Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sulhayat Takdir

sekarang tinggal di Kota Parepare,sulsel. pernah bekerja di majalah fakta surabaya, majalah polda sulsel (pallawalipu),tabloid selengkapnya

Kepemimpinan dan Filosofi Bugis

OPINI | 28 January 2011 | 07:01 Dibaca: 654   Komentar: 0   0

Hakekat pembangunan, adalah perbaikan isi pikiran manusia. syarat utamanya, bahwa suatu negara dalam program pembangunan nasional adalah energi, skill dan karakter. untuk membangun, di perlukan isi pikiran manusia lebih dahulu. Cara demikian ditempuh bangsa Jepang karena telah membudaya faham Bushido sama dengan pengertian siri’ (malu).

Dipandangan hidup orang-orang Sulawesi Selatan, mengandung etik pembedaan antara manusia dan binatang, dengan adanya harga diri dan kehormatan yang melekat pada manusia dan mengajarkan moralitas kesusilaan berupa ajaran, larangan, hak dan kewajiban yang mendominasi tindakan manusia untuk men jaga dan mempertahankan harga diri dan kehormatan.

Siri’, adalah hasil proses en dapan kaidah yang diterima dan berlaku dalam lingkungan masyarakat, sebagai per tumbuhan berabad-abad sehingga mem budaya. Maka siri’ tak mungkin sama dengan kejahatan. Rasa harga diri dan kehormatan sebagai esensi siri’ secara implisit mem bawa pengertian Malu. Suatu rasa yang timbul akibat adanya perkosaan terhadap harga diri dan kehormatan. Siri mewajibkan adanya tindakan terhadap penyebab timbulnya malu.

Dalam ungkapan buku karangan Dr. Shelly Errington, bahwa hanya dengan Siri kita disebut manusia. Jika itu tak ada Siri, bukan lagi kita manusia. Kita hanya bernama orang-orangan. Ungkapan Dr. Shelly ini ter kenal di Sulwesi Selatan.

Bahwa Siri menempati posisi sentral dalam kerangka sistem nilai budaya Sulawesi Selatan yang dapat diketahui dalam ungkapan-ungkapan leluhur Sulawesi Selatan lewat penafsiran Dr. B. F. Mattes : “Hanya karena Siri’ ku maka aku mempertuanmu, gila tuanku mencabutnya maka hubungan antara kita putus dan aku tak menghiraukan nyawamu lagi”.

Sedangkan Prof. Dr. Mr. Zainal Abidin, seorang sejarawan dan Budayawan Sulawesi Selatan berpendapat, di masyarakat Sulawesi Selatan banyak ditemukan nilai-nilai budaya, dan yang paling fundamental adalah :

Siri’ merupakan pandangan hidup yang bertujuan untuk mempertahankan dan me ningkatkan harkat dan harga diri, baik sebagai individu, maupun sebagai mahluk sosial.

Pesse (Bugis), (Makassar), dapat diartikan sebagai perasaan yang halus dalam memelihara rasa kebersamaan dalam kedukaan dan penderitaan setiap anggota masyarakat.

Were (Bugis), Sare (Makassar), bermakna bahwa hanyalah dengan bekerja keras tanpa bosan yang dapat merubah nasib seseorang.

Seorang yang dibesarkan dalam lingkungan adat Bugis yang demokrasi, harus memiliki kepekaan dan responsif dalam memahami dinamika perkembangan masyarakat.

Sepereti ajaran lontara dengan satu sikap, bahwa “Kepemimpinan dari Pemimpinnya”.

Filosofi ini mengajarkan, Jati diri seorang pemimpin dengan yang dipimpinnya, bukan hubungan struktural yang mengandalkan hierarki jabatan yang mengandalkan kekuatan bahkan arogansi kepemimpinan dari pemim pinnya.

Melainkan seorang pemimpin harus memiliki karakter yang arif dan bijaksana, memiliki kepekaan dan responsif dalam memahami dinamika masyarakat yang dipimpinnya.

Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai budaya Bugis itu, maka pemaknaan nilai budaya yang berlaku di masyarakat Bugis, merupakan nilai budaya yang bersifat sangat fundamental bagi masayarakat Bugis dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, kemudian di telaahnya, dengan menerapkan kandungan filosofi bugis;

Pertama, Lempu yang berarti jujur.

Kedua, Getteng berarti tegas, berani dan kuat dalam pendirian.

Ketiga, Ada’ Tongeng mengandung pengertian “berpegangan pada kebenaran.” Keempat, Temmapaisilaingeng bermakna “berlaku adil kepada semua pihak”.

Folosofi itu mengajarkan suatu cita-cita luhur yang ingin dicapai secara bertahap.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: