Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Tesa Oktiana Surbakti

optimis, positif. that's me!

Ki Ledjar, Si Pewayang Kancil

REP | 30 March 2011 | 08:43 Dibaca: 240   Komentar: 0   0

Kancil itu tidak nakal. Seharusnya kita kembali melihat dalam cerita kancil, mengapa kancil mencuri timun, ya karena hutan tempat dia berlindung dirusak oleh manusia, sehingga kancil bingung mau cari makan dimana. Jadi, sebenarnya siapa yang “nakal”? Ucap Ledjar Subroto.

Memasuki rumah asri nan sederhana di pinggir Jalan Mataram bernomor 198, akan ditemukan showroom mini wayang kancil milik Ki Ledjar Subroto atau biasa lebih akrab dipanggil mbah Ledjar. Sosoknya yang sederhana dengan ramah menyambut kedatangan saya yang sebelumnya sudah membuat janji untuk bertemu. Walaupun begitu, tidak susah untuk membuat janji dengan beliau, karena dia sendiri mengatakan bahwa menyenangkan bisa berbagi cerita dengan orang lain, apalagi tentang dunia wayang.

Proses wawancara sendiri terbilang cukup serius tetapi menyenangkan. Mbah Ledjar sangat antusias menjawab pertanyaan yang saya lontarkan. Bahkan saking semangatnya, ia sering sekali menjawab pertanyaan begitu panjangnya, malah terkadang keluar dari batasan pertanyaan. Di dalam ruang tamunya yang dihiasi oleh foto-foto, piagam penghargaan, serta dokumen-dokumen tentang prestasinya, Mbah Ledjar mulai menuturkan lika-liku perjalanannya dalam mempertahankan wayang kancil hingga saat ini.

Seniman Sejati

Dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga seniman yang berdarah asli Jogja, membuat mbah Ledjar tidak bisa memalingkan wajahnya dari dunia seni. Sejak kecil ia sudah dikenalkan dengan seni budaya Jawa seperti dalang, wayang, nembang, tari dan lain sebagainya. “Bapak saya itu dulunya seorang seniman jawa, tetapi biasanya orang-orang lebih mengenalnya sebagai dalang. Jadi ya ayah saya itu pedalang sekaligus pemusik”, ungkap mbah Ledjar ketika disinggung tentang orangtuanya. Kecintaan serta keprihatinannya terhadap dunia seni, membuat Ki Ledjar terinspirasi untuk menbuat Wayang Kancil pada tahun 1980. Pada masa itu, ia melihat masyarakat terutama anak-anak kurang peduli terhadap keberadaan budaya wayang. Selain itu, banyaknya keluhan yang dari pedalang lain tentang nasib pelestari budaya wayang, semakin membuat mbah Ledjar untuk fokus dalam membuat dan mengkreasikan wayang kancil.

Kenapa harus kancil? Pertanyaan ini sering dihadapi oleh mbah Ledjar, ketika ia bertemu dengan orang-orang yang baru mengenal wayang kancil. Sebenarnya pemilihan kancil itu berdasarkan masa kecil saya, dimana pada jaman SD dulu, guru-guru di SR (Sekolah Rakyat) sering menceritakan kisah kancil melalui pertunjukkan wayang. Lalu, ketika akan tidur, ibunya sering mendongenginya dengan cerita kancil agar tertidur pulas. Menurutnya kancil itu sudah melegenda bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mbah Ledjar sangat tertarik untuk menjadikan kancil sebagai tokoh utama dalam tiap pentasnya, sehingga karyanya sering disebut wayang kancil.

Menurut mbah Ledjar, dalam pementasan wayang kancil, sebenarnya ada banyak pesan yang bisa disampaikan. Tidak hanya semata-mata sebagai hiburan, melainkan terdapat pesan khusus yang menjadi bagian penting dalam tiap pementasan. Misalnya tentang kecintaan pada lingkungan hidup, pengembangan agama islam, penanaman budi pekerti serta masih banyak lainnya. Cerita yang diangkat di dalam pentas, diambil dari serat kancil yang ditulis oleh para pujangga. Misalnya saja untuk cerita tentang pengembangan agama islam, seratnya ditulis oleh Haji Sosrowijoyo. Mbah Ledjar mengaku bahwa ia memiliki hampir seluruh serat kancil dari pujangga-pujangga. Sejauh ini, ia telah menciptakan lebih dari 100 karakter wayang.

Miris, Wayang Kancil Lebih Dikenal di Luar Negeri

Berkarya selama hampir 30 tahun dalam dunia wayang, membuat mbah Ledjar mendapatkan berbagai penghargaan. Penghargaan atau apresiasi terhadap karyanya, tidak hanya berasal dari dalam negeri, melainkan juga dari luar negeri. Salah satu penghargaan pernah ia dapatkan pada tahun 1995 dari majalah Gatra, dimana penghargaan itu diberikan berdasarkan kepeloporan, kreativitas, inovasi dan jasa Ki Ledjar Subroto dalam menghidupkan dan mempopulerkan kembali kesenian wayang kancil yang nyaris punah. Selain itu, penghargaan yang baru-baru ini ia dapatkan yaitu Lifetime Achievement dari festival Biennale 2009 atas kontribusi serta kesetiannya terhadap seni gambar di atas wayang.

Menurut mbah Ledjar, ia sendiri tidak terlalu memikirkan penghargaan yang didapat. Karena yang lebih dipikirkan oleh mbah Ledjar adalah bagaimana nasib wayang kancil selanjutnya. “Anak muda sekarang itu kebanyakan lebih senang dengan hal yang berbau modernisasi, jarang ada yang mau bersentuhan langsung dengan seni tradisional seperti ini,” ungkap mbah Ledjar akan kekhawatirannya. Walaupun ia mendapatkan penghargaan dari dalam negeri, tetapi secara umum ia merasa bahwa wayang kancil sebenarnya kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Malah apresiasi yang tinggi malah ia dapatkan dari luar negeri. Hal ini dibuktikkan banyak sekali karya-karya wayang kancil milik Ki Ledjar Soebroto yang dikoleksi oleh musem luar negeri sperti Jerman, Belanda dan Inggris.

Nama Ki Ledjar Soebroto mulai dikenal di kancah Internasional, berawal dari pertemuan dengan seorang teman dari Belanda yang menggemari dunia wayang dan menjadi dalang. Teman tersebut meminta mbah Ledjar untuk membuatkan wayang berdasarkan cerita yang sudah ada. Cerita yang diangkat yaitu tentang kisah perjuangan Sultan Agung dalam melawan tentara kompeni yang dipimpin oleh Jan Peter Zoon Coen. Awalnya mbah ledjar sempat terkejut, karena menurut pengakuan temannya tersebut, buku cerita kancil cukup terkenal di Belanda. Selain itu, terdapat museum kancil yang sudah didirikan sejak lama, hanya saja koleksi yang ada baru seputar naskah-naskah jawa serta serat kancil. Semenjak itu, mbah Ledjar mendapat pesanan untuk membuat wayang kancil untuk melengkapi koleksi museum-museum di luar negeri.

Bagi mbah Ledjar, wayang itu tidak semata-mata sebagai media hiburan saja, malah seharusnya wayang bisa menjadi media penyampai pesan atau sarana pendidikan. Hal inilah yang terjadi di luar negeri. Seperti di Belanda misalnya, wayang kancil malah dijadikan media pendidikan, malah pesannya mudah diterima oleh anak-anak disana. Selama ini banyak mahasiswa atau peneliti yang berasal dari luar negeri yang belajar tentang filosofi dan seluk beluk tentang dunia wayang kancil dengan Mbah Ledjar. “Mereka itu tidak hanya belajar, lalu melupakan, mereka malah mempraktekkan seni wayang di negerinya. Saya tahu karena dikirimi bukti berupa laporan dan foto-foto dari mereka,” ujar Ki Ledjar Subroto dengan antusias.

Banyaknya karya mbah Ledjar yang disimpan di luar negeri, malah tidak membuatnya takut jika karyanya wayang akan “direbut” oleh bangsa lain. Menurutnya asal karyanya itu dihargai dan didata sesuai dengan nama pemiliknya dengan benar, maka ia justru merasa bangga. Sebenarnya Mbah Ledjar menyimpan kekecewaan yang cukup mendalam terhadap bangsa sendiri. Hal ini bermula saat ia menemukan adanya katalog wayang Indonesia yang berjudul The Development Of Wayang Indonesia as a Humanistic Cultural Heritage dimana terdapat karya wayang kancil buatan Ki Ledjar, hanya saja nama penciptanya adalah orang lain yaitu Li Boo Liem. “Lha aneh sekali kok orang Indonesia ini, jelas-jelas di wayang itu ada goresan nama saya, tapi kok bisa-bisanya dicap sebagai karya orang lain yang tidak jelas juntrungannya,” ungkap Ki Ledjar dengan gusar.

Mbah Lejar menduga, pengalihan nama pencipta terjadi karena ada unsur kepentingan beberapa pihak untuk mendapatkan keuntungan. Dimana ketika ada karya yang penciptanya sudah lama meninggal, maka karya tersebut akan dinyatakan sebagai karya seni bernilai tinggi. Jadi ketika ada pihak-pihak yang ingin menjual wayang kancil, maka akan mendapatkan keuntungan berlimpah. Bersama cucunya yang mewarisi darah seni dari dirinya, mbah Ledjar terus berjuang untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa karya tersebut adalah karyanya. Ia juga telah melakukan konferensi pers untuk meluruskan kepada publik. “Ini kan tentang sejarah, kalau sudah dibelok-belokan, kasian anak cucu kita yang akan menerima informasi yang salah,” ucap mbah Ledjar berapi-api.

Adanya kasus tersebut, tidak membuat semangat mbah Ledjar surut untuk memainkan wayang kancil. Walaupun ia merasa dikhianati oleh bangsanya sendiri, tetapi ia tetap merasa masih ada yang menghargai karyanya. Terbukti masih ada orang-orang yang antusias dan menyaksikan pementasan wayangnya. Selain itu, beberapa waktu yang lalu, ia sempat diundang Sultan untuk bermain wayang dalam rangka hari lingkungan hidup. Sultan tertarik dengan wayang Kancil, karena Kancil hidup di hutan dan hutan itu lekat dengan kehidupan kita. Menurut cerita mbah Ledjar, sultan juga berpesan bahwa kita bisa belaja dari kepemimpinan kancil Amongprojo dimana ada konsep Hamemayu Hayuning Bawana yang artinya kearifan lokal yang menjadi dasar sekaligus pola pembangunan dimana alam adalah bagian dari pemahaman yang ada didalamnya.

Belum terlambat untuk Melestarikan

Ki Ledjar Subroto sadar bahwa seni wayang kancil bisa saja punah ketika ia sudah tiada. Akan tetapi ia tidak pernah putus asa untuk mencari penerus-penerus wayang kancil. Ia terus semangat jika dipanggil untuk melakukan pentas wayang. Harapannya dengan sering melakukan pentas, secara perlahan bisa mempengaruhi masyarakat untuk lebih mengenal seni wayang kancil dan tertarik untuk mempelajari dan melestarikannya.

Ketika ditanya tentang pengalaman yang paling menarik selama 30 tahun berkarya dalam dunia pentas wayang kancil, dengan mantap ia menjawab ketika menjadi relawan dan menghibur para pengungsi merapi. Hal ini berkesan bagi mbah Ledjar karena ia melakukan pentas selama 14 hari di 15 titik pengungsian, yaitu dari Klaten sampai Muntilan. “Ya, walaupun tubuh saya sudah renta seperti ini, saya berusaha untuk menghibur sekaligus memberikan pesan-pesan melalui karya saya,” ujar mbah Ledjar.

Sebagai seniman lokal, mbah Ledjar memiliki harapan untuk kelestarian budaya bangsa. Apalagi melihat kondisi masyarakat dewasa ini, menurutnya masyarakat itu harus memiliki sadar budaya, sadar wisata dan sadar lingkungan. Karena untuk melestarikan budaya asli daerah tidak bisa dibebankan terhadap para senimannya, melainkan juga seluruh pihak termasuk pemerintah dan masyarakat harus ambil bagian. Sejauh ini, ia merasa belum terlambat jika masyarakat mau berubah dan serius untuk melestarikan dan mengembangkan budaya lokal. Mbah Ledjar juga berpesan ada khaidah 5M yang harus kita miliki ketika ingin melestarikan budaya bangsa, yaitu Menghargai, Mengakui, Menikmati, Mempelajari dan Menggunakan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | | 19 April 2014 | 08:26

Apakah Pedofili Patut Dihukum? …

Suzy Yusna Dewi | | 19 April 2014 | 09:33

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Perlukah Aturan dalam Rumah Tangga? …

Cahyadi Takariawan | | 19 April 2014 | 09:02

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Sstt, Pencapresan Prabowo Terancam! …

Sutomo Paguci | 4 jam lalu

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazerâ„¢ | 11 jam lalu

Suryadharma Ali dan Kisruh PPP …

Gitan D | 12 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: