
Dibaca: 30
Komentar: 0
Nihil
“Mas, besok bisa datang kan?”
“Insya Allah.”
“Insya Allah itu berarti 99 % datang lho!”
Saya hanya tersenyum mengakhiri percakapan dengan seorang kolega. Sambil ngeloyor kabur tentu, daripada diberondong pertanyaan terus.
Kolega tersebut bertanya dalam rangka kepastian kedatangan saya dalam acara yang akan dihajat keesokan hari. Sebenarnya penting nggak penting sih saya datang, Datang ya syukur, enggak ya nggak masalah.
Jawaban spontan berupa “Insya Allah” adalah kata manjur bagi orang Jawa yang dikenal enggak jelas seperti saya ini. Kalau “Insya Allah”-nya orang Arab sih 99 % datang. Lha, kalau orang Jawa justru kebalikannya, 99 % tidak berangkat.
Saya sendiri kadang tidak paham, apabila diundang ke sebuah acara oleh teman, bahkan yang saya pastikan tidak bisa datang pun, alam bawah sadar saya akan memerintahkan menjawab “Insya Allah”.
Jawaban itu adalah jawaban aman bagi orang Jawa yang nggak terbiasa menolak langsung. Walaupun di kalangan sesama orang Jawa sudah paham bahwa hal itu adalah penolakan secara halus.
Nah, dalam era digital dus abad teknologi informasi saat ini pun saya masih nguri-nguri budaya Jawi. Contohnya bisa dilihat di Facebook. Hampir setiap membuka media sosial itu pasti ada saja undangan event ini itu. Konfirmasi kedatangan kita dalam event tersebut bisa dilakukan via Facebook. Sayangnya, konfirmasi itu cuma ada tiga pilihan. Yes, No, dan Maybe Attending. Nggak ada pilihan Insya Allah. Ya sudah, saya pun meng-klik tombol Maybe Attending di semua event.