Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Andy Naburju

Diberkati untuk menjadi berkat

Kepemimpinan Musa

OPINI | 18 December 2010 | 11:16 Dibaca: 2023   Komentar: 19   1

Adapun Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya lebih dari setiap manusia yang ada di atas muka bumi

Musa, merupakan salah satu tokoh besar dalam sejarah bangsa Israel. Ketokohan Musa tercacat mulai dari kelahirannya, kisah drama bagaimana bayi Musa diselamatkan dari rencana pembunuhan bayi oleh perintah Raja Firaun, kemudian Musa diangkat menjadi anak angkat Firaun, dibesarkan di istana Firaun, melarikan diri dari Firaun karena takut ketahuan membunuh seorang dari bangsa Mesir demi membela bangsanya, mengalami “pembuangan” dalam arti pembentukan Tuhan selama 40 tahun di Tanah Midian, kemudain kembali ke Mesir untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan menuju negeri yang baik dan luas, negeri yang berlimpah susu dan madunya.

Kemudian Musa pun memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir juga ditandai dengan “perang” antara Tuhan dan Firaun yang diwakili oleh Musa, kisah sepuluh tulah dan kisah-kisah lainnya menyertai keluarnya bangsa Israel, kemudian bangsa Israel menyeberangi Laut Teberau.

Musa juga memimpin bangsa Isarel dalam perjalanan menuju Tanah Kanaan, berhadapan dengan bangsa Israel yang tegar tengkuk, kisah turunnya sepuluh hukum taurat di Gunung Sinai dan lain-lainya.

Dari seluruh tokoyang ada, salah satu tokoh yang sering di sorot kepemimpinannya adalah MUSA.

Dikatakan bahwa, Musa adalah orang yang paling lembut sedunia. Bagaimana Tuhan bisa mengatakan itu padahal ada kalanya Musa marah kepada bangsa Israel?

Ketika Musa dipanggil untuk kembali ke Mesir setelah 40 tahun di rumah mertuanya Yitro, Musa menjawab panggilan Tuhan, “siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa Israel keluar dari Mesir?” Allah pun berjanji akan menyertai.

Sampai berapa kali ada tawar menawar seolah-olah Musa enggan untuk menerima perintah Tuhan untuk memimpin bangsa Israel dengan berbagai alasan termasuklah alasan tidak pandai bicara hingga Musa berkata supaya Tuhan mengutus orang lain saja.

Setelah itu, Musa pun berangkat k12926708661463783129e Mesir menjalankan perintah Allah.

Hal-hal yang membuat kepemimpinan Musa layak di contoh adalah :

1. Musa menjalankan kepemimpinan itu atas nama Tuhan, maksudnya Musa memang mendapatkan panggilan itu dari Tuhan, bukan sebuah ambisi pribadi. Panggilan Tuhan itu mencakup visi kepada bangsa Israel. Tentu itu tidaklah mdah bagi Musa, apalagi melihat karakter dan keadaan bangsanya selama ia di istana Firaun.

2. Musa memiliki sifat yang rendah hati, khususnya di hadapan Tuhan. Musa takluk kepada kehendak Tuhan. Musa mendengarkan Tuhan. Musa melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Musa selalu bertanya kepada Tuhan sebelum melakukan sesuatu. Musa tidak gegabah. Musa memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan.

3. Musa memimpin dalam kuasa Tuhan, artinya Musa mengandalkan Tuhan dalam kepemimpinannya.

4. Musa memiliki manajemen kepemimpinan yang baik. setelah mendengar usulan mertuanya, Musa merumuskan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada bangsa Israel termasuk tentang hak budak, peraturan kebaktian, jaminan nyawa sesama manusia, tentang orang-orang tak mampu dan lain-lain

5. Musa mengangkat orang-orang untuk ditempatkan memimpin dibawah kepemimpinannya untuk menjadi pemimpn seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin  lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Perkara-perkara kecil akan diselesaikan para pemimpin yang diangkatnya, perkara-perkara besar akan dibawa ke Musa.

Kualifikasi orang-orang yang diangkat Musa untuk membantu dia dalam memimpin adalah :

1. Cakap mengajar

2. Takut akan Tuhan

3. Dapat dipercaya

4. Benci kepada pengejaran suap

Masihkah ada model kepemimpinan seperti Musa?

Musa dalam kepempinannya mendapat pujian dari Tuhan bahwa Musa adalah orang yang paling lembut hatinya dari semua manusia di muka bumi. “Adapun Musa adalah seorang yang lembut hatinya, lebih daripada setiap manusia yang ada di muka bumi” (Bilangan 12:3)

Ciri kepemimpina yang lemah lembut dalam ketegasan, kebijaksanaan tentu menjadi dambaan kita semua.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pecahnya “Kapal” PPP dan Upaya …

Irham Wp | | 20 April 2014 | 03:26

Bisakah Membangun Usaha Tanpa Uang? …

Maskal Novessro | | 20 April 2014 | 08:52

Ketika Rupiah Tidak Lagi Dianggap sebagai …

Dhita Arinanda | | 20 April 2014 | 05:10

Musafir; Aku Pasti Pulang …

Elkhudry | | 20 April 2014 | 06:29

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Gara-gara Amien Rais Mental Prabowo dan …

Mas Wahyu | 5 jam lalu

PDI-P Sudah Aman, tapi Belum Tentu Menang …

El-shodiq Muhammad | 7 jam lalu

Rapor TimNas U-19 Usai Tur Timur Tengah dan …

Hery | 19 jam lalu

Nasib PDIP Diujung Tanduk …

Ferry Koto | 20 jam lalu

Alumni ITB Berkicau, Demo Mahasiswa ITB …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: