Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Herman Hasyim

Wartawan bertanya "ada apa". Filosof bertanya "mengapa". Dan orang kreatif bertanya "apa jadinya bila".

Buku, Investasi dan Cita-citaku

OPINI | 31 December 2010 | 11:35 Dibaca: 104   Komentar: 13   0

“Sekali Berarti. Sudah itu Mati.” (Chairil Anwar dalam puisi berjudul “Diponegoro”, 1943)

Akhir tahun ini aku berencana pindah kos. Dan seperti sebelum-sebelumnya, hampir pasti proses pindah kos ini agak ribet.

Yang membuat ribet ialah banyaknya barang yang harus aku angkut ke tempat kos yang baru. Barang-barangku memang tak bisa dibilang sedikit, walau tidak juga terlampau banyak. Bila ditaruh di kardus Indomie, jumlahnya sekitar selusin.

Itu hanya barang-barang di kos yang kini aku tempati di daerah Menteng. Aku masih punya barang yang jumlahnya lebih kurang sama di tempat kos lama di Jatipadang , Jakarta Selatan.

Sebagian besar barangku adalah buku, bukan perkakas elektronik semacam televisi, kulkas atau mesin cuci. Buku adalah kekayaanku. Itulah harta karun yang aku kumpulkan dari keringatku selama mengais nafkah di Ibu Kota.

Hampir tiap bulan aku menyisihkan minimal sepuluh persen penghasilan aku untuk membeli buku. Walau tidak tergolong pecandu buku, tetapi aku sungguh-sungguh menganggap buku sebagai kebutuhan primer yang sama pentingnya dengan makanan, minuman dan pakaian.

Jika ada cukup uang, aku suka memborong buku. Biasanya aku membeli lebih dari sepuluh buku. Misalnya saat Jakarta Book Fair beberapa bulan lalu, aku membeli lebih dari 40 buku . Di toko buku favoritku, Gramedia Matraman, aku beberapa kali membeli buku lebih dari selusin dalam satu kali kunjungan.

Biasanya sih aku mencari buku-buku yang harganya dibanting alias buku hemat alias buku cuci gudang. Kelompok Kompas-Gramedia sering melakukan ini. Belakangan Grup Mizan dan Gagas Media juga menempuh cara yang sama. Sebagai peminat buku hemat, tentu aku kegirangan.

Tetapi ada kalanya aku membeli juga buku-buku yang harganya cukup mahal. Misalnya, belum lama ini aku membeli buku “Main-Main Jadi Bukan Main”. Buku ini mengupas tuntas perjalanan Warkop DKI. Penulisnya Indro Warkop dan Rudi Badil—mantan personil Warkop yang jadi wartawan Kompas. Aku beli buku ini seharga Rp95.000 di Toko Buku Gramedia-Grand Indonesia.

Di Jakarta, bukan hanya Book Fair dan TB Gramedia tempat aku berburu buku. Terkadang aku mampir ke TB Gunung Agung, di dekat Tugu Tani, Cikini. Sewaktu mampir ke beberapa kampus, aku juga suka menengok lapak-lapak yang menjajakan buku. Beberapa kali aku ke UIN Ciputat dan aku mendapatkan sejumlah buku bagus di sana.

Oya, aku juga kerap berburu buku lawas. Beberapa tempat di Jakarta pernah aku jelajahi: Kwitang, Pasar Senen, Pasar Festival, Taman Ismail Marzuki, Blok M, hingga stasiun Pasar Minggu. Ini adalah hobi lamaku sejak masih duduk di bangku SMA di Bojonegoro hingga kuliah di Surabaya. Hobiku yang lain tetapi kini sudah jarang aku lakukan adalah mengkliping koran.

Dari perburuan itu aku kerap mendapatkan buku lawas yang bermutu. Di stasiun Pasar Minggu aku pernah menemukan buku yang sangat-sangat aku gandrungi: “Catatan Pinggir 2” karya Goenawan Mohamad. Di Pasar Senen aku pernah menemukan buku karya penulis pujaanku: Mahbub Djunaidi. Judulnya “Dari Hari ke Hari”. Di Pasar Festival, aku pernah memborong majalah HuMor—majalah bermutu tinggi yang kini sudah almarhum.

Oya, pernah pula aku ketiban rezeki nomplok. Suatu sore aku jalan-jalan di sekitar Tugu Proklamasi, tak jauh dari kosku. Di situ ada orang yang sedang menjual buku segerobak . Rupanya ada sebuah rumah di Menteng yang baru saja dibongkar dan buku-buku itu dianggap tidak penting lagi sehingga diloakkan. Sore itu aku membeli lebih dari seratus buku!

***

Bagiku, membeli buku itu tak ubahnya menanam modal. Ya, sebuah investasi. Aku tak pernah merasa rugi membeli buku, betatapun kadang aku pernah sesekali jengkel karena buku yang kubeli ternyata kualitasnya payah.

Lumrahnya menanam modal, tentu ada harapan agar modal itu menjadi berlipat-lipat di kemudian hari. Namun aku sadar betul, investasi yang satu ini tak sama dengan investasi di dunia bisnis. Aku tak hendak business oriented , walaupun nyatanya aku pernah berkali-kali memperoleh limpahan rezeki berkat buku .

Kita tahu, asset atau kekayaan ada yang berwujud materi (tangible assets ) dan ada pula yang tak berwujud materi (intangible assets ). Berinvestai dengan cara membeli buku ternyata bisa mendapatkan dua-duanya.

Aku beri contoh kecil. Saat masih kuliah , aku pernah membeli buku Yasraf Amir Piliang berjudul “Dunia yang Dilipat” di TB Toga Mas, Surabaya. Kalau tak salah, buku terbitan Jalasutra, Jogjakarta, itu berbandrol lebih dari Rp 60.000.

Buku yang mengulas persoalan postmodernisme itu kemudian aku jadikan referensi saat menulis artikel tentang fenomena Bonek—kelompok suporter fanatik Persebaya. Artikel itu aku kirim ke Kompas Jatim, dimuat di halaman opini, dan aku mendapat honor Rp350.000. Dengan demikian, jika memakai kalkulasi untung-rugi, aku untung Rp290.000!

Aku punya puluhan buku lawas berbahasa Inggris. Beberapa waktu lalu temanku, seorang peneliti di bidang ekonomi, tertarik pada sebagian buku itu. Kemudian dia memesan tiga buku: “Military Institutions of The Romans” karya Flavius Vegetius Renatus (1960), “ Battle Studies ” karya Colonel Ardant Du Pieq (1958), dan “ Economic Problems of War and Its Aftermath ” karya Chester W. Wright (1942).

Uang hasil penjualan tiga buku itu kemudian aku gunakan untuk membeli buku-buku baru di TB Gramedia Matraman. Kali ini aku memburu buku yang harganya tak terlalu mahal. Dan hasilnya luar biasa. Dengan menjual tiga buku, aku berhasil membeli 15 buku!

Itu tadi contoh tangible assets . Bagaimana dengan intangible assets ? Tiap kali membaca buku, aku memperoleh pengalaman batin yang tak mungkin tergantikan oleh uang. Gara-gara buku aku bisa merenung, terharu, tertawa, menangis, atau mungkin melongo.

Tak hanya itu, seusai membaca buku, hati dan pikiranku terasa berisi. Maka benarlah apa yang dikatakan Hernowo, penulis sekaligus editor senior Grup Mizan, bahwa buku mengandung gizi rohani .

Dengan melahap buku, aku bisa terlepas dari lapar ilmu pengetahuan. Dengan buku pula aku bisa terbebas dari kekeringan spiritual. Dengan kata lain, buku membuat aku tidak menjadi “tong kosong nyaring bunyinya”.

***

Aku tak tahu persis berapa jumlah buku yang kupunya sekarang, baik di Jakarta mapun di kampung halamanku. Yang jelas belum sampai ribuan. Artinya, koleksi bukuku masih belum seberapa dibanding dengan koleksi milik para kolektor atau para kutu buku. Namun aku bertekad untuk terus menambah jumlah bukuku, walau kondisi dompetku kembang-kempis.

Semua ini aku lakukan karena aku punya keinginan kuat untuk membangun perpustakaan di kampung halaman aku di Tuban, Jawa Timur. Perpustakaan itu kelak akan aku buka untuk siapa saja, tanpa dipungut biaya, agar para tetangga makin akrab dengan buku, agar cakrawala pengetahuan mereka kian terbentang luas.

Aku bayangkan kelak akan ada puluhan anak menyambangi rumah baca itu tiap sore atau tiap hari libur. Mereka membaca buku-buku cerita, ensiklopedia atau sekedar belajar mewarnai. Orang tua mereka ikut pula menyabet buku-buku tentang kiat budi daya lele, resep masakan, atau melihat-lihat koran dan majalah. Para remaja tak ketinggalan. Aku bayangkan mereka akan asyik membaca novel teenlit atau chiklit . Beberapa di antaranya bahkan berhasil menulis cerita fiksi remaja .

Aku akan jadi penjaga perpustakaan, tetapi tidak hanya menjaga seperti satpam. Aku akan menjadi semacam guide, menjadi narasumber bila mereka butuh penjelasan atau bahkan menjadi tukang dongeng buat anak-anak yang tiada pernah didongengi orang tuanya di rumah.

Aku akan melakukan semua itu dengan sangat riang seperti halnya Patch Adams yang menjadi badut bagi pasien di rumah sakit gratis yang didirikannya. Patch Adams adalah dokter, penulis, komedian, sekaligus aktivis sosial Amerika Serikat.

Saat itu pekerjaanku mungkin menulis buku. Mungkin juga berdagang atau bertani. Sebagian penghasilan akan aku alirkan ke perpustakaan ini: untuk membeli buku-buku baru, merawat perpustakaan, atau untuk mengadakan lomba menulis.

Itulah cita-citaku yang sesungguhnya, sebagai manusia yang tiada mungkin hidup seribu tahun, yang ingin memberikan kontribusi kepada nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana kata-kata Chairil Anwar: “Sekali berarti. Sudah itu mati.”

Jadi, dengan buku, aku ingin menjadi manusia bermanfaat sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW atau menjadi menusia yang punya sumbangan terhadap kemanusiaan sebagaimana diidam-idamkan Pramoedya Ananta Toer.

Aku tahu hal itu bukan pekerjaan mudah. Tetapi aku yakin, itu bukan sesuatu yang mustahil.

Menteng, 31 Desember 2010

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kuliner: Dari Mesir ke Yordania Bersama …

Andre Jayaprana | | 20 September 2014 | 18:49

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | | 20 September 2014 | 21:49

Asian Games 2018, tantangan bagi Presiden …

Muhamad Kamaluddin | | 21 September 2014 | 04:34

Bingung Mau Buka Usaha Apa? Ini Caranya …

Yos Asmat Saputra | | 21 September 2014 | 06:39

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 3 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 4 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 6 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 18 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: