Artikel

Sosbud

Apa Kabar Hans?


OPINI | 29 March 2011 | 07:39 Dibaca: 35   Komentar: 0   Nihil

Hans Bague Jassin memang telah tiada. Salah satu warisannya tersia-sia oleh bangsa Indonesia. Mungkin ia menyesal membangun Pusat Dokumentasi Sastra. Atau ia geram dan tidak percaya  melihat sebuah karya. Dalam karya itu tertulis anggaran pembangunan gedung DPR jauh berbeda dengan PDS yang dirintisnya. Sang kritikus pun tidak sanggup mengkritik. Bukan karena ia tidak mampu. Namun, yang dikritik sudah tidak mendengar.

Hans Bague Jassin alias H.B. Jassin adalah salah satu tokoh kesusastraan Indonesia. Julukannya tidak main-main “Paus Sastra Indonesia”. Seorang pengarang sah disebut sastrawan apabila sudah dibaptis Jassin. Apalagi kalau karya mereka diulas. Resmilah mereka menyandang gelar seniman.Tapi, bukan itu saja legenda H. B. Jassin dalam sastra Indonesia. Ia juga dikenal rendah hati. Ia pernah menjadi pengajar sekaligus belajar di UI. Ia menjadi pengajar ketika mata kuliah sastra modern, namun ia menjadi mahasiswa yang tekun belajar ketika mata kuliah sastra lama. Sebuah teladan dari sosok Jassin.

Jassin juga populer karena ketekunannya mendokumentasikan karya sastra. Sosok yang langka di tengah bangsa yang abai terhadap budaya dokumentasi. Warisannya berupa Pusat Dokumentasi Sastra adalah sesuatu yang perlu dijaga. Tidak hanya hari ini. Agar nama PDS H.B. Jassin tidak masuk buku “Potret Buram Sejarah Bangsa yang Abai terhadap Sastra dan Budaya”.

H. B Jassin bukan orang yang senang berbicara di depan publik. Ia menolak berdebat. Ia lebih senang berdiskusi melalui tulisan. Melihat PDS yang dirintisnya terbengkalai, ia mungkin hanya mengirim surat ke pemerintah. Meminta sedikit perhatian. Apabila diacuhkan, Jassin barangkali akan terus menulis hingga ratusan surat. Kelak, surat-surat itu akan memenuhi ruangan perpustakaan. Surat-surat itu akan diberi judul “Suara Sastra yang Tak Terdengar Penguasa”.

Saat ini, menyalahkan pemerintah tiada guna. Sekarang, mari bersama-sama melakukan yang bisa dilakukan untuk PDS H.B. Jassin. Tidak perlu menunggu uluran tangan pemerintah. Mungkin mereka akan mengucurkan dana ketika pembangunan gedung wakil rakyat selesai. Ah, tak perlu menunggu selama itu. Kita bisa berbuat banyak.

Di alam sana, H.B. Jassin masih menulis. Ia  mendokumentasikan perjalanan bangsa Indonesia yang muram.
Saya hanya ingin mengucap padanya,

“Apa kabar Hans? Maaf, kami lalai menjaga warisanmu.”

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: