
I listen, I learn and I change. Mendengar itu buat saya adalah langkah awal dalam proses belajar yang saya tindaklanjuti dengan upaya melakukan perubahan untuk menggapai cita. Bukan hanya indra pendengaran yang diperlukan untuk menjadi pendengar. Diperlukan indra penglihatan, gerak tubuh bersahabat dan raut muka serta senyum hangat. Gaul !
Dibaca: 323
Komentar: 20
2 dari 4 Kompasianer menilai Bermanfaat
Gambar disamping ini hasil jepretan dari salah satu banner atau baliho yang terpampang sebelum dan saat penyelenggaraan Olimpiade Olahraga Tradisional (OOTRAD) yang untuk ketiga kalinya digelar oleh Universitas Padjajaran (UNPAD atau Unpad), Bandung. Semangat dari tema Ngarojong Wujudna Budaya Sunda itu adalah pelestarian budaya Sunda yang salah satunya melalui dimainkan dan diperlombakannya berbagai olahraga kuno atau tradisional tatar Sunda.
Penyelenggaraan OOTRAD ini merupakan produk dari kajian bidang ilmu sejarah, antropologi sosial sampai sastra Sunda yang menjadi ciri khas Unpad. Bidang ilmu atau program studi Sundanologi yang unik ini berpotensi menjadi lokomotif penarik Unpad menuju a world class university. Langkah pertama yang musti ditempuh Unpad adalah memenuhi semua persayaratan yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Nasional agar Sundanologi mendapat predikat sebagai sebuah program studi internasional. Seperti laiknya Javanologi, Universitas Gajah Mada, DIY. Tunggu tanggal mainnya !
Olahraga Tradisional Sunda
Banyak ragam olahraga dan seni yang khas tatar Sunda. Tentunya akan lebih banyak lagi koleksi kekayaan kita jika kita mengumpulkannya dari seantero Nusantara. Jenisnya sangat erat terkait dengan kekayaan alam, kebiasaan dan budaya masyarakat setempat. Khusus untuk tatar Sunda kita mengenal lodong (meriam dari bambo diisi bahan peledak seperti karbit atau meuriem trieng kata orang Aceh dan mungkin ini serupa dengan mariam tomong yang sering didendangkan masyarakat Batak), engrang, manggul jukut (memikul hasil sabit rumput), manggul suluh (suluh = kayu bakar), manggul pare (pare = rumpun padi hasil panen), katepel (catapult dalam bahasa Inggris) dan banyak lagi. Jenis-jenis olahraga ini selain unik juga menjadi hiburan yang mengasyikkan. Saat menonton balap lari sambil manggul jukut adalah tontonan yang menghibur dan bikin perut sakit karena tertawa tanpa henti. Begitu pula saat gelar catur beregu, 3-on-3 kata anak ABG. Dalam pertandingan ini dua tim berlaga, tiap tim beranggotakan 3 pemain yang sesuai aturan hanya boleh melakukan gerak fisik dan bahasa tubuh tanpa dibenarkan untuk berbicara atau berkomunikasi tulis. Betul-betul sebuah uji keharmonisan berfikir dan bertindak sebagai sebuah tim yang kompak. Memahami jalan pikiran dan kehendak mitra menjadi kunci sukses. Bukankah ini inti dari sebuah Team Work?
Keunikan olahraga tradisional a la Sunda ini menjadi atraksi istimewa bagi mahasissa/i asing yang sedang kuliah di Unpad. Apalagi saat karnaval mereka berdandan dengan pakaian-pakain plus ornamen khas dari tanah airnya. Kala mereka ikut memainkan dan berlomba balap engrang, manggul suluh, tembak tepat pakai katepel dan menyulut lodong terasa benar nuansa kegembiraan pada mereka. Keterlibatan mereka menjadi magnit kuat bagi para pengunjung. Jepretan kamera bertubi-tubi mengabadikan kegembiraan mereka. Pasti peristiwa ini akan menjadi buah bibir dan buah tangan yang mereka bawa sesudah mereka kembali ke tanah air masing-masing. Judul lagu Unforgetable yang didendangkan oleh penyanyi legendaris Nat King Cole layak ditempelkan pada peristiwa ini.
Harmonisasi Internasionalisasi Dengan Lokalitas
Pagelaran budaya seperti OOTRAD yang digelar Unpad ini banyak juga dilakukan di mancanegara. Pertandingan sumo di Jepang adalah salah satu contoh yang masih melengket kuat pada warga Jepang dan sukses dijadikan sebagai bagian bisnis dari cultural tourism. Begitu pula dengan rodeo baik menunggang kuda atau sapi liar versi the wild west. Di Australia, ada festival rakyat yang menampilkan pertandingan adu jauh melempar tahi sapi (dunk) yang sudah kering. Di Belanda, ada pertandingan beregu manggul keju. Dimasyarakat Viking (sekarang Norwegia) ada perlombaan balap lari sambil menggendong istri.
Olimpiade Olahraga Tradisional ini bukan sekedar untuk lucu-lucuan. Akan banyak pelajaran yang bisa kita petik dari ngarojong wujudna budaya nu lestari ini, diantaranya:
1. Presiden Soekarno pernah berujar “Tidak ada satu bangsa di dunia ini yang sukses melakukan internasionalisasi tanpa berpijak kuat pada nasionalisme”. Mengingat Nusantara ini begitu kaya akan budaya lokal maka pelestarian budaya lokal menjadi bagian dari upaya membangun nasionalisme yang kuat. Dan, sekaligus perwujudan dari semboyan nasional — Bhineka Tunggal Ika.
2. Membuka peluang belajar bagi generasi penerus akan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang terkandung dalam setiap jenis olahraga tradisional. Sekaligus memahami kebiasaan dan budaya masyarakat lokal.
3. Menjadi pelengkap bagi Pemerintah Jawa-Barat dalam penciptaan lapangan kerja, membangun ekonomi lokal dan cultural tourism.
4. Membangun sebuah program studi dengan predikat internasional. Dalam kasus OOTRAD maka ini menjadi bagian dari Sundanologi – Bahasa, Antropologi Sosial dan Sastra. Sebuah program studi S1, S2 dan S3 yang pasti menjadi nomor wahid. Kekayaan arsip Universitas Leiden, Belanda akan artefak budaya Sunda tak akan mampu menandinginya sebagai sebuah program studi internasional yang komprehensif.
Upaya menggali, mengkaji, mempertontonkan dan membuat lomba olahraga khas lokal ini janganlah dinilai sebagai aksi mempertentangkan lokalitas dengan globalisasi. Bukan pula sebagai sikap anti globalisasi. Mari tengok sebagai sebuah upaya harmonisasi. Jika kita tilik maka kita akan temukan bahwa keduanya tidak memiliki nilai-nilai luhur yang berbenturan. Koeksistensi atau mendampingkan internasionalisasi dengan lokalitas ini akan memberi nilai-nilai baru bagi generasi sekarang dan generasi berikutnya. Inilah manifesto Tamansari Internasional yang diimpikan Sang Proklamator.
