Artikel

Sosbud

Usman Hasan

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seorang yang mengembara mencari...mencari... terus dan belajar terus sampai akhir hayat

Kebaya Lenggak Lenggok


OPINI | 20 April 2011 | 19:21 Dibaca: 43   Komentar: 9   Nihil

Di kantor-kantor pemerintah didaerah saya lagi sibuk dengan berbagai kegiatan dalam menyambut hari kartini. Ada yang melakukan lomba membuat kue tart, ada pula yang mempersiapkan lomba kebaya lenggak-lenggok, ada yang melakukan latihan tari. Pokoknya kegiatan padat.

Saya jadi berpikir, mengapa ibu-ibu pejabat bukan turun ke kampung-kampung mengajari ibu-ibu yang sebahagian masih buta huruf, atau memberikan ketrampilan kepada ibu-ibu di pulau-pulau kecil, misalnya ketrampilan membuat abon ikan agar kesejahteraan kaum perempuan semakin meeningkat

Pernah teman saya yang menjadi aktifis perempuan memberanikan diri berkata kepada isteri bupati agar sesekali turun ke kampung-kampung melakukan kegiatan  bermanfaat untuk ibu-ibu, si isteri bupati hanya berkata : rugi lah, masak tas harga jutaan, sepatu buatan luar negeri hanya dipakai masuk keluar kampung berlumpur.

Yang mengherankan, sebab ibu-ibu pejabat merayakan hari Kartini, sementara mereka tidak memahami apa itu cita-cita Kartini, apa yang diperjuangkan, siapa yang diperjuangkan. Kartini pasti tidak pernah berpikir agar kelak dikemudian hari ibu-ibu Indonesia hanya sibuk dengan lomba masak memasak, kebaya lenggak lenggok. Bukan begitu dan bukan seperti itu yang ada dalam kepala Kartini, tapi bagaimana perempuan bangsanya dapat menikmati kemerdekaan, sejahtera dalam kehidupan, maju dalam ilmu dan pengetahuan.

Seorang anggota DPRD, dia perempuan, kebetulan isteri pejabat. Ketika ditanya, apa yang akan ibu lakukan untuk sesama perempuan di kampung-kampung. Jawabnya : wah sampai sekarang belum ada pengaturan dari pemerintah, belum ada anggaran untuk itu.

Nah kan ? Ternyata ia hanya memahami dirinya sebagai perempuan sesuai dengan aturan keterwakilan perempuan untuk legislatif, sementara tidak menjiwai,memaknai sebagai perempuan yang harus berjuang demi kemajuan kaumnya.

Kartini hampir seabad silam tidak pernah tahu urusan dengan istilah pengaturan pemerintah, tidak pernah memusingkan soal anggaran apakah itu APBD, APBN. Pokoknya Kartini memikirkan dan berjuang untuk kaumnya, dan untuk rakyat Indonesia agar mengalami kemerdekaan

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: