Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ferrynela

saya adalah orang yang lahir dan besar di daerah pesisir pantai utara jawa. Rembang, kota selengkapnya

Pesona Pekalongan Sebagai Kota Batik (Wujud Kearifan Lokal yang Terkelola)

REP | 31 January 2011 | 06:16 Dibaca: 381   Komentar: 1   0

Medengar istilah pekalongan ingatan langasung tertuju pada batik. dimana batik merupakan salah satu bentuk nyata keluhuran budaya bangsa. Dimana batik yang merupakan salah satu produk dari kearifan local mampu bertahan di tengah hantaman modernisasi.

Berbagai promosi batik pun telah di lakuakan. Bahkan pemerintah daerah telah mencanangkan pameran batik, di tengah kota. Di sana berbagai macam produk batik di tawarkan. Hal tersebut merupakan keberpihakan pemerintah atas budaya local.

Betapa kagumnya ketika setiap sudut kota terdapat rumah batik, baik yang terlihat mewah maupun sederhana. Betapa batik sudah mendarah daging bagi masyarakat pekalongan.

Di pekalongan juga terdapat pasar grosir sentono yang cukup terkanal. Terdapat berbagai jenis batik, Baik batik cap maupun tulis. Harganya reletif murah, Selain itu harganya dapat di tawar. saya juga menyempatkan diri melihat keagungan batik di museum batik. Berbagai macam batik di pamerkan di sana. Sayang museum sedang sepi. Selain koleksi batik pengunjung di ajak untuk membuat batik. Betapa rumitnya membuat batik, harus dengan kesabaran. Di butuhkan berkisar tiga bulan untuk membuat satu kain batik.

Selain sentuhan tradisional pekalongan tak lepas dari sentuhan tangan modernisasi. Beberapa mata saya melihat supermarket yang popular di Indonesia. Tak heran jika Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset (DPPKA) Kabupaten Pekalongan, Jateng, menargetkan pendapatan daerah pada 2010 sebesar Rp689,1 miliar atau meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya ditargetkan Rp662,9 miliar

Bagaimanapun unsur modern tak dapat lepas dari menggeliatnya kegitan perekonomian daerah. Menunjukan bahwa selain tradisional untuk mampu bersaing tak mampu untuk benar-benar meninggalkan modernisasi.

Inilah kearifan local yang melekat di dalam masyarakat pekalongan. Di tengah hantaman modernisasi mampu mempertahankan budayanya. Dengan pendekatan kearifan local pula batik mampu bertahan. Ketika melihat di pasar grosiran sentono pekalongan, batik pekalongan menujukan eksistensinya.

Terdapat dua dimesi, dimensi produck dan dimensi pasar. Dimensi produk batik sebagai hasil dari keagungan kebudayaan. sedangkan pasar dimana dapat berinteraksi antara penjual dan pembeli. Interaksi di pasar tradisional lebih bersifat nyata dan lebih intens. Berbeda dengan supermarket (mall) yang cenderung menawarkan harga pas, di pasar grosiran ini dapat di tawar. Pola komunikasinya pun hanya sekejab.

Kini Batik tidak hanya milik orang pekalongan atau jawa karena batik sudah menyebar di seluruh nusantara. Bahkan sekarang dunia melalui UNESCO telah mengakui eksistensi batik. Hingga dapat menggerakan perekonomian pekalongan.

Batik juga dapat memberi sumbangsih terhadap perekonomian. Dari sisi ekspor member sumbangsing cukup besar. Pada triwulan I 2009 batik menyumbang eksport sebesar 10,86 juta. Sehingga mampu memberikan sumbangsih devisa, dan konsekwensi lain adalah mampu mnyerap tenaga kerja.

Industri TPT 2006 lalu menyerap 1,2 juta tenaga kerja, tidak termasuk industri kecil dan rumah tangga. Selain itu menyumbang devisa sebesar US$9,45 miliar pada 2006 dan US$10,03 miliar pada 2007. Secara konsisten industri TPT memberi surplus (net ekspor) di atas US$5 miliar dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini.

Belajar dari batik di pekalongan, Kearifan local dari sebuah daerah pun menyimpan potensi. Dimana peran semua aspek di perlukan, baik dari pemerintah, pengusaha maupun masyarakat sendiri. Haruslah mampu bersinergi agar berkembang dengan baik sesuai peran dan fungsinya.

Peran tri partit harus di maksimalkan. dimana peran pemerintah sebagai motor tergeraknya industry berbasis kearifan local, industry(pengusaha) sebagai ujung tombak penyedia supllay, dan masyarakat yang akan menikmati layanan pun harus di berdayakan baik sebagai produsen sekaligus konsumen.

Kearifan local yang berpijak pada budaya merupakan potensi yang terus dapat di gali. Indonesia dengan berbagai budaya menyimpan potensi tersebut. Pembanguanan dapat diarahkan agar berbasis kearifan local.

Meski demikian inovasi pun perlu menjadi pertimbangan. Dimana kearifan local dapat di sesuaikan dengan kekinian. Perlu di garis bawahi kekinian bukan berarti menggerus nilai-nilai yang telah tertanam dalam kearifan local suatu daerah. Sehingga menciptakan keunggulan kompetitif.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 8 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 16 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 10 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 10 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Mabate Wae | 11 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 11 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: