Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mukhlisuddin Marzuki

Seorang Santri Dayah Tradisional di Aceh, yaitu Dayah MUDI MESRA. yang ingin brselancar di dunia selengkapnya

Dampak Media Televisi terhadap Psikologi Masyarakat

OPINI | 23 April 2011 | 18:21 Dibaca: 3507   Komentar: 2   0

Ketakjuban paling baru dalam peradaban manusia abad ini muncul tatkala globalisasi teknologi informasi menyerbu ke seluruh pelosok dunia. Nyaris seluruh denyut-denyut perkembangan di mana pun di muka bumi ini bisa disaksikan lewat siaran jaringan televisi. Karena televisi merupakan salah satu pioner dalam penyebaran informasi yang menggunakan satelit dan kini menjadi media informasi yang terus berkembang pesat.

Memiliki televisi pada zaman sekarang ini bukanlah suatu hal yang luar biasa, karena sudah banyak teknologi lain yang dimiliki orang dan lebih canggih daripada televisi. Saat ini dapat dikatakan bahwa hampir setiap rumah tangga telah memiliki pesawat televisi

Dapat dikatakan bahwa televisi sebagai media yang muncul belakangan dibanding media cetak dan radio, ternyata memberikan nilai yang sangat spektakuler dalam sisi-sisi pergaulan hidup manusia saat ini. Kemampuan televisi dalam menarik perhatian massa didukung oleh beberapa hal, yaitu: pertama, televisi memiliki keunggulan sebagai media yang dapat didengar (audio) dan dapat dilihat (visual) karena mempunyai gambar. Gambar yang muncul pada televisi bukan gambar mati melainkan gambar hidup yang dapat menimbulkan kesan yang mendalam pada penonton. Selain itu, televisi dapat diletakkan di sudut ruangan sehingga pemiliknya dapat menikmati siarannya lebih santai dan nyaman.

Keunggulan lain televisi adalah dapat merangsang seluruh alat indra manusia dan merubah persepsi sehingga pada akhirnya mempengaruhi perilaku pemirsa. Hal yang sama disampaikan Mar’at sebagaimana dikutip Rousydy bahwa umumnya acara televisi dapat mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan-perasaan penonton, sehingga pesan-pesan yang disampaikan sangat mudah mempengaruhi emosional pemirsa dimanapun berada.

Media televisi sebagaimana media massa lainnya berperan sebagai alat informasi, hiburan, kontrol sosial dan penghubung wilayah secara geografis. Bersamaan dengan jalannya proses penyampaian isi pesan televisi kepada pemirsa, maka isi pesan juga akan diinterpretasikan secara berbeda-beda menurut visi pemirsa. Hal tersebut terjadi karena tingkat pemahaman dan kebutuhan pemirsa terhadap isi pesan acara televisi berkaitan erat dengan status sosial ekonomi serta situasi dan kondisi pemirsa pada saat menonton televisi. Sebab itu, pengaruh yang ditimbulkan televisi bagi pemirsa juga beraneka ragam, bisa berpengaruh ke arah yang positif dan sebaliknya bisa juga berpengaruh negatif, hal tersebut tergantung kepada selektifitas pemirsa dalam memilih dan mempergunakan informasi yang disampaikan televisi.

Terapan selektifitas dalam memilih acara siaran televisi sangat erat kaitannya dengan karakteristik khalayak (pemirsa), seperti jenis kelamin, pendidikan, usia, agama dan budaya. Sebagaimana dijelaskan Depari dan MacAndrews bahwa variabel-variabel seperti jenis kelamin, umur dan pendidikan turut menentukan selektifitas seseorang terhadap media yang ditawarkan. Wright mengatakan bahwa terapan selektifitas adalah suatu hasil sampingan karakteristik sosial para khalayak (pemirsa).

Secara teoretis, Kuswandi mangatakan bahwa ada tiga dampak yang ditimbulkan acara televisi terhadap khalayak (pemirsa), yaitu:

1. Dampak kognitif, yaitu kemampuan pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.

2. Dampak peniruan, yaitu pemirsa dihadapkan pada model yang sedang aktual sehingga pemirsa ikut-ikutan untuk mencontohnya.

3. Dampak prilaku, yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para pemirsa.

Berdasarkan pendapat Kuswandi, timbul pro dan kontra terhadap dampak acara televisi, yaitu:

1. Acara televisi dapat mengancam nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat.

2. Acara televisi dapat menguatkan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat.

3. Acara televisi akan membentuk nilai-nilai sosial baru dalam kehidupan masyarakat.

Terlepas dari pengaruh positif atau negatif, pada intinya media televisi telah menjadi cermin budaya tontonan bagi pemirsa dalam era informasi yang semakin berkembang pesat. Hal yang dikhawatirkan dari paket acara televisi yaitu pengaruh yang dapat menjadikan perilaku pemirsa ke arah yang cenderung negatif. Selain itu, televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saja, akan tetapi saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batas usia. Banyak paket-paket acara televisi yang layaknya dikonsumsikan orang dewasa, ternyata ditonton oleh anak-anak.

Salah satu siaran yang ditayangkan televisi dan banyak menyita perhatian penonton adalah siaran ilustrasi kriminal, yaitu sebuah tayangan yang berkaitan dengan rekonstruksi yang diilustrasikan seorang model tentang kejadian tindak kriminal. Ilustrasi kriminal ditayangkan di televisi seperti di SCTV dengan nama acara Derap Hukum, di Lativi dengan nama acara Eksekusi, di TPI dengan nama Sidik Kasus, di Anteve dengan nama Fakta dan di Trans TV dengan nama Jelang Siang.

Masyarakat mempunyai penilaian yang berbeda mengenai nilai siaran rekonstruksi kriminal yang ditayangkan pada televisi. Ada yang menilai siaran tersebut sangat menarik dan dapat menjadi bahan pelajaran untuk mengantisipasi terjadinya tindak kriminal lainnya. Ada juga yang menilai siaran tersebut dapat menimbulkan kejahatan baru yang tidak diinginkan, karena seseorang dapat mencontoh adegan-adegan yang ditayangkan.

Berdasarkan pengamatan penulis, rekonstruksi kriminal yang ditayangkan televisi telah memberikan dampak buruk bagi masyarakat kecamatan Medan Amplas. Dampak buruk yang dimaksud seperti terjadinya beberapa kali tindak kriminal pencurian berencana di sebuah mini market di Simpang Limun. Pencurian tersebut dilakukan anak-anak yang berumur 10-13 tahun yang mengakibatkan para pelaku digiring ke kantor polisi dan dimasukkan ke dalam penjara. Para tersangka mengaku bahwa ide tindakan kriminal yang mereka lakukan diilhami dari siaran ilustrasi kriminal yang mereka tonton di televisi.

Dampak buruk siaran ilustrasi kriminal yang ditayangkan televisi tidak hanya mempengaruhi kondisi psikologis anak-anak. Siaran tersebut juga mempengaruhi kondisi psikologis masyarakat secara umum. Sejumlah masyarakat merasa waswas, khawatir, cemas dan takut, jika adegan tersebut akan dicontoh seseorang untuk melakukan tindak kriminal. Uraian yang telah dijelaskan merupakan indikator bahwa siaran ilustrasi dapat mempengaruhi perilaku pemirsa. Fenomena yang disebutkan di atas merupakan salah satu indikator bahwa siaran ilustrasi kriminal memberikan dampak negatif bagi psikologi masyarakat.

Tags: aqienmudi

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Inilah (Bocoran) Kunci Jawaban UN SMA 2014! …

Mohammad Ihsan | | 17 April 2014 | 09:28

Kapal Feri Karam, 300-an Siswa SMA Hilang …

Mas Wahyu | | 17 April 2014 | 05:31

Tawuran Pasca-UN, Katarsis Kebablasan …

Giri Lumakto | | 17 April 2014 | 09:09

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 4 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 4 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 5 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 5 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: