Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Yuven Lapu

aku orangnya item manis dan baik hati,, suka bergaul,, suka bertukar pikiran dengan siapa saja..

Keluarga Kristen yang Bertanggung Jawab

OPINI | 23 March 2011 | 02:09 Dibaca: 8718   Komentar: 1   1

PENDAHULUAN

A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Fenomena tentang keluarga tentang bagaimana tanggung jawab suami - istri dalam keluarga semakin sering diangkat dalam seminar-seminar keluarga, media masa, website dan forum diskusi online di dunia maya. Dapat dijumpai bahwa para suami-istri sering menganut pandangan yang memisahkan peranan maskulin dan feminim. Bukan hanya suami, para istri juga masih melihat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peranan yang khas. Jadi tidak heran jika kita dalam sebuah kelurga kelihatannya suami istri jalannya masing-masing tanpa ada keharmonisan lagi sehingga tanggung jawab tidak terrealisasi dengan baik.

Dewasa ini sering jumpai suami-istri yang semakin sibuk bekerja untuk mencari uang sehingga komunikasi kurang, perhatian terhadap anak tidak ada bahkan antara suami istri , maka diperlukan konsep atau sistem sehingga suami-istri dapat berperan maksimal dalam membina keluarga bahagia, sehingga tidak ada alasan keluarga menjadi korban karena suami-istri yang sibuk.

Alkitab adalah sebuah kitab sempurna, yang telah membuat persamaan, sentuhan dan pemisahan-pemisahan yang sangat jelas tentang peran suami-istri. Untuk itu, penulis memilih judulĀ “KELUARGA KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB.


LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN KELUARGA KRISTEN

Dalam Kamus Basar Bahasa Indonesia (KBBI) keluarga adalah terdiri dari ayah, ibu dan anak, juga termasuk orang-orang yang tinggal dalam satu rumah, misalnya saudara yang punya hubungan dengan keluarga.

Keluarga Kristen adalah bagian integral dari keluarga-keluarga dalam masyarakat yang plural. Dalam hal ini tentunya keluarga Kristen juga memiliki hak dan tanggungjawab dalam pembangunan masyarakat yang madani, adil dan sejahtera. Tentunya hal ini harus senantiasa di bangun atas dasar kesadaran dan apresiasinya akan eksistensinya sebagai ciptaan Allah yang istimewa. Ada tanggungjawab dalam setiap keluarga Kristen untuk memberi kontribusi positif dalam pembentukan masyarakat yang teratur, damai dan sejahtera.

B. PENGERTIAN TANGGUNG JAWAB

Pada umumnya “tanggung jawab” diartikan sebagai keharusan untuk “menanggung” dan “menjawab” dalam pengertian lain yaitu suatu keharusan untuk menanggung akibat yang ditimbulkan oleh perilaku seseorang dalam rangka menjawab suatu persoalan. Jika dikaitkan dalam keluarga banyak berharap dapat mengajarkan tanggung jawab dengan memberikan tugas-tugas kecil kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Dan sebagai orangtua tentu berkeinginan untuk menanamkan rasa tanggung jawab pada anak. Demikian juga antara suami istri.

Makna dari istilah “tanggung jawab” adalah “siap menerima kewajiban atau tugas”. Arti tanggung jawab di atas semestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang. Tetapi jika kita diminta untuk melakukannya sesuai dengan definisi tanggung jawab tadi, maka seringkali masih merasa sulit, merasa keberatan, bahkan ada orang yang merasa tidak sanggup jika diberikan kepadanya suatu tanggung jawab. Kebanyakan orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab.

C. KELUARGA DI PERJANJIAN LAMA

Tidak ada kata untuk “keluarga” di PL bahasa Ibrani yang dapat disamakan secara tepat dengan kata modern, “keluarga inti”. Beberapa kelompok sosial digambarkan sebagai “suku”, dan menggambar asal etnik. Kata umumnya (beth ab = rumah ayah) dapat berarti keluarga inti yang tinggal di rumah yang sama (Kej 50.7-8); kelompok sanak yang lebih besar/luas termasuk dua atau lebih generasi (Kej 7.1; 14.14); dan juga sanak dengan berarti lebih luas (Kej 24.38). Kata lain menunjuk ke kelompok sanak yang besar dan kadang-kadang diterjemahkan sebagai “kaum” (Bil 27.8-11).

Pada kenyataannya, keluarga-keluarga yang digambarkan di PL adalah rumah tangga yang mempunyai seorang lelaki pada pusat kehidupan keluarga. Rumah tangga terdiri atas semua orang, anak-anak, kerabat lain, pelayan-pelayan dan orang lain yang tinggal di rumah. Sebelum masa Daud, hidup keluarga difokuskan pada keperluan umum yaitu pekerjaan, makanan, dan perlindungan. Rumah tangga adalah tempat dimana pendidikan, sosialisasi, dan pendidikan agamani, terjadi . Walaupun ada kekuatan-kekuatan di pola hidup ini, ada banyak penyalahgunaan, dan banyak contoh keluarga yang fungsinya terganggu di PL (misalnya keluarga Ishak, Yakub, Daud).

Sentralisasi negara di Yerusalem di bawah Daud dan Salomo menjadi perubahan serupa dengan yang terjadi di peradaban lain. Ada pemindahan kekuasaan dari kepala keluarga ke penguasa di pusat. Keluarga harus menyumbang ke keperluan umum (seperti Samuel mengatakan bahwa mereka harus melakukannya - 1 Sam 8.10-18). Kemudian, selama negara berjalan dari satu krisis ke lain, utang meningkat dan orang kaya membeli tanah orang miskin, dan lebih dari itu mereka membeli orang miskin itu sendiri (Yes 5.8-10; Am 2.6-8).

D. KELUARGA DI PERJANJIAN BARU

Keluarga Yahudi di PB tersusun seperti rumah tangga di PL. Ada tekanan pada asal etnik dan jabatan ayah. Keluarga Greco-Roman juga rumah tangga besar, yaitu rumah tangga termasuk semua orang yang tinggal di rumah. Tidak ada kata di bahasa Yunani yang dapat disamakan secara tepat dengan ide modern, “keluarga inti”. Rumah tangga besar ini adalah satuan dasar masyarakat. Kata umum adalah “rumah” (oikos), atau frasa “kepunyaan sendiri”.

Di PB ada beberapa yang dinamakan ‘pedoman-pedoman kehidupan keluarga’ (Kol 3.18 - 4.1; Ef 5.21 - 6.9; 1 Pet 2.18 - 3.7; 1 Tim 2.8-15; 6.1-2; Tit 2.1-10). Pedoman ini mungkin dimaksudkan untuk membantu anggota rumah tangga Kristen untuk hidup secara terterima sesuai dengan kebudayaannya. Di pihak lain kenyataan bahwa pedoman itu tertuju kepada para suami, istri, orang tua, anak, dan pelayan, menunjukkan bahwa ajaran Kristen khusus diterapkan ke kehidupan rumah tangga. Kita seharusnya memperhatikan bahwa bagian-bagian ini tidak menunjukkan keluarga sebagai satuan, tetapi menunjukkan hubungan-hubungan yang beragam di dalam keluarga itu sendiri.

KELUARGA KRISTEN YANG BERTANGGUNG JAWAB

  1. TANGGUNG JAWAB KELUARGA KRISTEN SEBAGAI MANDAT DARI ALLAH

Alkitab (secara khusus kitab Kejadian) dengan tegas dan lugas mendeskripsikan eksistensi manusia. Pendeskripsian ini dimulai dari proses penciptaan hingga pada pengingkaran manusia kepada Allah (dosa). Dalam proses penciptaan dinyatakan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang istimewa. Keistimewaan ini terletak pada penciptaan manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei) dan juga diciptakan dengan sikap proaktif Allah. Keistimewaan manusia ini pada akhirnya menimbulkan suatu tanggungjawab manusia kepada Allah. Pertanggungjawaban manusia kepada Allah nyata dalam mandat Allah kepada manusia untuk menaklukkan dan menguasai segenap ciptaan. Dengan kata lain, keutuhan dan bahkan kesejahteraan seluruh ciptaan adalah tanggungjawab manusia. Manusia harus senantiasa proaktif untuk mewujudkan dunia yang diwarnai dengan keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan sebagai konsekwensi keistimewaan itu.

Pertanggungjawaban manusia sebagai ciptaan yang unik dan istimewa berpusat kepada Allah. Dan yang menarik dalam hal ini adalah, kekuatan dan kesanggupan manusia dalam pelaksanaan tanggungjawab tersebut juga tergantung kepada Allah sebagai pemberi tanggungjawab. Dengan demikian perlu ada komunikasi dan koordinasi yang kontiniu antara manusia dengan Allah dalam perwujudan dunia yang diwarnai keteraturan, kedamaian dan kesejahteraan itu. Manusia akan mampu menata dunia dan seluruh ciptaan sesuai dengan kehendak Allah apabila dalam diri manusia tersebut terkandung dimensi ketaatan kepada Allah. Inilah yang menjadi faktor penentu kesuksesan manusia dalam pelaksanaan tanggungjawabnya sebagai ciptaan yang istimewa di hadapan Allah.

Dalam pembentukan keluarga Kristen, kesadaran akan tanggungjawab manusia sebagai perpanjangan tangan Allah dalam pembentukan tatanan dunia yang teratur, damai dan sejahtera menjadi variabel yang sangat menentukan. Bahkan itulah yang seharusnya menjadi titik berangkat pembentukan kelauarga Kristen. Setiap keluarga Kristen dibangun dari pribadi yang bertanggungjawab kepada Allah sebagai alat pembentukan tatanan dunia (keluarga) yang teratur, damai dan sejahtera. Kesadaran yang demikian akan membentuk anggota keluarga yang juga bertanggungjawab terhadap anggota keluarga lainnya sebagai bagian dari dunia ciptaan Allah. Anggota keluarga yang memberi apresiasi terhadap pemahaman yang demikian niscaya akan memandang setiap anggota keluarga sebagai pribadi yang harus dihormati dan dibahagiakan. Dan itu dinyatakan atas kesadaran dan tanggungjawabnya sebagai ciptaan Allah yang istimewa.

B. PERANAN SUAMI ISTRI DALAM KELUARGA.

a. Peran Ayah Dalam keluarga

Peran ayah dalam keluarga sangat luas, yaitu terdiri dari :

  • Pemimpin rohani terhadap Istri. Pemimpin rohani terhadap istri berarti suami harus mendoakan, mengasihi dan memimpim istri sesuai dengan peraturan Allah. Kepemimpinan rohani terhadap istri memberikan wibawa terhadap istri dan anak:
  • Bertanggung jawab kepada Kristus, karena tugas memimpin mewakili Allah. Memimpin berarti memimpin dan mengasihi dan melayani, bukan menuntut atau berlaku sebagai boss, sebab Yesus datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani ( Matius 20:28; Efesus 5:25; Kolose 3:9).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang kepemimpinan seorang ayah yaitu :

- Memimpin berarti bergaul dan memberi waktu (Yohanes 1:39, 43)

- Memimpin berarti menjadi teladan (I Kor 4: 16; Filipi 3:17)

- Memimpin berarti rela berkorban (Efesus 5:28:30)

- Tidak memukul atau berlaku kasar, sebab istri adalah milik Kristus dan tubuh istri adalah bait Roh Kudus ( I Korintus 6:19-20; Kejadian 2:18-24), memukul istri berarti memukul milik Allah.

- Mengagumi dan memberi penghargaan pada istri (Mazmur 139:13-14)

- Memperhatikan dan memelihara hubungan pribadi dengan sopan dan hormat. Tubuh suami adalah milik istri dan sebaliknya (I Korintus 7:4; Kejadian 2:24; Efesus 5:31), ekspresi cinta harus benar dan tidak boleh egois.

- Selain Kristus, istri mendapat tempat pertama dihati suami (Matius 10:37)

- Menyediakan waktu bagi istri dan anak untuk relax bersama, berdoa dan membuka Alkitab bersama (Mazmur 127:1)

Melayani Tuhan bersama, (Kisah para rasul 3:11; Roma 16)

  • Pemimpin Anak

- Penanggung utama terhadap anak(Amsal 1:8; 6:20)

- Ayah adalah pemimpin anak, malalui pikiran, perbuatan dan teladan (II Kor 3:11; Efesus 5:23)

- Anak ciptaan Allah (Mazmur 127:3; 139:1)

- Memperhatikan kebutuhan anak secara total, tubuh jiwa dan roh dengan penuh tanggug jawab.

- Memberi teladan bagi anak untuk hidup hormat dan takut akan Tuhan

Keluarga Kristen tidak hanya membawa anak beragama, sekolah dan hidup yang baik, namun tiap anak harus didoakan atau dibimbing untuk bertobat dan mengenal Tuhan Yesus secara sungguh-sungguh. Disiplin ditanamkan mulai sejak anak kecil. Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi janganlah engkau menginginkan kematiannya (Ams 19:18).

Peranan Istri dalam keluarga

A. Peranan Istri terhadap suami

1. Sebagai penolong bagi suami.

Istri adalah penolong dan bukan perongrong suami. Istri merupakan asisten, mengisi kekurangan, mengantikan dan mewakili bila

diperlukan. Gelar penolong diberikan oleh Allah sendiri (kejadian 2:18).

Istri sebagai penolong berarti:

Berharga atau Bermutu

Istri yang cakap lebih berharga dari permata (Amsal 31:10). Pikiran, perasaan dan perbuatannya bermutu, sehingga istri merupakan harta kekayaan yang tak ternilai harganya.

Dapat dipercaya

Hati suaminya percaya kepadanya (Amsal 31:11a), dalam hal:

- Kesetiaan yaitu Istri berkewajiban setia kepada suami, anak dan keluarga sebagaimana janji pernikahan yang diucapkan dihadapan pendeta, jemaat dan Tuhan. istri harus tetap bertekat untuk hidup bersama, karena apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:5-6).

- Menjaga Rahasia yaitu Siapa menjaga mulutya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan (Amsal 18:21). Istri harus dapat dipercayai suami, menjaga rahasia pribadi, keluarga, pekerjaan dan pelayanan, hati-hati dalam berkata-kata, mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh diceritakan agar gosip tidak berkembang. Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan dan mulutnya berseru meminta pukulan orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya (Amsal 18:6,7).

- Mengatur keuangan yaitu Istri yang baik akan dipercaya oleh suami karena mampu mengatur keuangan dengan penuh tanggung jawab. Istri yang bijak membangun rumahnya, tetapi istri yang bodoh meruntuhkan dengan tangannya (Amsal 15:13).

Mengatur Rumah Tangga yaitu tugas mengatur rumah tangga bukanlah tugas yang sepele (Titus 2:5). Termasuk wanita karir

- seharusnya tahu mengatur rumah tangga dengan baik dan tidak boleh menelantarkan rumah tangga.

Rajin dan kreatif

Bangun kala masih malam (Amsal 31:15a) pada malam hari pelitanya tidak padam (Amsal 31:18b) ia sedang bekerja dengan tangannya (Amsal 31:13b). prinsipnya disini adalah seorang istri hendaknya rajin dan kreatif, mempunyai kesediaan dan kemampuan bekerja keras. Seorang istri, ibu rumah tangga yang malas, boros dan hanya bermalas-malasan akan mengakibatkan rumah tangga yang berantakan.

Penolong yang berhikmat

Ia membuka mulutnya dngan hikmat (Amsal 31:26) istri tahu kapan harus berkata-kata sesuai dengan waktu, tempat dan situasi. Ia tahu kapan harus memberikan pujian atau koreksi kepada suaminya. Perkataan yang diucapkan pada waktunya, seperti buah apel emas dalam pinggan perak (Amsal 25:11).

penolong yang mantap dalam penampilannya.

Dalam penampilan yang terutama adalah perhiasan rohani (batin), namun jangan mengabaikan perhiasan lahiriah. Sangat menyedihkan jika istri menyambut suami dengan rambut kusut dan daster yang kotor, istri yang melalaikan diri tidak menjadi penolong yang baik. Jangan mengeluh jika suami mulai melihat wanita lain yang tahu merawat diri. Istri yang baik juga tahu menghias diri sesuai dengan profesi suaminya shingga membeikan rasa hormat dan wibawa

Tunduk dan menghormati Suami

Istri hendaklah menghormati suami (Efesus 5:33b). Hai Istri tunduklah kepada suamimu sepei kepda Tuhan (Efesus 5:22). Istilah tunduk dan hormat mungkin merupakan istilah yang menjengkelkan bagi istri yang dominan terhadap suami, terlebih bagi istri yang memiliki alasan rasional untuk dominan dalam keluarga. Namun agar keluarga menjadi bahagia, prinsip-prinsip keluarga dalam Alkitab perlu digali dan ditaati. Kemungkinan kehancuran keluarga karena diabaikannya prinsip tersebut dalam kehidupan keluarga Kristen. Allah telah mengajarkan bagaimana istri berlaku kepada suami, yaitu tunduk dan hormat.

Prinsip istri tunduk terhadap suami memang sudah sewajarnya, baik dilihat secara kronologis penciptaan, terlebih lagi merupakan perintah Allah agar istri tunduk terhadap suami, termasuk tunduk kepada suami yang tidak beriman (Efesus 5:21; I Petrus 3:27). Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yang tidak taat kepada Firman, merka juga tanpa perkataan dimenengkan oleh kelakuan istri, jika mereka meliht, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka. (I Petrus 3:1-2)

3. Mengasihi Suami

Pernikahan Kristen diikat oleh kasih Kristus, karenanya suami istri harus saling mengasihi. Kasih akan menciptakan kebahagiaan dalam keluarga. Kualitas kasih dalam keluarga Kristen adalah sepeti kasih Tuhan Yesus kepada jemaat. Yang pertama harus dikasihi seorang istri adalah suaminya. Bahkan setelah mereka memiliki anak sekalipun, istri harus mengasihi suaminya terlebih dahulu. Di dalam beberapa rumah tangga mungkin saja istri melupakan persekutuan dengan suaminya, istri lebih banyak mencurahkan kasihnya untuk anak-anak. Sikap ini tidak baik. Ayah dan ibu harus bersam-sama mengasihi dan memelihara anak-anak mereka. akan tetapi kehadiran anak-anak tidak boleh mengurangi kasih suami istri.

B. Peranan Ibu bagi Anak.

Istri tidak hanya berperan terhadap hidup dan kemajuan karier suami, tetapi juga menentukan kemajuan anak. Kualitas keluarga dari sisi lain juga dapat tercermin dari kebahagiaan, pertumbuhan dan kemajuan anak, karena kehancuran dan ketidak bahagiaan rumah tangga dapat mengakibatkan anak menjadi korban. Di bawah ini akan diuraikan peran ibu terhadap anaknya antara lain:

- Memelihara dan mengasuh anak.

- Menyediakan makanan bagi anaknya (Amsal 31:15a)

- Mengasuh dan mengawasi anak (Amsal 31:27a)

- Imam bagi anak-anaknya

Doa orang benar besar kuasanya dan Tuhan mendengarkan doa orang yang jujur dan Tuhan berjanji untuk menjawab doa (Matius 7:7). Sebagai imam berarti menyampaikan keluhan, masalah dan sukacita anak kepada Tuhan. ibu juga berperan menjadi penyambung lidah Allah, yaitu menyampaikan Firman Allah kepada anak.

- Teladan bagi anaknya

Perlu disadari bahwa kehidupan ibu sangat mewarnai kehidupan anak, baik hal positif maupun hal yang negatif. Perkataan, perbuatan, dan gaya hidup orang tua akan diteladani anak-anak (Amsal 20:15, 14:1; 31:20).

- Sebagai guru

Sebagai guru seorang ibu harus dapat mendidik anak-anaknya. Hai anak-anakku dengarlah didikan ayahmu dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu (Amsal 1:8b).

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Rasa tanggung jawab sejati haruslah bersumber pada nilai-nilai asasi kemanusiaan. Nilai-nilai tidak dapat diajarkan secara langsung. Nilai-nilai dihirup oleh anak dan menjadi bagian dari dirinya hanya melalui proses identifikasi, dengan pengertian lain, anak menyamakan dirinya dengan orang yang ia cintai dan ia hormati serta berusaha meniru mereka. Contoh hidup yang diberikan orangtua, akan menciptakan suasana yang diperlukan untuk belajar bertanggung jawab. Pengalaman-pengalaman konkrit tertentu memperkokoh pelajaran itu, sehingga menjadi bagian dari watak dan kepribadian anak.

Suami istri juga harus dapat mengerti dan melakukan tanggung jawabnya masing-masing sehingga kedua belah pihak mejalani keluarganya dengan penuh sukacita dan damai sejahtera. Kelurga Kristen yang bertanggung jawab secara tidak langsung dapat menjadi berkat bagi keluarga lain dan bahkan khususnya bagi keluarga yang masih belum mengenal Tuhan Yesus.

B. Saran

Melalui ini, penulis menyarankan agar setiap keluarga Kristen dapat menjadi teladan dimanapun berada. Untuk harus hidup dengan melakukantanggung jawabnya baik suami maupun istri

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 8 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 9 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Menimbang Ulang Transmigrasi: Kritik …

Mirza Buana | 7 jam lalu

DIY = Do It Yourself , Cara Membuat Teh …

Gitanyali Ratitia | 7 jam lalu

PKS Jauh Lebih Hebat Dari Koalisi Indonesia …

Puspita Sari | 8 jam lalu

Tukang Sate dapat Dukungan SDA, Sejumlah …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Belum Ada Judul …

Muhammad Ihya'u... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: