Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Arc74

Simple is Beauty

Sudahkah Kita Merdeka ?

OPINI | 14 March 2011 | 17:16 Dibaca: 85   Komentar: 1   0

Sudah hampir 66 tahun klaim kemerdekaan Indonesia di pekikkan negeri ini keseluruh penjuru dunia. Namun yang menjadi pertanyaan kini adalah, apakah negeri ini sudah benar-benar merdeka dari penjajaha? Kalau melihat sejarah nasional Indonesia dimana proklamasi kemerdekaan pertama kali di teriakkan pada tanggal 17 agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta dkk. Jika ditinjau secra mendalam justru dari apa yang Soekarno-Hatta dkk teriakkan pada 17-08-45 adalah kemerdekaan yang sebenar. Walaupun kenyataannya masih terjadi penjajahan di negeri ini kala itu.

Lantas apa pelajaran yang sebenarnya dapat di ambil dari peristiwa proklamasi tersebut? Ada satu hal yang sangat krusial sebenarnya terselip dalam peristiwa proklamasi tersebut yang menunjukkan apa arti kemerdekaan yang sebenarnya. Suatu hal yang dapat merubah setiap masyarakat negeri ini menuju ke kemerdekaan yang hakiki yang telah dicontohkan oleh para pahlawan kita untuk ditiru di kemudian hari bagi generasi penerus bangsa ini. Bila kita lihat arti kata merdeka secara bahasa, menurut kamus besar bahasa Indonesia merdeka bermakna (tidak dijajah, diperintah atau dipengaruhi oleh negara lain). Coba kita fokuskan artian merdeka tersebut pada satu kata “dipengaruhi”, kata inilah yang menentukan kita sudah merdeka, merasa merdeka ataukah belum.

Arti kata merdeka “tidak dipengaruhi” inilah yang menjadi dasar mengapa kita bisa menyimpulkan bahwa proklamasi yang di teriakkan Soekarno-Hatta dkk merupakan suatu kemerdekaan yang sebenarnya. Dimana kala itu masyarakat Indonesia secara individu maupun kelompok sudah tidak mau lagi dipengaruhi oleh para penjajah baik itu menyangkut kehidupan pribadi maupun politik. Yang jelas kala itu masyarakat Indonesia benar-benar merasakan kebebasan dari belunggu yang selama ini memasung mereka dalam segala hal. Maka tak salah jika dikatakan mereka telah merasakan kemerdekaan yang sebenarny.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kemerdekaan itu bukanlah hanya terbebas dari penjajah, namun kemerdakaan itu sendiri muncul dari dari pribadi masing-masing individu dalam usahanya melawan pengaruh luar yang membelenggu kebebasan hidupnya. Lalu yang jadi pertanyaan apakah hanya dengan pekikan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17-08-45 oleh Soekarno-Hatta dkk dapat dikatakan bahwa bangsa ini telah merdeka selamanya tanpa ada upaya tindak lanjut dari kita semua. Tentu saja tidak berhenti di sini saja perlu sedikit usaha dari kita jika ingin merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Sebagaimana telah dicontohkan oleh para pahlawan dalam membebaskan diri dari pengaruh luar yang telah membelenggu pola piker dan kehidupannya.

Maka dari itu marilah kita pekikkan kembali proklamasi kemerdekaan pada diri kita masing-masing untuk membebaskan diri dari belenggu pola piker masyarakat Indonesia yang saat ini masih terjajah. Yang pada kenyataannya akibat penjajahan pola pikir inilah sehingga mengakibatkan bangsa ini susah untuk maju. Pola pikir seperti apakah sebenarnya yang sedang menjajah bangsa ini?

Salah satu contoh penjajahan pola pikir terhadad bangsa ini adalah, bahwa masyarakat kita saat ini sudah tidak berani lagi untuk bermimpi dan bercita-cita. Salah satu dampaknya adalah saat ini masyarakat kita sudah tidak percaya lagi dengan kemampuannya sendiri sehingga banyak terjadi suap dalam berbagai bidang demi mendapatkan keinginan yang dia rasa tidak bisa diraihnya tanpa embel-embel uang. Dan yang sangat memprihatinkan adalah pola pikir peninggalan penjajah yang memang dirancang untuk tidak memajukan bangsa ini masih saja di anut. Dimana sebagian orang masih menganggap bahwa menjadi pegawai pemerintahan lebih baik dan terhormat, di bandingkan menjadi seorang wirausaha. Sehingga mengakibatkan sektor ekonomi Indonesia lebih banyak di kuasai oleh orang asing, baik itu di bidang industri maupun perdagangan. Jadilah Indonesia menjadi budak di Negeri sendiri.

Untuk itu marilah kita renungkan kembali hakikat dari proklamasi kemerdekaan RI, demi terwujudnya Bangsa yang maju, mandiri dan berbudaya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gayatri, Sang “Doktor Cilik” Itu Telah …

Randy Ghalib | | 24 October 2014 | 12:25

Ide Fadli Zon Bangun Perpustakaan & …

Hazmi Srondol | | 24 October 2014 | 08:54

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Tindak Pidana di Indonesia Masih Tinggi, Ini …

Joko Ade Nursiyono | | 24 October 2014 | 08:14

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 7 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 10 jam lalu

Jokowi Ngetest DPR …

Herry B Sancoko | 12 jam lalu

Jika Tak Lulus CPNS, Kahiyang Akan Jaga …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Nenek Ingin Sendiri …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Menelusuri Alam Pemikiran Mahatma Gandhi …

Kukuh Fany Fatkhulo... | 7 jam lalu

Surat Terbuka Kepada Kahyang Ayu Anak …

Abest | 7 jam lalu

Ada Apa di Ternate..? …

Teberatu | 7 jam lalu

Hanya Evan Dimas, Apa Paulo Belum Pantas ? …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: