Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ody Dwicahyo

Just read my notes and you will understand who i am :)

Renang, Berenang, Kolam Renang

OPINI | 23 April 2011 | 19:08 Dibaca: 333   Komentar: 0   0

Be-re-nang, olahraga yang sangat akrab dengan kita sebagai masyarakat negeri kepulauan. Negara yang didominasi oleh perairan ini memang sudah sewajarnya akrab dengan urusan renang. Ada banyak hal yang membuat kita dekat dengan berenang. Pertama, secara geografis posisi Indonesia berada di bawah bentangan khatulistiwa yang cenderung membuat kita sering panas dan lembab, ini menjadi alasan paling empuk mengapa orang Indonesia sering kali berenang.

Kedua, Iklim tropis membuat kita tak miskin air. Tinimbang Australia yang kaya tapi kering , kita sebagai negara sederhana tapi basah tentu memiliki kebanggaan tersendiri dalam mengadakan sarana-sarana yang berhubungan dengan air. Jangankan kolam renang, kolam ikan, air mancur, air terjun buatan, empang, waduk, kali, bahkan tukang air ada dimana-mana.

Ketiga, Negara yang berkondisi tak pernah stabil membuat kita cepat “panas”, membuat kita senang berurusan dengan air. Mandi menjadi lebih sering, Minum semakin banyak, Wudhu semakin Khusyuk dan tentu Berenang semakin menjadi kewajiban.

Sarana dan prasarana didalam urusan renang di Indonesia sudah lebih dari cukup, Kolam renang bertema Water Park yang membandrol harga ratusan ribu rupiah sekali masuk hingga kali atau empang yang menganga dan selalu gratis untuk diceburi tersebar dimana-mana. Kursus berenang terbuka dengan lebar, dari mulai yang satu guru dan 59 murid hingga yang privat bisa dilakukan,

Penjualan peralatan renang bahkan mencapai kondisi yang membanggakan. Dari mulai dekat kolam renang hingga tempat-tempat yang sama sekali tidak identik dengan kolam renang sering menyediakan peralatan renang seperti di lampu merah.

Berenang bahkan mampu menjadi suatu tujuan liburan keluarga, diawali dengan kegiatan renang dan diakhiri dengan kegiatan subsidiary lainnya yang pada dasarnya masih berkaitan dengan renang itu sendiri. Makan dipinggir kolam renang, foto berlatar kolam renang, membeli merchandise berlogokan kolam renang atau bahkan menjahili Bibi dengan menceburkannya ke kolam karena ia tidak pernah mau berenang.

Berenang bahkan tidak hanya hadir sebagai sarana wisata, berenang hadir sebagai sarana lain seperti pengobatan anak dengan keterbelakangan mental yang dilakukan bersama lumba-lumba atau bahkan berenang sambil bernegosiasi seputar urusan bisnis.

Berenang dan tempatnya, Kolam Renang pula telah ikhlas di-ameliorasi dan peyorasikan. Tanpa kita sadari, bahkan kita sering tidak senang mendengar kata “Renang” dan “Kolam Renang” Seperti pada kasus seorang ibu yang akan begitu ketar-ketir kalau mendengar putrinya selalu berpacaran dengan cowoknya sambil berenang, bahkan kita tidak akan pernah setuju dengan kehadiran kolam renang di gedung baru DPR bukan ?.

Disisi lain, kita dapat menjadikan kata “Renang” yang diasosiasikan sebagai sebuah pencapaian. “Anakku sudah bisa berenang sekarang !”, “Rumahmu ada kolam renangnya kan, kaya dong ?”, “Indonesia juara renang !”.

Bahkan kalau kita percaya bahwa nenek moyang kita seorang pelaut, maka tidak akan mungkin mereka tidak bisa berenang. bahkan renang mungkin salah satu olahraga tua di negara kita.

Renang adalah fenomena sosial menurut saya, sebuah perpaduan antara manusia,air,kaporit, dan kencing anak kecil yang menjadikannya sebuah sarana penghibur. Renang adalah saluran mobilitas sosial bagi Richard Sambera dan Victor Glenn, Renang bahkan menjadi salah satu alasan mengapa kita menolak gedung baru DPR, Renang pula menjadi lembaga sosial yang walaupun bersifat subsidiary tetapi mampu memenuhi kebutuhan yang begitu abstrak. Kebutuhan akan kesehatan, wisata, bonafiditas, profit dan banyak hal.

Dari Renang pula kita belajar, yang memiliki kemampuan akan tetap melaju di permukaan sementara yang tidak bisa akan tenggelam, sebagaimana hidup ini apa adanya. Dari Renang pula saya akan bertanya kepada anda,

Mau Berenang ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: