Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

L Sherly

Just an ordinary girl with special character.

Lebih Murah di Negara Sana

OPINI | 20 April 2011 | 15:58 Dibaca: 312   Komentar: 0   1

Saya selama ini belum pernah bepergian ke daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga, selama ini saya hanya mengetahui kondisi daerah perbatasan melelui media-media di sekitar saya terutama berita-berita di internet.  Berita-berita yang saya ketahui sampai saat ini adalah tentang minimnya sarana dan prasarana di daerah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga.  Dan bagaimana para masyarakat Indonesia disana yang lebih mengenal budaya negara tetangga dibanding negaranya ; yakni Indonesia sendiri.

Salah satu yang saya cermati adalah bagaimana pelayanan kesehatan yang tersedia di daerah perbatasan tersebut.  Bagaimana masyarakat disana dapat secara lumrah mendapat kewarganegaraan dari negara tetangga dengan mudahnya, karena pelayanan kesehatan yang mereka jalani.  Pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan Indonesia sangat tidak memadai.  Wilayahnya yang luas dan sulit terjangkau kendaraan, dan tenaga kesehatan yang sangat minim.  Mereka (masyarakat Indonesia daerah perbatasan) memilih mendapatkan pelayanan kesehatan dari negeri seberang (contoh : kondisi masyarakat Indonesia di pulau kalimantan), dan tentunya sebagian dari mereka juga memilih untuk bersalin/melahirkan di RS Malaysia yang jauh lebih dekat, terjangkau, dan fasilitsanya memadai.  Itu sebabnya sudah umum bagi masyarakat Indonesia di daerah perbatasan memiliki dua kewarganegaraan dalam satu keluarga.

Saya sebagai salah satu tenaga kesehatan merasa miris akan hal ini.  Disini, di pulau Jawa banyak para tenaga medis dan tenaga kesehatan berlomba-lomba menjadi Pegawai Negeri Sipil untuk kabupaten-kabupaten atau kota di salah satu provinsi di pulau Jawa ini.  Mereka memperebutkan posisi yang prosentasenya kecil.  Banyak dari mereka yang mengalami kegagalan dalam penerimaan CPNS.  Dalam benak saya terlintas sebuah pemikiran, kenapa tidak mentransferkan saja tenaga kesehatan dan medis dari pulau Jawa ini (yang jumlahnya sangat banyak, dan sebagian dari mereka ; dan juga saya menginginkan jabatan sebagai Pegawai Negeri Sipil) untuk daerah-daerah kurang maju deperti daerah-daerah perbatasan?  Tentunya nanti peluang kami menjadi Pegawai Negeri lebih besar, karena tentunya masih banyak daerah-daerah perbatasan yang membutuhkan jangkauan pelayanan kesehatan.  Dan kemudian arti dari “Pegawai Negeri” bisa terlaksanakan dengan baik, yaitu bekerja demi kemajuan negeri.  Bukan semata-mata hanya mengidolakan gaji tetap seumur hidup.

Paragraf diatas adalah ide saya tentang menambah tenaga kesehatan dan medis di daerah perbatasan. Dan tentang sarananya tentunya pemerintah dan pemerintah daerah sangat perlu mengembangkan/membangun pusat pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit di daerah-daerah perbatasan.  Karena dengan ditambahnya tenaga medis dan kesehatan tetapi sarana dan prasarananya tidak mencukupi, sama saja dengan neraca yang tidak seimbang.  Jalan menuju rumah sakit dan puskesmas juga perlu diperbaiki.  Dan yang lebih utama adalah mendirikan pusat pelayanan kesehatan yang lebih terjangkau oleh masyarakat. Selain terjangkau lokasinya, juga terjangkau harganya.  Sehingga masyarakat Indonesia disana akan lebih memilih berobat di RS milik negaranya sendiri.  Bukankah sangat tidak lucu ketika masyarakat Indonesia menyebut pelayanan kesehatan di negara tetangga lebih murah dibanding pelayanan kesehatan di negaranya sendiri.

Tentunya itu semua tidak akan tercapai manfaat baiknya jika tidak didukung oleh masyarakat setempat.  Penyuluhan-penyuluhan masih harus dan tetap dilakukan secara berkelanjutan.  Disamping itu perlu juga disisipkan rasa nasionalisme pada masyarakat daerah perbatasan, dan pengenalan-pengenalan tentang wilayah Indonesia.  Dan yang utama sudah pasti diperlukan adalah biaya dari pemerintah untuk perbaikan-perbaikan pelayanan kesehatan tersebut.

Selama ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perbatasan seperti dianak-tirikan kemajuannya.  Bukan hanya dari segi kesehatan saja, dari segi pendidikan, transportasi, pengadaan jalan, dan lain-lain.  Padahal daerah perbatasan sangat potensial sebagai jalur keluar-masuknya turis asing.  Bisa juga daerah perbatasan dijadikan obyek wisata alam.  Seperti di daerah Kalimantan yang kaya akan sungai-sungainya yang indah, hutan hijaunya yang segar, dan adat suku dayak yang unik sebagai daya tarik keragaman Indonesia yang patut dikagumi.  Tapi keindahan-keindahan itu hanya akan terkubur di batas saja, apabila tak ditarik keluar (diperlihatkan).

Coba saya sebutkan beberapa contoh daerah pariwisata di Indonesia yang sudah banyak diketahui oleh warga negara lain; Bali, Pulau Komodo, D.I.Yogyakarta, Borobudur, Kepulauan Laut Wakatobi.  Bukankah akan lebih baik lagi kalau daerah Kalimantan yang masih molek keindahan alamnya juga menjadi daerah wisata?  Tentunya selain memajukan masyarakat dan daerah Kalimantan, akan menambah devisa negara juga nantinya.

Sebaiknya tindakan-tindakan menjaga dan memajukan daerah perbatasan sangatlah perlu dilakukan sedini mungkin.  Selain menjaga potensi alam yang bisa sewaktu-waktu diaku secara sepihak oleh negara tetangga, juga merawat dan menyadarkan nasionalisme masyarakat di daerah perbatasan yang rawan oleh pengikisan kebangsaan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 13 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 14 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 14 jam lalu

Ini Pilihan Jokowi tentang Harga BBM …

Be. Setiawan | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 8 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Marah, Makian, Latah. Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | 9 jam lalu

Tentang “Tuhan Membusuk” …

Lintang Mahindra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: