Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Irenius Lagung

Sedang berusaha menemukan merek dan rumah kepenulisan. Coretan2ku belum sempurna, tetapi kompasiana akan lebih asyik selengkapnya

Tarian Vera; Lamentasi ala Suku Rongga

OPINI | 24 April 2011 | 06:27 Dibaca: 431   Komentar: 2   0

Ole-ole dari Tanah Rongga

*Tulisan ini merupakan Koreksi untuk artikel terdahulu dengan judul yang sama

Tarian Vera, merupakan salah satu kekahasan budaya Rongga, sebuah suku kecil yang berada di pesisir pantai selatan Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tarian ini menjadi begitu unik di antara sejumlah tarian lainnya yang berasal dari suku-suku di daratan Flores. Disamping gerakannnya yang unik, tarian ini berisi sejumlah nyayian puitik bernada magis, sebagai bentuk refleksi hubungan antara manusia dan arwah leluhur atau yang sudah meninggal dunia. Namun keberadaannya kini mulai terdesak oleh berbagai pengaruh modernisasi sehingga banyak kalangan muda Rongga tidak lagi menguasi tarian ini dan mampu meng-create lyric-lyric yang berasal dari persentuhan pengalaman realnya ke dalam nyanyian Vera. Padahal di masa lalu tarian ini menjadi salah satu tarian favorit orang Rongga mengalahkan caci dan ndhundu ndhake, tarian dari khas budaya Manggarai.

Salah satu faktor yang menyebabkan kesenian Vera meredup adalah pengaruh kebudayaan danding dan caci yang mulai memasuki wilayah Rongga sejak penaklukkan Komba oleh kerajaan Todo, Manggari. Kehadiran pemerintahan kedaluan dan unsur-unsur pemerintahan pasca kedaluan semakin menenggelamkan warisan berharga itu dalam penghayatan masyarakat pendukung kebudayaan Rongga. Sementara tarian Vera hanya digelar secara aksidental, yakni pada saat Rongga pesta kematian (wela kamba) atau acara penguburan tetua adat dari kalangan suku terhormat yang memiliki gendang dan warisan pusaka nenek moyang.

Sementara syair-syair puitik yang terdapat didalamnya, berdaya mengungkap jejak sejarah setiap klan yang berada di wilayah Rongga serta mengandung unsur-unsur filosofis dan kritik sosial  yang memberi arahan hidup bagi masayarakatnya. Bahkan dalam konteks religius, kekatolikan, terutama berkaitan dengan ritus peringatan sengsara dan wafat Krisitus, lagu-lagu vera bisa dimodifikasi dengan kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus. Siapa yang menyangka, refleksi atas kehidupan yang terekspresi dalam berbagai nyanyian puitik Vera bisa menghantar mayoritas penduduk Rongga yang beragama Katolik larut dalam pengalaman meditatif permenungan tentang sengsara dan kebangkitan Tuhannya??

Tarian Vera terinspirasi dari pengalaman yang dipungut dari kehidupan masyarakat Rongga, pasangan Sawu dan Walu yang mengelami peri atas kehidupan. Kemiskinan, kemelarataran dan penderitaan begitu akrab dengan pasangan ini. Karena merasa terasing dari kehidupan keluarga dan rekan-rekan sekampung mereka terpaksa menyingkir dari kehidupan konvensional masyarakat Rongga dan memilih menetap di kawasan hutan rimba. Sehari-hari mereka menggantungkan hidupnya pada buah-buahan dan sejumlah jenis umbi-umbian yang berada di hutan. Pengalaman keterasingan dan komitment untuk mengubah hidup dimulai ketika mereka menjalin kembali interaksi dengan warga Rongga lainnya sebagai pedagang yang menjual hasi-hasil hutan kepada masayarat. Kehidupan mereka pun mulai berubah bahkan mencapai puncak kejayaannya. Perkawinan mereka pun dianugerahi seorang anak lelaki bernama Jawu.

Perjuangan untuk bangkit dan menata kembali kehidupan sebagai keluarga kecil di belantara, ternyata masih syarat dengan ujian bertubi. Puncaknya ketika bayi mereka yang baru berumur lima bulan hilang diculik embu ngiu (sejenis makhluk hutan berukuran tubuh pendek dan berpayudara panjang). Hal itu dialami ketika pasangan ini asyik menyiram pesa (tuba) aliran air sungai demi menjaring ikan, udang dan kepiting yang memenuhi sungai di kawasan tanah Rongga kala itu.

Keasyikan mengais rejeki, membuat mereka lupa pulang ke rumah. Sementara anjing peliharaan mereka Noa Talo yang ikut bersama mereka memberi isyarat akan terjadinya sesuatu. Firasat sempat muncul kala Noa Talo melolong tak henti. Namun isyarat itu terlambat ditangkap pasangan Sawu dan Walu. Mereka malah asyik memungut ikan, udang, kepiting, serta belut yang hanyut akibat racun tuba.

Saat mereka tiba di rumah, mereka menemukan sejumlah buah terung bertebaran di mana-mana. Jenis buah tanaman ini merupakan makanan sehari-hari embu ngiu. Kecurigaan mereka mulai terjawab ketika Jawu, putera semata wayang mereka raib dari pembaringannya. Sementara di tempat Jawu dibaringkan tergolek sesosok bayi berbulu lebat dan hitam legam, yang dicurigai sebagai Embu Ngiu. Inilah episode tragis yang menandai prosesi duka berkepanjangan dalam kehidupan pasangan ini. Sang anjing kesayangan, yang dikenal sebagai binatang yang paling ditakuti Embu Ngiu juga turut berduka. Bersama tuannya mereka menyusuri hutan belantara mencari Jawu. Namun, apa daya usaha mereka sia-sia belaka.

Sekitar lima tahun terbenam dalam prosesi duka yang nyaris tak bertepi, pada suatu malam pasangan suami-isteri ini bermimpi mendapatkan anak semata wayang mereka. Anehnya mimpi keduanya terjadi pada waktu bersamaan. Dalam mimpi tersebut mereka dituntun Embu Ngiu dalam bentuk gerakan yang menyerupai tarian Vera seakarang menemukan anak mereka. Jelang subuh keduanya terjaga dan menceritakan mimpinya masing-masing. Secara kebetulan mimpi tersebut isinya sama.

Sementara Noa Talo, sang anjing kesayangan, melolong tanpa henti di luar rumah. Pasangan ini menyiapkan peralatan tajam untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh. Ternyata saat berada di luar rumah, sang anjing sedang berada di samping sosok mayat, yang tidak lain adalah Jawu, anak mereka yang hilang. Tangis pun pecah dan menandai duka dalam keluarga ini. Kata-kata dalam bentuk tangisan itulah yang melahirkan syair Vera, yakni sebuah lamentasi atas kepergian Jawu anak mereka. Sementara gerakan yang menyerupai tarian yang diperoleh melalui mimpi yang diterima Sawu dan Walu itulah yang menjadi gerakan tarian Vera sekarang.

Kata Vera sendiri berasal dari kata pera yang berarti menunjukkan atau mengarahkan. Dalam perkembangan kebudayaan Rongga tarian Vera kemudian digunakan untuk memperingati arwah orang yang sudah meninggal. Tarian ini diadakan setelah hari kematian hingga acara penguburan. Ritual yanga sama dilakukan setiap kali keluarga dalam sebuah rumah adat mengadakan pesta kematian anggota keuargan yang dalam adat Rongga disebut wela kamba (acara pengurbanan kerbau). Namun, tidak semua orang meninggal yang dipestakan diperingati dengan tarian ini. Vera hanya berlaku bagi orang terhormat atau tetua adat yang berasal dari suku tertentu dan rumah adat tertentu atau Sao Vera.

Jalannya Tarian Vera

Tarian ini diawali dengan upacara dalam rumah adat sebagai ritus pembukanya, berupa nggore nggote, yakni memukul gendang dan gong sepanjang hari dan pada malam hari akan dikuti dengan tora loka, ritus untuk mengusir kekuatan jahat yang menghalangi jalannya acara Vera. Setelah ritus ini dilakukan barulah tarian vera secara resmi dimulai.

Peserta tarian ini adalah kaum lelaki dan perempuan. Bila Vera dilakukan pada acara wela kamba maka yang melakukan tarian ini hanya pihak keluarga inti suku yang bersangkutan dengan pasangannya masing-masing. Tarian ini dipimpin oleh seorang yang disebut noa lako. Peserta perempuan berdiri berjejer sambil menyilang tangannya kiri dan kanan memegang tangan peserta lain. Peserta yang berada di barisan paling depan disebut ana ulu, sementara peserta di bagian paling akhir disebut ana eko.

Mereka menjalankan tarian ini secara bersamaan sambil menyilang kedua tangannya  dan memegang erat peserta lainnya diiringi gerakan di tempat sambil sesekali berjingkrak ke arah kanan, mengelilingi loka vera (lokasi Vera) sebanyak tujuh kali. Sementara peserta lelaki berada di belakang peserta perempuan mengikuti pergerakan perempuan dengan berjalan sambil menyanyikan sejumlah lirik Vera yang nantinya diikuti sahutan pihak perempuan dan berlanjut dengan koor panjang yang sedap terdengar.

Biasanya dalam setiap Vera selalu diawali dengan nyanyian berupa syair yang menceritakan silsilah nenek moyang dan asal usulnya. Setiap suku memiliki syair pembuka yang berbeda-beda sesuai dengan tata urutan nama nenek moyangnya masing-masing. Suku Motu, misalnya, memiliki syair pembukaan sbb:

Weka Ture Ndhili Mai //Weka dan Ture dari seberang sana

Tu Monggo Sari Kondo //Datang dan menetap di Sari Kondo

Weka Welu Jawa Ture //Weka meninggalkan Ture di Jawa

Saka tolo longgo ngembu //Ture menunggangi punggung Lumba-lumba

Tei Motu Tanah Medzdhe //Temukan tanah nan luas bagi suku Motu (terjh. bebas)

Selanjutnya nama-nama nenek moyang generasi berikutnya hingga orang yang meninggal dan dipestakan disebut satu per satu dalam sebuah nyanyian putik secara silih berganti oleh perempuan dan laki-laki. Para peserta tarian akan mengelilingi loka Vera dalam satu adegan sebanyak tujuh kali. Dalam acara nggua medzhe (pesta kematian tetua yang disertai dengan ritual pengurbanan kerbau dan babi) syair pembukaan yang berisisi silsilah nenek moyang dinyanyikan dan para peserta biasanya terletak di tengah-tengah loka Vera

Setelah Vera berlangsung, pihak Ana Fai ( Kerabat perempuan dari suku pemilik hajatan) melakukan ritual pemotongan babi (Wela Wawi) yang kemudian berlanjut dengan ritual  pemotongan kerbau (Wela Kamba) oleh pihak Ana Haki kerabat lelaki dari keluarga pemilik hajatan. Penyembelihan kerbau atau babi hanya dilakukan sekali ayunan parang atau tombak. Biasanya dengan satu ayunan saja kerbau maupun babi yang disembelih akan mati. Hal ini terjadi jika yang melakukannya adalah pihak yang memiliki ikatan darah langsung (Ana Haki dan Ana Fai) dari keluarga yang menggelar hajatan. Bila yang menyembelihkan bukan orang yang tepat berdasarkan pertalian darah, maka babi dan kerbau yang disembelih tidak akan mati atu sulit untuk mati. Biasanya bila hal ini terjadi akan selalu diikuti dengan bencana bagi si pelaku hingga meninggal dunia.

Ada dua jenis Vera, yakni Vera Sarjawa dan Vera Hai Melo. Vera Hai melo adalah vera syukuran, terbagi dalam beberapa bagian lagi. Sementara Vera Sarjawa adalah Vera duka yang berisi syair-syair magis sebuah suku. Jalannya masing-masing jenis Vera ini hampir sama dengan lyricknya yang berbeda-beda. Setiap lyric biasanya selalu muncul dari refleksi dan persentuhannnya dengan lingkungan dan alam sekitarnya, lalu dibahasakan dengan menggunakan perumpaan atau perbandingan. Kepiawaian menciptakan syair vera muncul dan terlontar secara spontan dalam acara Vera.

Biasanya mereka yang pandai merangkai kata selalu menjadikan Vera sebagai ajang mengadu gagasan dan  dipakai sarana kritik sosial dalam kehidupan masyarakat, yang disebut pele, yakni sindiran-sindiran terhadap kehidupan pribadi seseorang atau kampung tertentu. Salah satu contoh, untuk memperhalus kritikan untuk pasangan yang doyan berselingkuh, misalnya:

Eo seeko eo edzho Seekor //Kucing yang senatiasa dibawa-bawa

Woe ne Bheku   // Berteman dengan musang

Sekombe woe welu    // Berrduaan semalaman lalu dilepas

Di kalangan muda-mudi Vera menjadi ajang percintaan. Kata-kata rayuan muncul dan dinyanyikan tanpa melukai perasaan yang lain. Kritikan atau sindiran kerap muncul dalam acara Vera. Kegelisahan seorang perawan tua yang terjawab dengan kedatangan seorang kekasih, misalnya, tercetus dalam ungkapan Vera:

Heu lau Tedu// Pohon pinang di Tedu

Wunu penggu melu// Daunnya layu –kering kerontang

Sadho wara angi// Ditiup angin

Oh wunu ngeta wali//Ternyata daunnnya kembali menghijau (Terjemahan harafiah)

Ungkapan ini menggambarkan kegelisahan seorang gadis yang menanti pria pujaan hati namun tak kunjung datang. Dalam penantian itu, ia cukup menghabiskan energi dan pikiran sehingga turut memengaruhi auranya yang tampak begitu kusam dan kering. Namun, setelah memperoleh kekasih semangatnya bangki kembali dan wajahnya pun kembali berseri.

Nyanyian puitik Vera biasanya berasal dari pengalaman kehidupan harian dan persentuhan dengan pengalaman real masyarakatnya. Ia bersifat dinamis, tetapi tetap mematuhi pola dan kaidah dalam merajut ugkapan layaknya patun yang menggunakan pola rima tersendiri. Karena itu nyanyian Vera bisa disusun demi membahasakan suatu maksud atau tujuan sesuai dengan konteksnya. Seorang Rongga yang maju dalam kancah politik, misalnya, ia bisa menggunakan Lyrick Vera untuk menarik minat calon pemilih.

Kampanye pemilihan Bupati Manggarai Timur, tahun 2008 lalu, misalnya, pasangan Joseph Totte=Andreas Agas menyuguhkan puisi dari bahasa Rongga ciptaan Pak Yohanes Nani, seperti berikut:

Kolo Sa Toko Adzhe Satembu

Kesa kele mbere Kesa// (Orang Kepo) membawa mbhere (tas kecil tradisonal)

Mau sambu lau mau// Ketemu orang Rongga di  mau (pantai)

Rongga dhoi oka Orang//Rongga membawa kapur siri

Mau Sambu lau mau// Di mau (pantai) kita bertemu


Wula ndheka lima zdhua// Di  bulan tujuh

Kita sambu lau mau// Kita bersua lagi di pantai

Indhi fato dhai sa dhalo// Bawa bekal satu dhalo (katong)

Ramba mae lama walo// Supaya jangan cepat pulang

Kali mesa dhai ghena //Gali mesha (tuba) lebih banyak

Ange spe ika medzhe// Siapa tau dapat ikan kakap


Borong Kota Komba// Borong dan Kota Komba

Ndi’i remo sa loa //Satukan hati

Ramba tena sosa// Mengawal

Lau lo’a YOGA //Kesuksesan YOGA


Elar Sambi Rampas// Elar Sambi Rampas

Reje la’a sama // Berjalanlah bersama

Lambaleda Ranaka// Lambaleda dan Poco Ranaka

Kita ngai napa// Kami menantimu

Kele mbhere medzhe// Bawalah tas besar

Ramba na’a kima bhara// Untuk simpan kima (kerang) putih

Ngande lako bebe nao // Semua hasil laut

Papa poe one kima fose //Bercampur-aduk dalam kerangyang berlimpah

Mai bhate nengge wai //Datanglah semua simpatisan

Bhodha wele      // Maunya dukung (Yoga)

one wula kapu embe// Bak ibu  yang baru melahirkan selalu ngidam makanan laut

Puisi ini mengambil setting latar kehidupan bahari orang Rongga, yang gemar memburu makanan laut, seperti kerang, ikan, dll. Jejak kebudayaan bahari itu coba diangkat ditampilkan dengan tujuan bukan menyentuh hati orang Rongga saja, tetapi menggugah hati semua orang Kolor, Wolos, Kepo-Rajong dan Manus di wilayah Kota Komba yang sejak dahulu kala menyebut orang Rongga dengan istilah Rongga Kima.

Puisi ini membuat orang Rongga terperangah lantas berpengaruh pada dukungan bagi pasangan Yoseph Totte-Andreas Agas pada pilkada Manggarai Timur pertama yang menghantar pasangan itu keluar sebagai pemenang.

Sayang belakangan tak banyak lagi generasi muda orang Rongga yang mampu menggubah pengalaman realnya dalam lyric-lyric Vera. Pengaruh kebudayaan modern membuat unsur kebudayaan ini mulai terdesak dan kehilangan pengaruhnya. Sementara sanggar-sanggar kebudayaan Rongga yang didirikan atas prakarsa Forum Masyarakat Rongga, lebih bertendensi untuk membangun pencitraan bahkan pemujaan terhadap sosok tertentu.

Lametasi Vera Dalam Ritual Jumat Agung

Hingga saat ini belum ada upaya untuk mementaskan Vera secara luas di luar acara peringatan kematian atau pesta kematian. Akibatnya banyak generasi muda yang tak menguasai tarian ini serta nyanyian puitiknya. Upaya untuk melestarikan tarian ini sempat dilakukan Pastor Paroki Kisol, Rm Eduardus Jebarus, Pr (1994) dengan memasukkannya ke dalam ritus liturgi Juma’t Agung.

Dalam ritus inkulturatif itu, pada setiap perhentian jalan salib diadakan kepok dalam bahasa Rongga. Sementara pada acara puncak sore hari diadakan nggore nggote, yang dikuti dengan nyanyian puitik Vera berisil silsilah Yesus Kristus, lalu disusul dengan ungkapan-ungkapan Vera yang melukiskan pengalaman jalan salib Yesus Kristus. Pada perhentian keduabelas, dimana Yesus Wafat dan disalibkan, dinyanyikan ‘ tangi jo”  atau lamentasi/ratapan.

Yesus… wolo mesu ana embu// Yesus karena kasihmu pada anak-anakmu

Sa’a panggo mbiwa talo// Panggul Salib tanpa menyerah

Tau koso raja woso //Demi menanggung dosa anak-anakmu


Yesus… ramba mesu ana embu //Yesus demi kasihmu pada anak-anakmu

Lo mbojo ngai to’o //Peluh dan lelah dibawah  berlari

Ele ngodo mbiwa poso // Meski jalan terjal menantang

Ramba sai zhele Kalvari//  Kau taklukkan Kalvari


Jumat ledzha zdhale// Jumat sore itu

Ine Maria rita mbeti ate// Bunda Maria menangis

Ngedo tombo mbala wa’a// Menyaksikan tubuhmu tergeletak

Yesus ana mori ngara// Yesus Putera Bapa

Mata … pongga ne’e ata// Kau  Mati disiksa


Wai ndha ine mbala //Dalam kepasrahan

Pale ulu ana ndu// Bunda Maria Menyaksikan penderitaan puteranya

Kapu pa’a ana mbama // Memangku puteranya yang tak bernyawa

Ngeti ngai ana dhahdi// hingga mati di pangkuannya

Ramba lasa sala ata //Demi menebus dosa manusia

Saya sendiri sempat menyaksikan ritus Jumat Agung di paroki Kisol, tahun 1994. Ritus inkulturatif itu sontak membuat semua pemeluk Katolik Rongga merinding apalagi kisah sengsara Yesus langsung menyentuh jatung dan kepekaan bahasa asli Rongga.Sayang, setelah Rm Edu Jebaru, Pr pindah, tak satu pun pastor pengganti yang berusaha menghidupi Vera dalam ritus Jumat Agung. Padahal tarian keramat ini bisa menjadi medium pewartaan iman Katolik yang tepat bagi orang Rongga! Diharapkan Gereja bisa memikirkan hal ini secara serius untuk penghayatan iman umat di wilayah Rongga!!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: