidupan kita dengan mengubah kebiasaan buruk menjadi tidak biasa, atau membisakan hidup berdisplin agar mampu hidup tidak merusak lingkungan.

Mahyuddin K. M. Nasution

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Messenger Apps di Android yang Akan …

Kevin Anandhika Leg... | | 22 August 2014 | 20:10

Serial Animasi Lokal Mulai Muncul di …

Pandu Aji Wirawan | | 22 August 2014 | 18:29

Keputusan MK tentang Noken, Bagaimana …

Evha Uaga | | 22 August 2014 | 12:23

Berlian …

Katedrarajawen | | 22 August 2014 | 20:01

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: