Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pagelaran Tari ‘Untukmu Penghiasku’

REP | 16 April 2011 | 05:55 Dibaca: 378   Komentar: 36   3

Jumat malam kemarin (15/04) saya berkesempatan menyaksikan sebuah pagelaran tari yang bertema Untukmu Penghiasku. Bertempat di nDalem Pujokusuman (Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa) Yogyakarta, pagelaran yang dijadwalkan mulai pukul 19.30 WIB ini nyatanya molor hingga 30 menit. Terpaksa saya dan Ika yang menjadi teman saya malam itu harus menunggu.

Akhirnya tepat pukul 20.00 WIB, pagelaran dibuka dengan alunan gamelan oleh kelompok karawitan yang kira-kira berdurasi 10 menit. Kemudian dilanjutkan doa bersama yang dipimpin oleh Kanjeng Suryo Waseso, untuk memperingati 1000 hari wafatnya KRT Pangarsobroto. Pagelaran tari ini digelar memang untuk memperingati 1000 hari wafatnya KRT Pangarsobroto yang semasa hidupnya merupakan pembina tari di YPBSM. Selain itu beliau juga tecatat sebagai PNS di Dinas Kebudayaan Propinsi DIY dan menjadi abdi dalem Kraton di Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridha Mardawa, yaitu sebuah lembaga di Kraton Yogyakarta yang mengurusi kesenian dan kebudayaan.

Dalam pagelaran ini akan ada tiga materi tarian karya Raden Sudarmo Sumekta yang akan ditampilkan. Beksan Paka atau Punakawan menjadi tarian pertama yang disuguhkan. Ditarikan oleh anak kecil bernama Jamal  - cucu alm. KRT Pangarsobroto, tarian ini dimaksudkan agar generasi penerus bisa nguri-uri kesenian Jawa seperti yang dilakukan almarhum dahulu semasa hidupnya. Tarian ini berdurasi 10 menit dan beberapa gerakan yang dilakukan menyerupai gestur salah satu Punakawan Semar.

13029319261013372149

tari Klana Topeng Gagah

Suguhan selanjutnya adalah Tari Klana Topeng Gagah yang ditarikan sendiri oleh Raden Sudarmo Sumekta. Tarian ini diadaptasi dari cerita Panji abad ke-15 yang menggambarkan Prabu Klana Sewandana yang sedang dimabuk asmara pada pujaan hatinya, Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana. Tampak sosok penari bertopeng warna merah pekat kehitaman dengan mata melotot hampir keluar dan bertampang garang sesuai dengan karakter Klana Sewandana itu sendiri. Sama seperti Beksan Paka, tarian ini kira-kira juga berdurasi 10 menit.

1302931983309171977

para penari Beksan Paba memasuki pendopo

Tarian terakhir yang menjadi puncak pagelaran ini adalah Beksan Paba, akronim dari Pangarsa Brata. Tarian ini merupakan visualisasi gending-gending gamelan yang selama ini hanya didengar melalui karawitan. Beksan Paba ditarikan oleh sembilan pria dewasa. Ketika sembilan penari ini berjalan dari luar menuju pendopo, irama gamelan yang mengiringi mirip dengan salah satu musik bregada prajurit Kraton. Dengan gagah mereka berjalan dan aroma wangi melati langsung menguar menusuk hidung. Suara gending yang mengiringi terkadang mendayu-dayu dan terkadang agak kencang penuh semangat, sangat nikmat untuk didengarkan.

13029324991128790060

seirama

Berdurasi hampir satu jam, dalam beksa ini ada babak dimana penari yang aktif hanya empat orang sementara sisanya duduk di belakang. Satu orang duduk di atas dampar bak raja (diperankan oleh Raden Sudarmo Sumekta) dan empat orang di kanan-kirinya. Kemudian ada babak dimana delapan penari aktif namun yang dua di belakang bergaya menyerupai wanita sedang mengamat-amati penari di depannya. Terkadang mereka mengeluarkan suara seperti saling berdialog layaknya dalam pagelaran wayang orang.

Setelah itu kembali empat penari aktif yang tadi duduk bergantian menari dengan gerakan-gerakan seperti bertarung, dan masih mengeluarkan dialog ala wayang orang. Dari seperti bertarung, akhirnya keempat penari itu melakukan dialog yang berupa dagelan (lelucon), mereka memeragakan adegan dolanan Jawa, Jamuran. Di bagian ini penonton mulai terpingkal-pingkal. Mereka  mengibur penonton menggunakan dagelan ala Jawa, sambil diam-diam beristirahat karena sudah menari lebih dari 30 menit.

1302932080519578029

Beksan Paba

13029321521112686657

Beksan Paba

13029322601020075296

Beksan Paba

Selanjutnya babak dimana satu penari yang tadi berlaku bak raja gantian menari sambil ber-geguritan (puisi Jawa) yang isinya puja-puji kepada wanita idaman. Saat itu beberapa penari lainnya berlaku sebagai wanita-wanita pujaan tersebut. Dalam bagian ini lagi-lagi ada yang membuat penonton terpingkal-pingkal, yaitu ketika penari itu tiba-tiba menyingkap kain salah satu penari lainnya yang berlaku sebagai wanita - dan kemudian ia berteriak genit karena kaget. Dan akhirnya mereka kembali membentuk formasi lengkap sembilan orang menari, sampai tiba-tiba mereka bersuara ala wayang orang lagi, kata yang diucapkan adalah, “Ngombeeeee….” kemudian mereka balik kanan dan mengambil air minum yang memang sudah disediakan. Pada babak akhir, sembilan penari kembali menari bersama sambil nyinden, akhirnya pertunjukkan selesai, mereka berjalan keluar pendopo kembali diiringi oleh irama seperti di awal tadi.

13029320381165156185

ini sambil nyinden lhoo…

1302932206948822769

mengambil ombenan

13029323801134453850

Raden Sudarmo Sumekta dikerubungi wartawan

Dengan selesainya Beksan Paba, maka berakhir lah pagelaran tari bertajuk ‘Untukmu Penghiasku’ tersebut. Sungguh pagelaran tersebut merupakan perpaduan antara suguhan audio dan visual yang benar-benar nikmat bagi saya.  Mata dan telinga seolah dimanjakan oleh persembahan tari-tari itu. Setelah acara ditutup, para penari yang menarikan Beksan Paba kembali naik ke pendopo dan melakukan penghormatan kepada penonton. Kemudian dilanjutkan sesi tanya jawab oleh para wartawan atau jurnalis (yang memang banyak sekali) kepada Raden Sudarmo Sumekta, sang kreator ketiga tarian.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jakarta Community Tampil Semarak di Asean …

Tjiptadinata Effend... | | 02 September 2014 | 19:52

Modus Baru Curi Mobil: Bius Supir …

Ifani | | 02 September 2014 | 18:44

Beranikah Pemerintah Selanjutnya …

Dhita A | | 02 September 2014 | 19:16

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 10 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Anies Baswedan Sangat Pantas Menjadi …

S. Suharto | 12 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: