
" Live your life with love "
--Frans--
Dibaca: 285
Komentar: 9
2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif
Surat kabar harian Kompas hari ini (23 maret 2011) memperlihatkan Wakil Presiden Tokyo Electronic Power Co (Tepco) yang sedang menunduk dan meminta maaf kepada para pengungsi lanjut usia yang terpaksa dievakuasi dari sekitar PLTN Fukushima yang meledak akibat gempa dan tsunami di jepang. Walalupun kejadian tersebut sebagai akibat dari bencana alam, mereka tetap meminta maaf. Tentu saja permintaan maaf tersebut sangat layak dan wajar diajukan oleh para pejabat di Tepco mengingat kejadian yang cukup membuat khawatir rakyat seantero Jepang khususnya warga sekitar PLTN.
Pejabat Tepco Minta Maaf Kepada Pengungsi
Saya juga pernah mengalami permintaan maaf dalam keseharian saya selama tinggal di Jepang. Yang paling saya ingat adalah ketika menumpang bus umum. Ketika itu, bus berhenti di sebuah halte untuk mengangkut penumpang. Setelah semua penumpang naik, sesuai jadwal, bus bersiap-siap untuk berangkat. Setelah bus berjalan sebentar, tampak seorang nenek lanjut usia berusaha untuk memberhentikan bus sambil berlari-lari karena telat menunggu di halte. Karena kasihan, sang supir berhenti untuk menaikkan penumpang tersebut tak jauh dari halte. Sebuah hal yang tentu saja terlarang. Tak lama supir meminta maaf melalui mikrophone atas kejadian tersebut. Setelah naik ke dalam bus, sang nenek berdiri di paling depan. Sambil membungkuk 45 derajat, dia meminta maaf kepada semua penumpang karena ketidaknyamanan yang diakibatkannya. Ketika berjalan menuju bangku yang kosongpun, sang nenek terus membungkuk sambil meminta maaf kepada penumpang yang dilaluinya.
Dalam tradisi Jepang, meminta maaf dilakukan secara formal dengan membungkuk. Berbeda dengan membungkuk “ringan” seperti pada saat memperkenalkan diri, membungkuk untuk meminta maaf dilakukan dengan hampir 45 derajat seperti tampak dalam foto. Untuk pria tangan diletakkan di samping. Sedangkan untuk wanita, tangan diletakkan di depan badan dengan posisi berpegangan.
Dalam hal terjadi kesalahan yang cukup fatal, biasanya permohonan maaf juga diikuti dengan tindakan lain sebagai kompensasi dari kesalahan tersebut. Contoh yang paling seringkali kita ketahui adalah bunuh diri atau mengundurkan diri dari suatu jabatan tertentu. Sekitar dua minggu yang lalu, menteri luar negeri Jepang mengundurkan diri karena menerima uang sumbangan untuk partainya yang berasal bukan dari warga negara Jepang. Dari segi materi, uang tersebut tidak besar, hanya lima puluh ribu yen atau sekitar lima setengah juta rupiah! Untuk pemberian kompensasi, dapat beragam bentuknya. Seorang teman yang pernah mengajukan komplen karena salah penghitungan harga dalam pembayaran barang pada sebuah supermarket mendapatkan voucher belanja sebagai gantinya.
Bagaimana dengan di Indonesia? Sangat jarang seorang pejabat pemerintah yang meminta maaf secara terbuka kepada publik apabila terjadi kesalahan pada kebijakan yang diambil atau ucapan yang disampaikan kepada publik. Dalam kehidupan sehari-haripun pengakuan rasa bersalah sangat jarang kita temui di tanah air. Bahkan dulu pernah ada acara di sebuah statiun televisi yang bertajuk “Susahnya Minta Maaf”.
Bagaimana dengan anda?
Frans
23 Maret 2011