Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Edy Priyatna

Pekerja swasta dibidang teknik sipil, tinggal di daerah Depok, sangat suka menulis…apalagi kalau banyak waktunya, selengkapnya

Othok-othok Mainan Tradisional

REP | 22 March 2011 | 08:55 Dibaca: 1024   Komentar: 21   1

1300784000399127629

Bebarapa saat yang lalu saya menyaksikan sebuah acara ‘tepi jaman’ pada sebuah tv swasta yang menampilkan permainan anak-anak yang namanya Othok-othok. Mengingatkan saya ketika masih kecil, saya suka membelinya dari pedagang mainan keliling yang kebetulan lewat di kampung saya, yang waktu itu (sekitar tahun 70an) harganya satu rupiah per-buah.

Dalam acara tersebut (22/03/11) menyajikan proses atau cara pembuatan dolanan tradisional tersebut. Mbah Karto Utomo  yang mempraktekan cara membuat mainan othok-othok. Ia mengatakan bahwa dolanan anak-anak Othok-Othok ini dibuat dari bahan bambu apus, kertas, paku, teres dengan menggunakan alat-alat seperti gunting, pisau, palu, kayu. Pembuatan othok-othok ini bisa diselesaikan dalam waktu lima menit.

Harga sebuah othok-othok saat ini hanya Rp.1.000,- (seribu rupiah) perbuah, masih sangat murah dan pasti dapat dijangkau oleh semua masyarakat . Mbah Karto Utomo tiap harinya bisa menghasilkan 1000 othok-othok. Wanita sepuh ini selain mahir membuat othok-othok, juga bisa membuat mainan anak-anak lainnya seperti titiran, manukan, layungan dan kembangan.

“Sudah sejak 30 tahun yang lalu saya membuat beberapa mainan anak-anak sebagai sumber mata pencarian,” kata warga yang Pandesopoan, Sewon Bantul ini.1300784063943894512

Pada masa sekarang ini membuat othok-othok memang agak sukar karena kesulitan  mencari bahan dan alatnya. Padahal mainan ini sebenarnya tidak kalah menarik dengan mainan-mainan anak modern.

Alhamdulillah Mbah Karto Utomo masih diberi umur panjang dan masih membuat mainan-mainan tersebut. Dan syukurnya Pemda dan masyarakat setempat sudah ikut melestarikannya.

Semoga saja semua permainan anak-anak tradisional ini selalu tetap ada dan tidak terdesak mainan modern. Amin YRA .

(EN)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 6 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemeriksaan Keperawanan Itu “De …

Gustaaf Kusno | 7 jam lalu

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: