Artikel

Sosbud

Tak Berharap Pada LPI


OPINI | 11 January 2011 | 04:16 Dibaca: 331   Komentar: 1   1 dari 2 Kompasianer menilai Aktual

12946941151037971155

nyomot di facebook

Sepakbola dan bulu tangkis adalah dua cabang olahraga yang sangat populer di Indonesia, lebih populer daripada voli. Permainan bola voli, sekalipun sering dilombakan tiap tujuh belasan, tetap tidak mampu menggeser kepopuleran sepakbola dan bulu tangkis. Buktinya, di jalanan dan gang-gang, mudah kita dapati sekelompok anak atau pemuda memainkan permainan itu. Jarang saya temui ada yang bermain voli di jalanan atau di gang.

Setidaknya, itu lah yang sering saya jumpai bila sedang menyusuri gang-gang kecil di bilangan Jakarta Selatan, di balik gedung-gedungnya yang tinggi-tinggi. Di sebuah jalan yang sempit, sekelompok anak berebut bola, saling mengumpan, berusaha mencetak gol. Entah dimana gawangnya, saya tidak melihatnya. Mungkin dua buah sandal jepit yang diletakkan dengan jarak kurang lebih lima langkah, itulah yang dimaksudkan sebagai gawang. Seorang anak terlihat berdiri saja diantara sandal jepit itu, tidak mengejar bola seperti anak-anak lain. Saya menebak, bocah itu berperan sebagai kiper.

Tebakan saya benar, sejumlah tendangan diarahkan pada bocah itu. Dan dengan sigap ia berusaha menyelamatkan gawangnya. Sekalipun gawangnya itu cuma dibuat dari dua buah sandal jepit yang diletakkan sepanjang lima langkah, ia terlihat sangat tidak rela bila gawangnya itu berhasil dijebol lawan.

Bagi anak-anak itu, pertandingan itu tentu berlangsung seru dan penuh tensi. Terlihat dari seringai wajah ketika menendang, teriakan-teriakan kecewa ketika ada tembakan meleset, juga dari keringat yang berleleran di kening mereka.

Menyaksikan anak-anak itu bermain bola, saya jadi merasa kasihan. Waktu kecil dulu, saya bermain bola di lapangan, gratis. Bukan lapangan besar, tapi masih beralas rumput, bukan aspal. Saya bermain bola dengan leluasa, tidak khawatir pertandingan dihentikan sejenak karena ada mobil atau motor yang lewat. Bermain sepakbola memang lebih enak di lapangan, bukan di jalanan, apalagi disebuah gang sempit.

Tapi rupanya ketiadaan lahan untuk lapangan bermain tidak menyurutkan niat anak-anak untuk bermain sepakbola. Sekali lagi, olah raga yang satu ini memang sangat populer. Jika tidak bermain bola, anak-anak itu sering terlihat juga di persewaan playstation, memainkan game sepakbola rilisan konami, produsen game yang sangat terkenal sejak jaman nintendo 8 bit.

Tapi sebagai sesama penggemar sepakbola, saya sama kasihannya dengan anak-anak itu. Negara ini seperti terkena kutukan untuk tidak bersinar dalam bidang sepakbola. Timnas jarang menjuarai turnamen. Lalu untuk sekedar menonton pertandingan liga saja kadang ada saja gangguannya, jadwal pertandingannya sering kacau. Sepakbola Indonesia seperti dikelola dengan tidak profesional, padahal ia jelas-jelas telah disokong oleh brand-brand profesional. Dan seolah melengkapi kutuk itu, bahkan klub bola tenar Manchester United pun gagal berlabuh ke Indonesia. Ada-ada saja halangannya.

Lalu muncul angin segar, Arifin Panigoro menggagas sebuah Liga Primer Indonesia yang klub-klub pesertanya dididik untuk menjadi profesional. Klub peserta LPI tidak boleh memakai dana APBD, seperti kebanyakan klub peserta Liga Super Indonesia (yang mulai banyak diplesetkan menjadi Liga Sekunder Indonesia). Sayang ide penyelenggaraan LPI tidak berasal dari federasi sepakbola resmi. LPI terkesan menjadi liga yang ilegal.

Tapi pertunjukkan jalan terus. LPI tetap jalan. Banyak yang mengaitkan soal LPI dan LSI dengan konstelasi politik di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu mengerti, atau lebih tepatnya, tidak peduli. Saya sama seperti anak-anak yang bermain di gang sempit tadi. Cukup menikmati sebuah pertandingan sepakbola. Setahu saya, anak-anak itu tumbuh besar di Jakarta, dan jarak ke lebak bulus tidak terlalu jauh. Sangat mungkin mereka akan menjadi Jakmania, pecinta klub Persija Jakarta. Tidak peduli LPI atau LSI, selama Persija main bagus, apalagi menang, mereka akan senang.

Mengenai kontribusi LPI bagi sepakbola, saya sebagai penonton sih senang-senang saja. Adanya LPI artinya, makin banyak pertandingan yang bisa disaksikan di televisi. Apakah LPI bakal memajukan masa depan sepakbola Indonesia, itu juga saya tidak berharap terlalu banyak. Saya jauh lebih berharap jika suatu saat nanti, anak-anak yang saya lihat bermain bola di gang sempit tadi, bisa menjadi pemain bola profesional. Seperti Irfan Bachdim yang nilai kontraknya mencapai angka miliaran rupiah.

Kenapa tidak? Tiago Manuel Dias Correia alias Bebe, striker Manchester United itu juga awalnya bermain bola di jalanan kok. Yah, siapa yang tahu kan, jangan-jangan anak-anak yang bermain bola di jalanan ini lah yang bakal menyelamatkan sepakbola Indonesia, bukan LPI, bukan LSI. Yah, siapa tahu…

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: