Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Amalia Artati

Dokter PTT Pusat Sangat Terpencil kabupaten kupang April 2009-sekarang

Upacara Bendera

OPINI | 02 January 2011 | 07:27 Dibaca: 108   Komentar: 1   0

Pertama kali aku mengikuti sebuah upacara bendera di Amfoang Barat Laut (Ambal)* adalah pada tanggal 2 Mei 2009 (Hari Pendidikan Nasional). Upacara bendera dilakukan di halaman salah satu SD di desa Soliu * (SDN 2 Beat).Kami seluruh staf Puskesmas Soliu diminta Bapak Kepala Puskesmas (Kapus) untuk berkumpul jam 7 pagi di Puskesmas Soliu sebab kami semua akan pergi dengan kendaraan Puskesmas Keliling (Pusling) ke tempat upacara. Karena jarak SD Beat masih termasuk wilayah Desa Soliu, satu desa dengan  Puskesmas, kami rombongan Puskesmas termasuk yang datang awal. Setelah memarkir mobil Pusling di tepi jalan, di luar pagar SDN 2 Beat, agak lama kami berdiri mengobrol di sekitar mobil Pusling hingga beberapa PNS guru dari desa-desa lain berdatangan dan kami berbincang-bincang.

Saat tengah berbincang-bincang aku baru memperhatikan ternyata di sisi seberang jalan tempat kami parkir banyak orang yang menanak nasi dalam periuk di atas bara api atau merebus air. Sementara menunggu mereka duduk di atas tikar anyam yang terbuat dari anyaman daun lontar (penduduk biasa membuatnya sendiri). Ada yang berkemul selimut, memakai sarung, sikat gigi, bahkan ada yang berganti pakaian. Inilah yang kemudian baru menyadarkan aku, anak-anak mereka sedang memakai/ dipakaikan seragam sekolah dan perlengkapannya. Aku bertanya kepada Bapak Kapus apa yang mereka (orang-orang tersebut lakukan. Jawabannya tidak pernah terpikirkan dalam benakku sama sekali.

Orang-orang tersebut adalah penduduk yang berasal dari desa-desa selain Soliu (Oelfatu, Timau, Honuk, Saukibe, dan Faumes) yang mengantar anak-anak mereka yang akan mengikuti upacara bendera. Karena rumah-rumah mereka jauh dari lokasi upacara dan mereka tidak ingin terlambat untuk mengikuti upacara maka mereka memilih menginap di tempat tersebut. Dengan membawa tikar, peralatan masak, lauk seadanya, pakaian, selimut, mereka bersama-sama para tetangganya berjalan kaki sehari sebelumnya. Dan di atas rumput, hanya beralaskan tikar, beratapkan bintang-bintang, dikelilingi udara dingin bulan Mei di Ambal, dikerubuti nyamuk, mereka tidur berbantalkan kain buntalan yang berisi pakaian dan berselimutkan selimut yang biasanya berupa kain tenunan sendiri. Untung saja SDN 2 Beat sudah mendapat pasokan air lewat pipa leding sehingga penduduk yang menginap dapat memanfaatkannya. Mereka mandi dan buang air di kamar mandi darurat yang dibangun di halaman sekolah untuk tujuan ini. Sebab dari tahun ke tahun upacara Hari Peringatan Pendidikan Nasional dilaksanakan di tempat ini. Kamar mandi darurat ini berdinding 3 sisi terbuat dari daun pohon gewang dan “pintunya “ hanya ditutupi kain seadanya tanpa atap. Ketika aku melihat ke dalamnya, sepanjang hari itu aku berusaha membatasi pemasukan air minum agar tidak perlu menggunakan kamar mandi tersebut. Karena kamar mandi yang hanya satu, aku melihat banyak anak-anak maupun orang tua mereka yang tidak mandi dan hanya menyikat gigi dan cuci muka kemudian berganti pakaian langsung mengikuti upacara bendera.

Di lapangan upacara terdapat tenda darurat dari daun pohon gewang tempat Bapak Camat, para Kepala Desa, para Pendeta, Bapak Kepala Pos Polisi (Kapospol) Ambal, para Kepala Sekolah dan tentu saja Dokter Puskesmas duduk. Sementara para peserta berbaris berbentuk Letter U. Di hadapan sebelah kanan tenda adalah barisan para PNS (guru maupun pegawai kecamatan), di tengah adalah barisan para pelajar dari delapan SD yang ada di Kecamatan Ambal. Tepat paling kiri dari barisan pelajar SD ini terdapat satu barisan dari tokoh masyarakat. Yang laki-laki memakai kemeja atau kaos dengan bawahan kain tenun Timor motif laki-laki  dan ikat kepala khas sedang yang perempuan memakai kebaya dengan bawahan kain tenun Timor motif perempuan. Sebagian besar dari mereka membawa tas yang berisi sirih pinang. Dengan bibir merah karena sirih, kebanyakan tokoh masyarakat ini tidak memakai alas kaki. Di sebelah kiri tenda berbaris para pelajar dari satu-satunya SMP dan satu-satunya SMA di Ambal. 3 orang pengibar bendera berdiri di sebelah kiri barisan PNS dan akan menyebrangi lapangan untuk mengibarkan bendera yang tiangnya berada di dekat barisan pelajar SMP & SMA. Barisan aubade berada di dekat tiang bendera dipilih dari para pelajar kelas 5 & 6 SDN 2 Beat.

Upacara berjalan lancar. Selesai upacara kami diminta untuk tidak pulang terlebih dahulu sebab selesai upacara akan ada pertandingan tarik tambang dan sepak bola antar desa. Setelah barisan bubar, para pedagang mengambil alih tempat mereka. Para pedagang ini tidak ada pedagang besar. Hanya para penduduk Ambal. Ada yang berjualan makanan ringan, coklat, permen (bahasa Kupangnya gula-gula), mie remas, , es sirup, bubur kacang ijo, kue-kue basah (pisang goreng, kue perut ayam, cucur, roti goreng, makao dll) bahkan ada juga yang berjualan telur ayam, telur ayam kampung dan sayur mayur. Hanya saja tidak ada yang berjualan ikan atau ayam atau daging seperti di pasar. Aku bahkan memohon ijin kepada Pak Camat & petinggi lain yang ada di tenda untuk undur diri dari percakapan untuk melihat para pedagang ini.

Kira-kira tengah hari lomba tarik tambang antar desa pun dimulai. Seru sekali setiap penduduk desa memberi semangat wakil desanya. Padahal cuaca sangat panas sementara sebagian besar penduduk desa tidak memakai alas kaki. Semangat sekali para peserta mengikuti lomba padahal tidak ada hadiah yang ditawarkan bagi pemenang. Hanya rasa hormat dari peserta lain dan kebanggaan setahun penuh untuk menceritakan ulang kemenangan itu setiap ada pesta pernikahan, permandian atau pesta-pesta lain yang membuat penduduk lebih dari satu desa berkumpul. Dan yang menang boleh “mengejek” yang kalah. Setelah lomba tarik tambang selesai dilanjutkan dengan lomba sepakbola  antar desa yang juga tidak kalah serunya.

Setelah selesai semua acara lomba kami rombongan Puskesmas kembali ke Puskesmas dengan mobil Pusling. Sebagian besar PNS yang lain kembali dengan sepeda motor mereka sementara para penduduk yang menginap di Beat mengemasi barang-barangnya dan kembali secara rombongan dengan berjalan kaki ke desa masing-masing. Saat melewati mereka itulah aku berpikir betapa penduduk yang belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan bangsanya ini benar-benar menghargai peringatan kemerdekaan bangsanya. Bahkan rela berjalan berkilo-kilo meter jauhnya selama berjam-jam pulang pergi hanya untuk mengikuti upacara bendera. Sedangkan mungkin banyak orang di kota yang  dimanjakan dengan tranportasi lancar enggan untuk mengikuti upacara bendera dengan berbagai alasan. Bahkan penduduk Ambal ini rela menginap di tempat terbuka dekat lokasi upacara hanya agar tidak terlambat mengikuti upacara. Sementara banyak orang di kota enggan meninggalkan “zona nyaman” mereka di rumah atau di tempat-tempat wisata yang nyaman sebab untuk mereka memang arti 2 Mei atau 20 Mei atau 17 Agustus atau hari peringatan lain bagi mereka hanyalah hari libur yang artinya “memanjakan diri” sepuasnya tanpa meresapi makna di dalamnya. Tanpa hadiah, penduduk ini dengan semangat mengikuti lomba sedangkan mungkin beberapa orang di kota enggan memasang bendera merah putih di halaman rumahnya saat 17 Agustus.  Atau bahkan jika diminta datang untuk berpartisipasi dalam kegiatan RT/RW tempat tinggalnya berbagai alasan termasuk merasa mampu membeli sendiri hadiah yang ditawarkan dalam berbagai perlombaan itu membuat orang kota malas ikut-ikutan dalam perayaan kebangsaan apapun.

Aku yang pernah tinggal di kota dan pernah punya berbagai argumentasi untuk tidak mengikuti upacara bendera tertempelak dan bertanya benarkah alasan-alasanku lebih baik dari orang-orang yang sebenarnya lebih punya banyak alasan untuk menolak mengikuti upacara  bendera namun tetap mengikutinya bahkan mengikutinya penuh dengan penghargaan dan penghormatan. Tulisan ini dimaksudkan sebagai refleksi diri bagi kita semua…semoga JAYALAH TERUS INDONESIA!!!

*Buat Yang pertama baca,lihat noteq yang lain.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: