Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Anas Isnaeni

nanazh izhnainazh sukanya makan nanazh saat siang hari panazh

Fleksibilitas

OPINI | 27 March 2011 | 17:04 Dibaca: 6682   Komentar: 2   0

Belakangan ini saya sering terbersit akan kata yang satu ini. Fleksibilitas yang diartikan secara harfiahnya adalah kemampuan untuk luwes, mudah, dan cepat menyesuaikan diri ini tentunya terlintas di pikiran saya bukan karena hanya terbersit begitu saja. Banyak fenomena yang saya temui akhir-akhir ini dan kemudian saya simpulkan pada makna dari satu kata ini.

Menghadapi lingkungan dan fase kehidupan yang baru, manusia mengalami banyak hal perbedaan yang terjadi. Hal ini merupakan tuntutan perubahan yang mau tak mau harus dihadapi karena pada hakikatnya hidup itu adalah suatu rangkaian fase yang dinamis, ia tidak akan hanya berupa satu fase tertentu saja. Sebagai contoh, kita tidak bisa menganggap sama antara keadaan kita saat menjadi balita dengan remaja, remaja dengan dewasa, dewasa dengan tua… Karena setiap fase menjadikan kita berubah dengan sendirinya, entah itu secara fisik ataupun hal yang abstrak (pikiran, emosi, dan sebagainya). Begitu pula lingkungan. Kita mungkin pada suatu kondisi yang menguntungkan dapat memilih lingkungan seperti apa yang kita kehendaki. Namun, tak jarang, kita berada pada suatu lingkungan yang asing dan kita terpaksa berada di dalamnya.

Perbedaan, hal inilah yang perlu disoroti kemudian. Kita paham bahwa tak’kan ada satu pun manusia yang sama persis dengan manusia lainnya, pastilah ada perbedaan di antara kita. Walaupun kita memaklumi hal tersebut, terkadang begitu terasa perbedaan adalah sesuatu yang membuat kekurangnyamanan terjadi. Di sinilah fleksibilitas dibutuhkan, saat kekurangnyamanan itu ada, maka bagaimana manusia menjadikan dirinya beradaptasi dan menoleransi beberapa hal yang ada di sekitar dirinya, sehingga kemudian perubahan adalah suatu hal yang niscaya pasti terjadi.

Perubahan adalah suatu proses yang membutuhkan fleksibilitas. Ada hal yang perlu disesuaikan dengan kondisi yang ada. Kondisi tersebut meliputi lingkungan atau fase yang memang harus dijalani oleh manusia itu sendiri. Setiap kondisi memiliki karakteristiknya masing-masing dan mempunyai varian yang begitu banyak dengan berbagai variabel yang dapat diubah-ubah. Variabel yang dimaksudkan di sini adalah nilai-nilai kehidupan. Nilai-nilai itu dikombinasikan antara satu sama lain. Kadang yang dipergunakan adalah yang ini, kadang pula diabaikan nilai yang itu.

Sebagai contoh untuk mudah memahaminya, bisa kita lihat bagaimana cara kita menyikapi masa-masa remaja yang menjadi masa transisi dan dikenal dengan kelabilan. Kita lihat begitu banyak remaja dengan berbagai macam perilakunya. Ada yang lebih menjunjung tinggi nilai sosial sebagai pilihannya, sehingga dirinya begitu terpengaruh dengan bagaimana suatu komunitas yang ia ikuti mengajarinya tentang gaya hidup yang negatif (menurut saya), seperti pacaran, merokok, nongkrong, dsb. Sedangkan, dengan perbuatan semacam itu, nilai relijius menjadi terabaikan karena nilai sosial komunitas yang ia ikuti merupakan kontradiksi dari nilai sosial tersebut.

Dalam kasus tersebut, komunitas yang merupakan aspek lingkungan sangat berperan andil dalam perubahan yang terjadi pada seseorang. Fase kehidupannya yang baru menginjak masa remaja juga mendorong terjadinya hal demikian karena fase ini adalah fase yang dikenal labil dan sering mencoba ini-itu.

Fleksibilitas akan menjadi pengatur arah perubahan seseorang dalam menghadapi benturan nilai saat manusia mengalami perubahan kondisi. Fleksibilitas dapat menjadikannya bertambah baik ataupun buruk, sebagaimana hasil lazim dari suatu perubahan itu sendiri. Nilai-nilai kehidupan mengalami perubahan karena ada yang baru saja diterima, ada juga yang dibuang. Perubahan akan menjadi baik saat nilai yang positiflah yang diambil dan nilai negatif yang kemudian diabaikan, begitu pula sebaliknya.

Secara tersirat sederhana, tampak fleksibilitas adalah suatu bongkar-pasang nilai kehidupan. Manusia mencoba untuk menginterpretasikan apa yang mampu ia pahami dari fase atau lingkungannya yang baru dan kemudian ia lakukan bongkar-pasang itu untuk menyesuaikan diri agar terasa nyaman. Perubahan bagaimana pun juga, walau tak selalu berakhir pada kenyamanan, tetapi tentunya ditujukan menuju pada kenyamanan yang bisa diperoleh diri.

Di sinilah kemudian, kemampuan interpretasi akan kondisi yang baru sangat dibutuhkan. Salah menginterpretasikan akan mengakibatkan perubahan ke arah yang tidak baik. Memahami adalah suatu proses yang sulit karena butuh pemikiran dan keputusan yang terkait dengannya. Pemikiran untuk menganalisis bagaimana caranya ia untuk menyesuaikan diri dan pengambilan keputusan alternatif manakah yang diambil dalam penyesuaian diri. Perlu kekritisan di dalamnya, perlu pengamatan yang secara intensif, perlu pertimbangan yang rasional dalam menilai dari berbagai sudut pandang.

Di antara proses perubahan itu, satu hal yang perlu diperhatikan dengan baik. Perihal tentang prinsip hidup. Prinsip hidup merupakan nilai-nilai dasar yang sudah permanen dan tidak bisa diubah-ubah. Prinsip hidup menjadikan hidup kita bersahaja karena menjadikan kita punya arahan yang tetap dan acuan dalam berpikir serta bersikap. Orang yang tidak mempunyai prinsip hidup, menurut saya, adalah orang yang telah kehilangan jati dirinya. Ia hanya menjadi sosok yang labil, terus menerus mengalami perubahan dalam kehidupannya, tetapi perubahannya itu tanpa arti, hampa makna. Kehampaan itu terjadi karena ketidakjelasan cara pandang dia. Prinsip hidup mengantarkan seseorang pada sosok seperti apa yang ia tuju dan jadikan sebagai karakter ideal. Dengan demikian, tujuan hidup menjadi tak jelas bila seseorang tak mempunyai prinsip hidup.

Maka, tak ada istilah fleksibilitas prinsip di sini. Nilai-nilai lainnya boleh saja dibongkar pasang menjadi suatu kombinasi perubahan baru, tetapi prinsip (nilai dasar) sepatutnya harus tetap sama. Namun, dalam mempertahankan prinsip itulah, banyak cobaan mendera. Cobaan itu datang saat lingkungan yang baru tidak bisa menerima prinsip hidup yang kita terapkan. Lalu, apa yang harus dilakukan? Bukankah kita tak sepatutnya mengubah prinsip hidup kita karena itu akan menjadikan tujuan hidup kita akan berubah pula?

Ketangguhan dalam berpribadi, hal inilah yang dibutuhkan. Ketika kita mantap dengan prinsip hidup yang kita pegang, memang sudah menjadi kewajiban untuk berpegang padanya. Tak perlu untuk mempedulikan bagaimana penilaian orang akan sosok kita dalam lingkungan yang menjadikan kita ternyata begitu berseberangan dengan mereka (prinsip hidup yang berbeda). Perbedaan prinsip hidup memang rentan menimbulkan konflik. Tetapi sekali lagi perlu ditekankan, perbedaan bukanlah hal yang patut menjadi pembenar untuk alasan timbulnya konflik. Konflik terjadi pada dasarnya dikarenakan kurangnya respektasi antara masing-masing prinsip hidup yang bertolak belakang. Kita boleh beda, tetapi toleransi juga perlu dikedepankan.

Kondisi baru memang menuntut adanya perubahan agar bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan kondisi yang ada. Namun, sekali lagi, tuntutan itu bukan pada kondisinya untuk mengubah dirinya menjadi sesuai dengan kita, tetapi diri kitalah yang menyesuaikan. Mungkin ada celah untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik, tetapi tuntutan yang diprioritaskan adalah perubahan dari diri sendiri. Keberagaman kondisi dengan adanya begitu banyak perbedaaan di dalamnya membuat celah itu begitu kecil. Maka, mau tak mau fleksibilitas perlu digunakan, tetapi ingat, tentunya masih berpegang pada prinsip hidup yang dipegang.

Maklumi saja perbedaan yang ada karena memang itulah yang memang sudah apa adanya terjadi. Kalaupun ada yang begitu bertolak belakang, maka hadapi dengan arif, berikan pemahaman dengan cara yang baik apabila orang tersebut mengalami ketidaknyamanan dengan perbedaan ini. Konflik bisa diredam apabila ada komunikasi yang baik antara kedua belah pihak yang bertentangan. Malah, terkadang dengan komunikasi, kita akan mampu memahami bagaimana seseorang dapat mempunyai perbedaan begitu kontras dan tahu cara terbaik untuk masih tetap berhubungan baik dengannya.

Karena bermusuhan itu adalah suatu hal yang tiada gunanya. Kita sebagai manusia dianugerahi kemampuan fleksibilitas untuk menghadapi perbedaan-perbedaan dalam kondisi hidup kita. Fleksibilitas itu bisa dilakukan tanpa perlu mengubah prinsip hidup karena kombinasi bongkar-pasang nilai kehidupan begitu bervariatif, tinggal bagaimana caranya kita memilih kombinasi yang tepat untuk kondisi yang tepat sesuai dengan prinsip kita. Jangan sampai fleksibilitas itu melebihi batasnya dan sampai pada tataran prinsip hidup kita.

Well, pemahaman seperti inilah yang saya pahami tentang fleksibilitas ini. Saya sendiri masih begitu kurang arif dalam menghadapi perbedaan yang kemudian malah berujung pada konflik dan permusuhan yang tidak sepatutnya terjadi. Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk menganalisis fleksibilitas dan mencari cara yang tepat untuk menggunakannya dalam perubahan yang sedang saya hadapi dalam fase kehidupan baru yang saya lalui ini.

Life is about choice…

Pejambon, 26 Desember 2010, 23.18

(also posted in http://nanazh.multiply.com/journal/item/143/fleksibilitas)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompetisi Tiga Ruang di Pantai-Pantai Bantul …

Ratih Purnamasari | | 18 September 2014 | 13:25

Angkot Plat Kuning dan Plat Hitam Mobil …

Akbarmuhibar | | 18 September 2014 | 19:26

Koperasi Modal PNPM Bangkrut, Salah Siapa? …

Muhammad | | 18 September 2014 | 16:09

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

TKI “Pejantan” itu Jadi Korban Nafsu …

Adjat R. Sudradjat | 11 jam lalu

Penumpang Mengusir Petinggi PPP Dari Pesawat …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Modus Baru Curanmor. Waspadalah! …

Andi Firmansyah | 13 jam lalu

Bogor dan Bandung Bermasalah, Jakarta …

Felix | 13 jam lalu

Kejahatan di Jalan Raya, Picu Trauma …

Muhammad | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pangeran Samudera …

Rahab Ganendra | 7 jam lalu

Menumbuhkan Budaya Malu antara Bersubsidi …

Van_nder | 8 jam lalu

“Ulah Meuli Munding …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Dari Cerita Rakyat Ikan Tapa Malenggang, …

Muhammad Aris | 8 jam lalu

Awalnya Peduli, Lama-lama Mencuri …

Dina Agustina | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: