Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Gregorius Galih Ardhiputra

menulis lagu dan lirik...dan paling merasa kesulitan untuk menulis lirik lagu dengan tema cinta...

Alam Raya Sekolahku

OPINI | 02 January 2011 | 09:38 Dibaca: 620   Komentar: 7   2

Jalan panjang

Walau tak semua sama dan likunya tak serupa

Ada yang melaluinya dengan langkah kaki,

Putaran roda, merangkak, meloncat-loncat

Jalan yang tak hanya untuk seorang saja

Boleh lah seseorang merasa dirinya sebagai pemeran utama

Namun hidup bukanlah sebuah monolog

Berbicara sendiripun tak nikmat

Hakekat kebersamaan dari hal-hal kecil

Pendidikan kini hanya kompetisi bukan kompetensi

Ruang sempit yang kadang enggan untuk kita buka,

Membangun jendela pada mata, agar bisa memandang lebih luas

Karena semakin luas kita mampu memandang maka semakin banyak yang kita pelajari

Hakekat bahwa kita belajar dari alam raya

12939167871941732029

liku

Sebut saja namanya Pak Cip. Pria kelahiran tahun 1943, menjadi saksi pembombardiran yang dilakukan Tentara Belanda pada kampungnya ketika agresi militer tahun 1948. Lulusan SR yang mampu berbuat lebih banyak dari sepuluh Calon Sarjana KKN di kampungnya. Membaca buku adalah kegemaran yang mungkin sudah menjadi kuno bagi orang-orang masa kini. Gemar dengan seni wayang, dan gamelan, bahkan pernah menjadi anggota organisasi kesenian pemuda PKI waktu tahun 65. Kesahajaan, “dadi wong sugih kuwi ora penak, lan tansah ngadohke urip seko Gusti. Urip kuwi nek iso cukup wae…”(gak perlu di plesetkkan, karena beliau ngomongnya serius, bukan plesetan cukup mobil 12, cukup rumah 3 dst.).

Kembali pada belajar pada alam raya, kaitannya dengan seorang lulusan SR yang mampu berbuat lebih dari pada 10 calon sarjana yang KKN di desanya. Ironis, dan menjadi kunci munculnya banyak pertanyaan, Sebenarnya kuliah itu di ajari apa to??? Sebenarnya apa arti ilmu pengetahuan kalau tidak memberi arti bagi banyak orang???Pendidikan di negeri ini apakah hanya seperti itu??? Kenapa beliau bisa berbuat lebih banyak dari pada mereka yang berpendidikan lebih tinggi???

Pertanyaan2 itu akan dianggap pertanyaan kampungan dan memancing resistensi dari mereka yang mengenyam bangku pendidikan tinggi. Tapi pertanyaan tengil seperti itu kalau mau direfleksikan akan menjadi tulisan yang kaya makna. Atau hanya menjadi wacana untuk seminar dan diskusi. Kapan kita beraksi dan tidak hanya bicara??? Kalau hanya memandang kehidupan di perkotaan maka hanya akan berputar di satu titik, industrialisasi, kemewahan, moderinitas, dan ironi.Belajar ironi dari kota dan belajar menciptakan dari desa. Karena desa adalah laboratorium alam.

1293917065700569853

ampuuunnnn daaaaahhhh…..

Benarkah bahwa pendidikan masa kini hanya membuat otak menjadi batu???jadi inget spongebob square pants. Spons yang menyerap apapun. Ketika masa kanak-kanak otak manusia seperti sponge, yang menyerap segala sesuatu dengan sangat mudah, bila bisa di ukur dan di bandingkan kecepatan proses menjadi cerdas ketika masa kanak-kanak dan dewasa maka akan tampak bahwa perbandingan kecepatan kita menjadi cerdas lebih cepat ketika masa kanak-kanak. Dapatkah kemampuan otak yang seperti sponge itu di pertahankan???Kenapa manusia hanya menjadi seperti ini???Pertanyaan yang muncul lagi. Entah kenapa harus banyak bertanya…

Kembali ke Pak Cip, dusunnya letakknya di ujung barat sebuah kabupaten di wilayah Jawa Tengah, sangat jauh untuk mengakses kota. Jalan aspal baru ada tahun 1996, listrik PLN menyusul setelahnya. Salah satu karya Pak Cip yang menunjukkan bahwa dirinya mampu memberikan manfaat lebih baik dari pada mereka yang berpendidikan tinggi adalah ketika beliau menciptakan pembangkit listrik tenaga air mandiri, hanya berdasarkan buku pelajaran SMP yang dimiliki anaknya.

1293917270247111419

kemungkinan PLTA mandirinya seperti ini

Walau akhirnya PLTA mandiri ini tergusur listrik PLN (kapitalisme bukan??ketika pemerintah tak mengembangkan potensi yang sudah di wujudkan rakyatnya). Tak hanya itu, mambuat jaringan air bersih untuk 3 RT di tempatnya tinggal, (sampai sekarang gak ada PDAM, belum terjamah kapitalisme pemerintah sepertinya) jaringan yang masih bertahan sampai sekarang. Sedangkan bila kita amati kegiatan KKN, hasil kerjanya kok sepertinya kurang bermanfaat buat masyarakat (tidak semua program KKN kurang bermanfaat, banyak juga yang bermanfaat, tapi lebih banyak yang sekedar biar dapat nilai “A”). Contoh, pembuatan papan nama “Ketua RT,Ketua RW, Kades dsb.” Di desa orang tidak perlu papan nama juga sudah tau yang mana ketua RT, yang mana ketua RW. Tidak adakah hal yang lebih besar yang bisa di berikan kepada masyarakat???Kemana Ilmu mereka selama ini???Apakah otak mereka sudah bukan sponge yang menyerap dengan baik lagi?

jahil, cerdas...hehehehheeh

jahil, cerdas…hehehehheeh

??

Kita layak mereview program pendidikan formal yang selama ini digemborkan menjadi wajib bagi setiap warga negara. Alam raya sekolahku, dan semua orang itu guru.

Terinspirasi bapak Cipto Mardi.

Esensi dari tulisan ini adalah pertanyaan…refleksi…dan entah pandangan pribadi anda…

Jogja 2 Januari 2011.

Eatenangermusic.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerbau Disembelih, Tanduknya Jadi Sumber …

Leonardo | | 31 July 2014 | 14:24

Aborsi dan Kemudahannya …

Ali Masut | | 01 August 2014 | 04:30

Di Pemukiman Ini Warga Tidak Perlu Mengunci …

Widiyabuana Slay | | 01 August 2014 | 04:59

Jadilah Muda yang Smart! …

Seneng Utami | | 01 August 2014 | 03:56

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Perbedaan Sindonews dengan Kompasiana …

Mike Reyssent | 13 jam lalu

Lubang Raksasa Ada Danau Es di Bawahnya? …

Lidia Putri | 17 jam lalu

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 21 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 31 July 2014 09:31

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 31 July 2014 09:01

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: