Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ancha Hardiansya

Selalu cemburu pada alam

Pelacur dan Kartini

OPINI | 21 April 2011 | 06:33 Dibaca: 115   Komentar: 1   0

Hari ini di saentero negeri, orang-orang merayakan hari lahirnya Kartini. Tokoh perempuan yang telah mengangkat derajat wanita lebih tinggi dan bisa sejajar dengan kaum lelaki. Gagasannya yang paling melekat adalah emansipasi wanita, yang saat ini dimana-mana menjadi acuan kaum wanita dalam menjamur di kehidupan pria.

Saya sendiri tidak terlalu berlebihan dalam melihat hari ini. Bagi saya tidak ada yang begitu istimewah dengan 21 April ini. Tak lebih hari ini hanyalah hari lahirnya Kartina, seorang pelacur yang saya kenal beberapa waktu lalu. Mungkin akan lebih terasa 21 April jika merayakan dengan dia.

Tidak ingin bersikap terlalu skeptis dengan Kartini yang telah menjadi Ibu dan pahlawan negeri ini. Seperti yang telah ditetapkanĀ Presiden Soekarno dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang mengakui Kartini sebagai pahlawan kemerdekaan dan menetapkan 21 April sebagai hari untuk mengenangnya.

Bagi saya dia memang berjasa, tetapi tidak lantas harus diperingati secara berlebihan. Hari ini di Makassar, jajaran Polisi Daerah (Polda) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat memperingati hari Kartini dengan menggelar upacara di Lapangan Rumah Sakit Bhayangkara. Penghormatan dilakukan dilanjutkan dengan acara makan-makan.

Istri-istri pejabat berdatangan, ditambah dengan menghadirkan dharma wanita polri dibawah asuhan Istri Kapolda Sulselbar. Simbol-simbol perjuangan Kartini di pamerkan. Kebaya kebesaran yang selalu ia kenakan, kembali menjadi trend saat ini, mungkin hanya akan bertahan seminggu.

Koran, majalah, radio hingga televisi tidak luput dari bahasan topik ini. Memperingati Hari Lahirnya Ibu Kita Kartini. Saya tak habis pikir ketika hari lahirnya Cut Nyak Din dan beberapa pejuang lainnya tidak semeriah dengan pembahasan tentang Kartini. Bahkan untuk membahasakan terlalu jauh Kartini, di munculkan Kartini-Kartini masa kini.

Tak pelak, ibu-ibu menteri, gubernur wanita dan pejabat-pejabat wanita lainnya menjadi incaran wawancara perihal memaknai hari ini sebagai hari lahirnya Kartini. Dengan lugas, bercambur sedikit rasa bangga karena disandangkan predikat Kartini masa kini, mereka-mereka berbicara tentang wanita. Tidak salah, itu wajar.

Yang tak wajar menurut pandangan saya, adalah keterlupaan kita tentang sosok Kartina. Pelacur yang selama ini dianggap sampah masyarakat. Dia juga pahlawan negeri ini. Jika Kartini dengan gagasannya, Kartina mengabdi kepada negara dengan tubuhnya, perbuatannya dan segenap kemampuannya.

Dia menyumbang banyak devisa kepada negara. Pajak-pajak dari pengusaha yang selama ini malas bayar pajak, Kartina pungut dipinggir jalan. Begitu juga dengan hasil korupsi pejabat negara, Kartina tampung lalu kembali disumbangkan kenegara sebagai imbalan penjualan tubuhnya. Pajak Kartina sekali pakai cukup tinggi, sehingga wajar dia juga dimaknai.

“Saya bukan Kartini, saya Kartina, hanya mata lelaki yang melirik ku, saya bukan acuan wanita-wanita, tapi jangan buang aku dijurang tak bercahaya, karena aku wanita Indonesia juga,” kata dia suatu waktu.

Terlalu naif memang jika harus meberikan posisi terhormat kepada Kartina. Dan tentu tidak akan bisa disejajarkan dengan Kartini. Tetapi tidak salah juga, jika kita memandang mereka sebagai Kartini-Kartini masa kini yang juga punya andil dalam membangun bangsa, walau dengan cara kurang wajar. Waktu dan kesempatan kata orang-orang bijak yang membedakan kita.

Selamat Hari Kartini dan Selamat Ulang Tahun Buat Kartina

Salam dari Makassar

Tags: kartini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 10 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 11 jam lalu

Stttā€¦ Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Bersih Dusun Playen I dan II dari Kirab …

Tulus Jokosarwono | 7 jam lalu

“Ketika Rintik Hujan Itu Turun di …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Inilah Pemenang Blog Reportase Test Ride …

Kompasiana | 8 jam lalu

Taman Lalu Lintas Bandung yang Sepi …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Teawalk: Olahraga Sederhana yang Menyehatkan …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: