
just visit me at http://ririsatria40.wordpress.com
Dibaca: 118
Komentar: 0
Nihil
Apakah anda pernah nonton sepakbola di stadion untuk menyaksikan tim nasional Indonesia bertanding? Kalau saya sering, dan memang sejak dulu saya penggemar sepakbola. Berbeda dengan menonton pertandingan sepakbola antar klub, di mana unsur emosi hampir tidak ada dan hanya ada seru atau rasa ramai semata, maka kalau nonton pasukan Merah-Putih di Stadion Gelora Utama Bung Karno (GUBK) terasa aspek emosi sangat kental.
Ada satu momen yang selalu membuat saya merinding kalau nonton timnas kita bertanding di GUBK, yaitu pada saat lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Di situlah saya melihat puluhan ribu manusia menyanyikan lagu kebangsaan ini secara serempak tanpa ada yang memerintah atau mengomandoi. Semua bernyanyi dengan ekspresi masing-masing, tapi saya yakin, tentu dengan rasa emosi kebangsaan yang tinggi. Apalagi, menurut saya, lagu Indonesia Raya ini memang luar biasa, mampu membangkitkan semangat dan mengaduk emosi, jika dibandingkan dengan lagu kebangsaan negara lain. Anda tahu kan, ada lagu kebangsaan negara lain yang mirip dengan lagu opera panggung bahkan ada yang mirip dangdut, atau juga ada yang mirip lagu cengeng. Tetapi lagu Indonesia Raya memang beda, dan memang hebat si penciptanya W. R. Supratman!
Sejak saya kuliah di Universitas Indonesia tahun 1988 (22 tahun yang lalu), saya sudah mulai hadir ke Senayan (saat itu masih belum bernama GUBK, melainkan Stadion Utama Senayan) untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan timnas Indonesia. Hanya saja, pada piala AFF Suzuki 2010 ini saya tidak sempat hadir ke Stadion GUBK, karena bentrok dengan beberapa kegiatan di luar kota, serta kendala-kendala lainnya, tetapi tetap saya menonton semua pertandingan timnas Indonesia. dari semua pertandingan itu, yang paling seru buat saya adalah sewaktu menyaksikan Piala Asia 2007, Indonesia vs Bahrain di GUBK dengan skor akhir 2 - 1 untuk Indonesia.
Kalau dulu hanya lagu Indonesia Raya yang menggema di GUBK, maka sekarang ada satu lagu lagi yang menurut saya sangat bagus, yaitu Garuda di Dadaku yang digubah oleh grup band Netral yang sebagian musiknya mengadopsi lagu tradisional Papua yaitu Apuse. Lagu juga sangat menggugah, bahkan kedua anak saya sangat terkesan dengan lagu ini.
Nah, kembali ke Piala AFF Suzuki 2010. Timnas kita memang gagal meraih juara, walaupun di pertandingan terakhir barusan di GUBK bisa mengalahkan Malaysia, tetapi tidak cukup untuk membuat Indonesia menjadi juara. Timnas kita tergelincir sewaktu leg pertama final di Kuala Lumpur, dan tidak beruntung selama 90 menit terus-menerus mengepung Malaysia di Jakarta. Tetapi menurut saya, mereka sudah memberikan yang terbaik. Saya pribadi sangat mengapresiasi permainan yang mereka tunjukkan. Secara tidak langsung juga, mereka sejenak menjadi “alat pemersatu” bangsa ini, dan membuat kita sebagai bangsa Indonesia sangat bangga mengusung simbol-simbol kebangsaan kita. Dengan bangga, jutaan orang memakai baju dengan logo Burung Garuda di dada, suatu pernyataan yang tegas bahwa saya bangga menjadi orang Indonesia!
Apakah itu eforia sesaat? Tergantung, apa yang dimaksud dengan eforia? Jika kita menilai sesuatu, kita harus sepakat dulu dengan definisinya. Lalu pertanyaan berikutnya, apakah eforia itu adalah sesuatu yang negatif? Bukankah eforia dalam suatu tatanan sosial juga berfungsi sebagai suatu “momen pengingat kolektif” akan suatu fenomena, dan dalam kasus ini adalah “identitas kebangsaan”. Menurut saya, tidak ada yang keliru dalam hal ini. Semua adalah hal yang wajar dalam suatu sistem sosial kemasyarakatan.
Loh, bukannya kita masih punya masalah di bangsa ini? Oh iya, itu benar. Coba, bangsa mana di dunia ini yang tidak punya masalah? Semua bangsa juga punya masalah. Kita memang masih punya banyak masalah, masalah politik, ekonomi, tatanan sosial, konflik masyarakat, korupsi, dan saudara-saudaranya. Tetapi hal itu bukanlah berarti kita tidak boleh “berpesta sejenak” menunjukkan identitas kebangsaan kita, suatu pesta rakyat, yang jarang-jarang kita nikmati. Eforia bukanlah sesuatu yang akan menutupi persoalan-persoalan tersebut. Teori sosial menunjukkan bahwa persoalan-persoalan tersebut tertutupi bukan karena eforia, melainkan karena memori kolektif masyarakat suatu bangsa yang memang mampunya hanya jangka pendek, bukan jangka panjang.
Kemudian, yang menarik, masyarakat sudah mulai pintar. Mereka akan memberikan apresiasi yang tinggi kepada siapa yang memang pantas diberi apresiasi. Semua pemain, pelatih, dan jajaran ofisial timnas layak kita berikan apresiasi. Mereka sudah memberikan yang terbaik apa yang mereka bisa berikan. Tetapi pihak-pihak yang “menumpang panggung” supaya bisa terkenal dengan “mendompleng” dan berjiwa “aji mumpung” sudah tidak mendapatkan tempat lagi di hati masyarakat. Perlu diketahui, bahwa masyarakat semakin pintar dan sudah bisa memisahkan antara siapa yang layak diberi apresiasi dan siapa yang layak dikecam.
Di mata saya, 22 pemain timnas, jajaran pelatih dipimpin Alfred Riedl, jajaran medis, dan mereka yang terlibat secara langsung lainnya, adalah orang-orang yang layak diberikan apresiasi yang tinggi. Apapun hasil pertandingan tadi, kita tidak bisa menjadi juara, tetapi mereka layak mendapatkan apresiasi yang tinggi. Lain waktu, kita akan menjadi juara, yang penting, kita harus punya mental juara, bukan mental pengeluh, pengecut, apalagi mental aji mumpung.
Terima kasih kawan-kawan timnas, kalian membuat kami bangga untuk mengenakan identitas kebangsaan kita, bangga warna Merah-Putih menempel di tubuh ini, dan sosok Burung Garuda berada di dada ini. Kawan-kawan semua telah mempersatukan kita semua dalam satu identitas, mudah-mudahan tidak hanya sejenak, melainkan selamanya … Garuda di Dadaku!
Salam
Riri Satria