Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Reog Ponorogo Menciptakan Tontonan jadi Tuntunan

REP | 27 February 2011 | 04:48 Dibaca: 824   Komentar: 1   0

Melestarikan budaya asli Indonesia bukanlah hal mudah. Tak jarang mesti menonjolkan jiwa sosial. Salahsatunya, Kesenian Reog Ponorogo. Pagelarannya, terkadang justru hanya dinilai sebatas ’selayang pandang’.

IRONIS memang, ketika kesenian daerah Jawa Timur ini sempat jadi wacana perdebatan antara Indonesia dengan jiran tetangga. Tari Reog Ponorogo jadi bahan rebutan.

Tentu, masih segar dalam ingatan kita. Ketika Malaysia mengakui tarian itu sebagai budaya asli negara beribukotakan Kualalumpur itu. Sontak, Indonesia berontak.

Dengan tegas mengakuinya sebagai budaya negara bermottokan *Bhineka Tunggal Ika.

Tapi, apakah kelestariannya disetiap daerah benar-benar telah dipupuk dan dibina dikalangan masyarakat secara berkelanjutan?

Memang, Labuhanbatu bukanlah berpenduduk asli suku Jawa. Tapi, dari sekian grafik jumlah masyarakatnya, sesuai sensus dan cacah statistik kependudukannya selama beberapa tahun belakangan dominan dihuni warga yang memegang teguh falsafah sedulur papat kalima pancer.

Dalam artian, eksistensi warga suku Jawa, kini sudah cukup diperhitungkan dengan suku-suku lainnya.

Terlebih-lebih, sejak hadirnya paguyuban putra jawa kelahiran sumatera (Pujakesuma).

Memasuki usia wadah kerukunan warga Jawa itu yang ke 28. Kini, telah banyak muncul pemimpin dan tokoh dari etnis itu yang duduk didepan dalam segala bidang. Baik ditata pemerintahan, politik, sosial dan lainnya.

Seiring perkembangannya, ternyata belum sebanding dengan upaya melestarikan seluruh kebudayaan dan kesenian yang sengaja di import dari pulau aslinya.

Misalnya saja, kesenian tari jaranan pegon,reog ponorogo atau reog prajuritan.

Paduan kesenian ini, boleh dibilang cukup langka dan jarang ditemukan. Pun adakalanya dan waktu-waktu tertentu terlihat.

Dapat dijamin, tidak seluruh etnis Jawa di daerah ini mengetahui lokasi pelestariannya. Namun, jika memang ingin menyaksikan dan ingin mengenal lebih dekat kebudayaan ini, hanya dapat ditemui di Dusun Suka Mulia, Desa Pondok Batu, Kecamatan Bilah Hulu, Labuhanbatu.

Sebab, untuk daerah ini, kelompok kesenian Reog Suko Budoyo lah satu-satunya yang ada dan tetap eksis.

Tapi, apakah dengan upaya pelestarian budaya itu, dibarengi lestarinya perhatian dan kecintaan terhadap seni itu? Dan, apakah awak-awak yang tetap mencintainya juga lestari dalam perekonomian?

Jumat siang kemaren, seorang pria tua kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur, 68 tahun silam tampak meniup sebuah alat musik.

Kurang jelas terdengar intonasi alunan dari alat musik itu. Tapi, kental terdengar mewakili kegundahan hatinya akan kelestarian budaya asli Indonesia yang kian tergerus oleh modernisasi jaman. Pasalnya, kini lebih condong mengadopsi budaya western.

Karmin, nama pria yang kala itu duduk diserambi rumahnya mengenakan baju warna hitam dan memakai penutup kepala yang identik disebut dengan nama blangkon.

Raut tua wajahnya kian mencerminkan gundah hatinya. Ketika disambangi, sontak membuyarkan imajinasinya. Tapi, Karmin lantas mengaku kalau lagi menajamkan hafalan tembang-tembang yang dilantunkan manakala sedang pementasan. “Ngak koq. Cuma terus mengafal bait-bait tembang untuk pementasan mendatang,” ujarnya memulai pembicaraan.

Memang, dia adalah pemimpin grup kesenian Reog Suko Budoyo. Selaku dirijent music di kelompok itu, dia katanya berperan utama memimpin. Dia, akunya dengan Tompret (sejenis alat musik tiup) memandu pementasan.

Dengan nada musik yang tak jarang mengandung tembang Jawa mengajak para penonton untuk lebih memaknai hal-hal yang baik.

“Bait-baitnya dominan mengajak orang lain untuk lebih mengentalkan rasa persatuan bernegara,” paparya.

Khususnya, kata dia, untuk mengerti makna Pancasila. Katanya, sejarah berdirinya kelompok Reog Suko Budoyo sudah relatif lama.

Tak kurang dari 37 tahun silam. “Ya, awalnya sejak saya datang ke Labuhanbatu ditahun 1963 lalu, mencoba mendirikan kelompok ini. Mulanya, untuk melepas rindu ke kampung asal. “Karena, dengan kesenian itu dapat mengingatkan akan daerah asal,” imbuhnya seraya membuka sejarah.

Dasar itulah, Karmin dengan peralatan pendukung seadanya bermotivasi mempertahankan budaya dan kerinduan daerah kelahirannya.

Seiring perkembangan jaman, kelompoknya yang terus regenerasi juga turut bertahan. Kini, perpaduan didalam kelompok itu telah memiliki jenis kesenian Jaranan Pegon, Reog Ponorogo dan Reog Prajuritan.

“Ya, itu satu perpaduan. Ketiganya tak jarang dilakonkan dalam satu pementasan,” bebernya.

Kini, kelompok itu memiliki anggota sebanyak 25 orang. Masing-masing memiliki peran penting setiap pementasan. “Untuk memainkan gendang ada 3 orang. Tipung 2 orang. Angklung 3 orang. Kenong 2 orang. Tompret sebanyak 1 orang dan Gong 2 orang.

“Selebihnya merupakan penari reog, dan jajaran pegon,” urainya.

Meski, tetap mampu bertahan dalam hitungan jangka waktu lama. Namun, eksistensinya hanya sekedar mampu bertahan hidup.

Soalnya, berbagai peralatan pendukungpun kian rusak dimakan jaman. Alhasil, untuk tetap memiliki peralatan pengganti, tak jarang dirinya mesti ‘putar otak’.

Sebab, mendapatkan peralatan yang standart untuk manggunghanya dapat dipesan ke pulau Jawa. Makanya, bila ada peralatan yang dapat diperbaiki sendiri, dia lebih sering melakukan inovasi.

“Ya, kadang kita mesti kreatif. Jika ada alat yang dibutuhkan kita mesti bisa membuat sendiri. semisal, topeng Barongan. Kita mesti memiliki kepandaian memahat kayu. Dan, memiliki imajinasi tersendiri memunculkan tampilan wajah dan perwatakannya,” tukasnya.

Tak sedikit alat pelengkap kesenian itu dicipta oleh Karmin. Malah, untuk jenis gendang dan lainnya, kepiawaiannya dalam pertukangan kayu memberi arti tersendiri.

“Kadang untuk gendang juga memanfaatkan drum kaleng dan kulit kerbau,” katanya.

Sebab, untuk alat yang standart mesti menyediakan dana tak kurang dari Rp70 juta. Konon hal itu didapat melakukan pemesanan ke pulau Jawa. Terlebih lagi, lanjutnya, kian sukarnya menemukan beberapa jenis peralatannya.

“Malah, untuk mendapatkan bulu-bulu burung Merak untuk topeng reog ponorogo terpaksa pesan ke luar daerah. Itupun mesti jenis Merak Lumut. Karena jenis ini, bulunya lebih berkilat,” sambungnya.

Tak jarang, dalam melengkapi alat-alat itu, mereka membutuhkan waktu lama. “Soalnya, mesti ngumpul kan duit dulu. Patungan hasil pementasan. Setiap selesai manggung mesti disisihkan untuk membeli alat,” paparnya.

Lantas, kapan moment dilakukan pementasan dan nilai pendapatan setiap pesanan manggung. Karmin dengan lirih mengaku prihatin. Soalnya, rata-rata jadwal pementasan itu relatif rendah. Sementara, nilai yang diperoleh juga terkesan belum sebanding.

“Ya, palingan kalau ada yang ngundanguntuk acara mantenan atau sunatan rasul. Kalau upah, juga ngak tentu. Kisaran Rp1 juta hingga Rp2 juta. Lihat lama manggungnya,” tuturnya.

Malah, katanya, tak jarang mereka juga hanya sekedar sosial dalam pagelaran. Itu, kerap terlihat sewaktu peringatan hari-hari besar kenegaraan. “Malah kalau perayaan 17-an tak jarang kita hanya ikut partisipasi arak-arakan barisan pawai,” paparnya.

Padahal, lanjut dia, para anggotanya juga rata-rata merupakan karyawan dibeberapa tempat usaha. Tak ayal, setiap ada pesanan manggung terpaksa absen dari pekerjaan.

“Dari semula sudah saya tanamkan kepada anggota agar mampu menentukan sikap. Kelompok Reog adalah pagelaran seni yang diharap sebagai tontonan agar menjadi tuntunan,” tandasnya.

KARMIN - Pendiri kelompok kesenian Reog Suko Budoyo

——————————————————————————————-

Reog Ponorogo Aksi tanpa Klenik?

Meliuk-liuk. Kilauan pantulan warna Bulu Burung Merak yang disisip pada topeng raksasa Reog Ponorogo memang indah. Kian mengundang minat untuk terus menyaksikannya. Konon halnya, topeng relatif berat itu hanya diangkat oleh penarinya dengan mempergunakan gigi. Sontak, para penonton berdecak kagum.Malah, tak sedikit yang berasumsi peragaan itu turut disertai magis. Lantas, benarkah klenik turut membantu pagelaran Reog Ponorogo?

Indah, itu yang tersirat ketika topeng raksasa Reog Ponorogo sedang dipentaskan. Bulu-bulu burung Merak Lumut yang terselip kian memantulkan kilauan keindahan ketika meliuk-liuk diterpa cahaya mentari.

Tapi, perpaduan kepala Harimau dan Bulu Merak yang memiliki kisah tersendiri dalam lakon sejarah antah berantah itu, kini kian sulit ditemukan eksistensinya.

Pun, adakalanya terlihat hanya pada masa-masa tertentu. Sebab, boleh jadi kelestariannya yang kian tergerus oleh perkembangan modernisasi jaman ataupun semakin sedikitnya kelompok-kelompok pelestariannya.

Menjadi hal unik. Topeng yang ditaksir mencapai puluhan kilogram bahkan hingga kisaran 30 kg itu hanya diangkat sang penari dengan mempergunakan cengkraman gigitan.

Itu, belum termasuk penambahan beban naiknya sosok bocah kecil. Atau, ketika pementasan berhembusnya angin yang sedikit banyak kian menambah kesukaran menggerakkan topeng Reog.

Belum lama ini, warga kota Rantauprapat dibuat kagum oleh aksi tarian Reog. Bertepatan pelaksanaan resepsi HUT Pujakesuma Labuhanbatu ke 28 di lapangan Ika Bina Rantauprapat, kelompok Seni Reog Suko Budoyo ambil bagian dalam kemeriahan acara etnis suku Jawa itu.

Terselip satu pertanyaan dari penonton. Apakah atraksi Reog Ponorogo juga dibarengi bantuan dunia klenik. Soalnya, dengan beban seberat yang dimiliki topeng itu, menjadi hal yang diluar nalar penonton untuk dapat mengangkatnya, hanya dengan mempergunakan gigi sang penari. “Ah, itu mungkin sudah memakai bantuan ilmu kebatinan. Soalnya, sukar diterima akal secara logika, mengangkatnya hanya mempergunakan gigi. Bisa-bisa gigi penarinya rontok semua. Konon lagi, relatif lama dan meliuk-liuk,” tuding salahseorang penonton.

Jumat siang kemaren, Subali salahseorang tokoh penting dibalik lakonan Reog Ponorogo itu berujar.Dia membantah jika kelompok Reog itu dibarengi bantuan ilmu-ilmu klinik. Apalagi jika pementasan Reog itu melibatkan bantuan bangsa Jin dan lelembut.

Tapi, katanya, semua itu hanyalah kepiawaian dan kemahiran penari yang melakukannya dengan trik-trik tertentu. “Tidak benar kita meminta bantuan makhluk halus. Reog Ponorogo tidak ada melibatkan ilmu klinik. Khususnya lagi bagi kelompok Reog Suko Budoyo. Itu semua adalah perpaduan seni tari dan seni beladiri,” ujarnya.

Dari sebanyak 25 orang anggota kelompok seni itu, Subali salahsatu tokoh penting dan juga salahseorang penari topeng Reog. Makanya, dia wajar membantah dan mengetahui pasti cara dan tehnik yang mesti dilakukan. “Hanya butuh latihan. Dan, jangan pernah sepele dengan trik yang diajarkan. Sebab, kunci keseluruhannya adalah bagaimana cara melaksanakan panduannya,” bebernya.

Dalam prakteknya, kata dia, di topeng raksasa itu memiliki tempat untuk cenkeraman gigi. Serta, tali yang dililitkan ketengkuk untuk membagi beban ke leher penari. Selanjutnya, penari mesti memperhatikan situasi dengan kekuatan seni beladiri. “Kita mesti memiliki kemampuan seni beladiri. Khususnya tentang kuda-kuda/pertahanan tubuh. Sebab, itu berfungsi utama menahan tubuh menanggung beban topeng Reog,” ulasnya.

Hal lainnya, kata dia adalah mengerti dengan kondisi cuaca dan udara lokasi pementasan. Karena, katanya, hembusan angin juga patut untuk dicermati. Sebab, sangat mempengaruhi dengan topeng Reog yang telah didirikan. “Jika ketepatan angin berhembus, maka sang penari secapatnya mesti mampu merubah posisi. Baik itu memalingkan wajah kekiri atau kekanan. Ataupun, menghindari posisi yang berlawanan dengan arah hembusan angin. Sebab, makin kencang angin berhembus, maka makin menambah berat beban yang ditanggung,” jelasnya.

Jika tidak, kata dia, maka tubuh akan ikut diseret angin. Kemudian, secara pasti leher sang penari akan mengalami rasa sakit yang keras. Malah, berpotensi terjadinya keseleo berat diotot leher. Selain itu, dampak yang timbul juga bisa fatal. Rontoknya gigi-gigi dirahang akan mungkin terjadi. “Makanya, disini fungsi mematuhi pedoman dan trik yang ada. Meski postur tubuh seseorang kekar, bukan berarti mampu memainkan tarian Reog. Tapi, meski tubuh tanggung namun menguasai teknik dan pertahanan tubuh. Maka, bukan tidak mungkin dengan seringnya melakukan latihan akan dapat memainkan tarian Reog,” ungkapnya.

Dibalik itu, tambah Subali, ada hal yang sangat bermanfaat bagi sang penari. Makin seringnya berlatih, selain menambah kemampuan juga secara tidak langsung juga telah melakukan olahraga. Sehingga, peredaran darah di kepala makin lebih lancar. Dan, pada gilirannya akan mampu menghindari terjadinya sakit kepala. “Penari Reog itu jarang, bahkan tidak pernah terserang sakit kepala. Sebab, seringnya memperagakan tarian Reog, juga telah adanya proses pelancaran peredaran darah di kepala,” tukasnya.

Tapi, apapun ceritanya, seni etnis Jawa yang kian langka ditemukan itu juga akan kian sirna seiring perkembangan kebudayaan luar yang terus masuk dan mempengaruhi jiwa para generasi muda.

Alhasil, Subali dan sosok-sosok pelakon seni budaya asli Indonesia kian khawatir dengan kondisi kekinian yang terjadi. Selain berdampak pada perubahan mentalitas pada generasi muda yang kian luntur mengenal dan mencintai budaya ke timuran, juga turut mempengaruhi perekonomian mereka.

Bagaimana tidak, kelompok seni Reog Ponorogo yang selama ini sedikit membantu prekonomian keluarga akan sirna selamanya. Dari itu, Subali tetap merindukan dan menanti perhatian pelbagai kalangan untuk tetap berupaya menyusun program-program pelestarian seluruh adat dan seni budaya yang ada.

Malah, upaya terus menarik perhatian kalangan muda, setidaknya mengenalkan seni Reog, tak jarang mereka melakukan pementasan secara sosial. “Tidak masalah. Kita meninggalkan pekerjaan untuk turut melestarikan budaya. Ketika ada tawaran manggung, juga kita masih memberi toleransi antara bisnis dengan kesosialan. Makanya, tak heran kita juga sering ikut acara-acara tanpa meminta bayaran. Dan, ketika ada tawaran pementasan, kita juga tidak akan memaksakan tarif. Meski terkadang pendapatan yang diterima setiap anggota relatif tidak setimpal lagi dengan kondisi perekonomian disaat sekarang ini,” tandasnya.

REOG - Meliuk-liuk. Kilauan pantulan warna Bulu Burung Merak yang disisip pada topeng raksasa Reog Ponorogo memang indah. Kian mengundang minat untuk terus menyaksikannya. Konon halnya, topeng relatif berat itu hanya diangkat oleh penarinya dengan mempergunakan gigi. Sontak, para penonton berdecak kagum.Malah, tak sedikit yang berasumsi peragaan itu turut disertai magis. Lantas, benarkah klenik turut membantu pagelaran Reog Ponorogo?

SUMBER:
http://www.facebook.com/profile.php?id=1675722446#!/note.php?note_id=95376724302

http://www.facebook.com/note.php?note_id=95377199302

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 13 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 13 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 14 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 17 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: