Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Topeng Monyet

OPINI | 06 April 2011 | 22:14 Dibaca: 70   Komentar: 0   0

Malam itu seperti biasannya, deru nafas kehidupan yang bercampur peluh sang malam. Dan seperti biasanya juga aku berjalan menyusuri ganggang di sekitar lingkungan kontrakanku. Dan tak sengaja pula aku mendengar lantunan nada yang sangat tak asing bagi telingaku. Nada yang manis itu biasanya muncul dari sebuah gamelan yang biasanya hanya dalam rombongan wayang kulit dan wayangwayang lainnya. Dan lebih anehnya lagi dia terdengar bercampur dengan alat music lainnya. Bukan gong ataupun kendhang, dan bukan pula bonang. Saking penasarannya kupercepat laju langkah kakiku dan….. ternyata aku menemukan sekelompok orang sedang bergerombol. Sedang menyaksikan sesuatu yang sedang menyaksikan sesuatu yang sudah semakin jarang aku temui.

Mungkin bagi sebagian orangorang, hiburan ini biasa saja tapi bagiku hiburan yang seperti inilah yang aku cari. Hiburan ini sering dinamakan oleh orangorang dengan sebutan “Topeng Monyet”. Kelompok yang aku temui ini beranggotakan empat mahluk ciptaan sang Empunya Dunia ini, tiga orang manusia dan seekor monyet tentunya (hahahaha… namanya juga Topeng Monyet). Dan peralatan yang dibawa mereka cukup sederhana, sebuah Saron, sebuah bedug kecil yang biasa aku sebut dengan sebutan jidhor (ku sebut dengan nama itu hanya karena suaranya yang sangat keras dan terkadang kalau sedang keraskerasnya seperti bunyi petasan bising)

Yah,, aku memang sedang merindukan sebuah hiburan yang benar merakyat, tanpa harus berdesakdesakan saat engkau atau aku ingin melihatnya. Tanpa harus mengeluarkan uang yang banyak untuk menikmatinya secara langsung. Hanya dengan beberapa sen dari sakumu engkau dan aku bisa menikmatinya. Yah,, topeng monyet memang hiburan yang diperuntukkan segala umur. Tak ada batasan dalam pertunjukan ini, semua kalangan bisa menikmatinya. Mulai dari yang tua hingga yang muda, ataupun juga anak kecil. Mereka semua tertawa bersama hanya karena ulah menggemaskan si monyet yang bergaya kesana kemari mengikuti komando sang pelatihnya.

15 menit saja, namun dalam space yang orangorang anggap sebentar itu aku dan mereka sudah merasa terhibur. Serasa hilang semua keluh kesah yang sempat memenuhi otak mereka. Entah permasalahan dikantor mereka semua, entah itu tugas dari sang guru, ataupun seperti aku ini yang mengalami kebuntuan untuk melanjutkan tulisan Tugas Akhir yang tak kunjung aku lanjutkan. Tapi itu semua terasa hilang walupun hanya sesaat, namun bagiku itu sudah cukup mengobati rasa rinduku akan hiburanhiburan rakyat yang benarbenar merakyat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman Dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | 8 jam lalu

Pembuktian Slogan Aku Cinta Indonesia …

Lukman Salendra | 8 jam lalu

Prosedur Sidang SIM di PN …

Kambing Banci | 8 jam lalu

Penundaan Revisi UU MD3 dan Kisruh Golkar …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: