Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Om Widy

Firdaus - Dunia - Surga (neraka dimana?)

Mengatasi Kemacetan Jakarta

REP | 27 January 2011 | 19:46 Dibaca: 634   Komentar: 6   1

12961089534091498
Macet sebagai Ciri khas sekaligus problem :

Jakarta macet, kuno. Dari jaman rekiplik kemacetan Jakarta sudah jadi ciri khas. Kalau tidak macet bukan Jakarta namanya.

Anggapan seperti ini sebenarnya menunjukkan akan “maklumnya” kemacetan ini. Tapi tetap saja ketika mengalami sendiri dada terasa mau meledak juga.

Mekanisme Kemacetan :

Kemacetan sebuah arus lalu-lintas berarti panjang jalur lintasan, yang belum tentu jalan darat, lebih pendek dibanding panjang jalur kendaraan yang melewatinya. Ini definisi teknis kemacetan lalu-lintas dari pandangan Teknik Jalan Raya (yang terutama medasari teori kemacetan pelajaran System Transportasi mahasiswa Teknik Sipil Jurusan Transportasi ).

Berbagai macam kebijakan, pengembangan dan perbaikan sarana, penertiban pengguna lalin dan sistem antrian (sebenarnya ini sudah termasuk dalam kebijakan) sampai aturan-aturan sporadis yang sekedar coba-coba, semuanya sudah dilaksanakan di kota-kota yang mengalami kemacetan permanen seperti Jakarta. Hasilnya …… macet-lagi … macet lagi.

Memperpanjang jalur lintasan adalah satu-satunya cara teknis mengatasi kemacetan. Aplikasinya bermacam-macam. Mulai dari mengarahkan lau-lintas untuk memutar ( yang artinya panjang lintasan yang ditempuh sebuah kendaraan menjadi lebih panjang ), memperlambat sebuah arus menuju suatu lokasi (yang diterapkan di jalan tol Jagorawi dimana pada pagi hari mobil patroli Polantas berjalan lambat-lambat ditengah tol agar lalin dibelakangnya terhambat dan melambat untuk masuk Jakarta), aturan 3 in 1 yang artinya 3 mobil yang mungkin dikendarai masing-masing hanya satu orang menjadi hanya satu mobil, dsb … dsb … termasuk membangun  jalur baru dan alternatifnya, semuanya adalah aplikasi memperpanjang jalur dibanding panjang antrian kendaraan yang ada. Masih saja gagal ……………. mengapaaaaaa?. Ya karena panjang antrian memang selalu lebih dibanding saranya. Perbedaannya terlalu besar sehingga semua alternatif itu tidak terlalu berpengaruh, bak menggulai (memberi gula maksudnya) laut.

Jadi apalagi. Laut yang asin diberi gula supaya asinnya berkurang atau berubah, bagaimana caranya ? Yang diberi gula yang banyak. Mengatasi kemacetan Jakarta hanya dicoba untuk diatasi oleh pemerintah atau pemda ?. Terlalu sedikit yang mencoba mengatasi, pemerintah atau pemda berapa jumlahnya ?

Jadi harus ada kekuatan dalam jumlah besar untuk ikut mengatasi ini, siapa? Ya anda-anda yang punya kendaraan dan memakai jalan itu (saya tidak termasuk karena saya cuma jalan kaki, tidak ada trotoar macet …).

Cara Mengatasi Kemacetan :

Lalu cara mengatasi kemacetan Jakarta?. Caranya adalah :

BIARKAN SAJA SETIAP HARI MACET DAN SEMAKIN LUAS AREA KEMACETAN.

Ya …. hanya itu cara mengatasi kemacetan Jakarta. Lho …. apa hubungannya dengan segala teori diatas?.

Ya tetap ada, yakni memperpanjang jalur dibanding kendaraannya, ini identik dengan memperpendek antrian kendaraan pengguna jalur lalu-lintas.

Trus bagaimana?

Semakin macet, semakin ruwet lalu lintas Jakarta, anda akan semakin stres, kesal, marah, mual sampai menderita kram perut, pokoknya anda akan sangat menderita ……………..

Pada saat itulah anda-anda akan mulai secara bersama tumbuh kesadaran yang kuat memaksa diri anda sendiri untuk ikut bersama melaksanakan program mengurangi/menghilangkan  kemacetan di Jakarta atau di kota anda. Dengan apa ?, anda mulai berpikir dan akhirnya memutuskan untuk tidak “boros” menggunakan kendaraan di jalan.

Setiap keluarga tidak keluar dengan mobil sendiri, anaknya, ibunya, kakeknya bahkan pembantu keluar rumah selalu membawa kendaraan masing-masing.

Memaksakan diri naik kendaraan umum.

Keluar rumah hanya memang perlu, tidak setiap saat ke mal tanpa keperluan yang penting atau benar-benar perlu.

Memaksakan diri mulai meberdayakan kaki untuk menempuh jarak tertentu, dimana selama ini kaki anda sudah tidak banyak berfungsi. Dari kamar ke garasi (5m), sambung mobil/motor, dari tempat parkir sampai didepan lift (50m),  sambung lift, dari depan lift keruangan (15m), sudah hanya segitu, kaki tidak lagi pernah dipakai (maka Tuhan “menghadiah”i anda asam urat dan reumatik, untuk mengingatkan bahwa anda diberi kaki)

Jadi begitulah, kemacetan, terutama di Jakarta, hanya akan bisa diatasi kalau anda-anda pengguna mulai berpartisipasi menguranginya, bukan anget-anget tahi ayam, tetapi dengan tekad bersama.

Dan tekad bersama ini hanya akan muncul ketika anda sudah benar-benar sengsara dan menderita mengalami kemacetannya. Kalau belum sampai titik itu …… nggak satupun yang akan berpertisipasi mengatasi kemacetan. Pemerintah maupun Pemda ………….. preklah …. mereka mampu apa?
Buzz It!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: