
Baru saja menyelesaikan buku "Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!" yang diterbitkan oleh Grasindo (Gramedia Group). Twitter: http://twitter.com/MariskaLbs dan http://twitter.com/art140k juga @the360love bersama Durex blog lainnya: http://bilikml.wordpress.com dan mariskalubis.wordpress.com
Dibaca: 562
Komentar: 154
7 dari 17 Kompasianer menilai bermanfaat
Illustrasi: zonar.net
Menyaksikan dan memperhatikan apa yang terjadi di Kompasiana dengan para Kompasiner membuat saya merasa semakin sedih dan berduka. Ajakan untuk damai dan sama-sama melakukan introspeksi sepertinya memang tidak diinginkan. Masing-masing memiliki kepentingan dan juga tujuan sendiri-sendiri sehingga sulit untuk bisa memperbaiki keadaan.
Berulang kali peristiwa serupa terjadi dan sudah sering juga saya utarakan bahwa ada baiknya semua mau belajar dari masa lalu sehingga tidak perlu harus mengulangi kesalahan. Berulang kali juga saya mengungkapkan bahwa masa lalu itu tidak boleh dianggap tidak penting karena merupakan pijakan untuk melangkah. Masa lalu adalah masa kini dan juga nanti.
Persoalan demi persoalan yang muncul bagi saya merupakan bukti dan fakta bahwa memang kata itu tidak berarti dan tidak memiliki makna lagi. Semua bisa bicara tetapi pada fakta dan kenyataannya, tidak semua berani untuk mempertangungjawabkan semua yang telah dilakukan dan diperbuat. Kata pun hanya sekedar kata dan semua kata adalah hebat.
Kata memang bisa bicara tetapi kata juga bisa membuktikan dan bisa dipertanyakan. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis dengan baik dan benar bila memang terlalu sombong dan tinggi hati untuk mau belajar. Bicara tentang kebaikan dan keindahan yang dipenuhi dengan cinta pun tidak berarti memang memiliki cinta. Bicara tentang kejujuran pun tidak berarti memiliki keberanian untuk jujur apa adanya.
Semua boleh merasa hebat dan penting serta berarti tetapi siapa yang tahu apa dan siapa diri sebenarnya adalah diri sendiri. Bukan orang lain dan yang lain. Untuk apa juga menjadi hebat bila tidak bisa memberikan yang terbaik bagi kehidupan dan masa depan yang lebih baik?! Untuk apa menjadi penting dan berarti bila tidak juga mengerti dan paham tentang posisi, tempat, dan waktu?! Seperti yang pernah juga saya ungkapkan bahwa silahkanlah berbangga tetapi banggalah atas hasil karya yang bermutu dan berkualitas bukan pada diri sendiri. Seseorang yang sudah merasa “lebih” dari yang lain maka dialah yang sebenarnya telah berhenti.
Tidak ada satu pun manusia sama, dan memang manusia diciptakan untuk berbeda dengan segala persamaan yang ada. Yang menjadi inti utama adalah bukan masalah perbedaan atau persamaan dari setiap pribadi yang ada tetapi adalah pada keinginan serta tujuan yang ingin dicapai dan diraih. Apa sebenarnya yang menjadi keinginan dan tujuan itu?! Seseorang bisa saja merasa sangat modern tetapi pada fakta dan kenyataannya tidak memiliki kemampuan untuk melihat dan melakukan tiga langkah maju ke depan. Hanya berkutat pada apa yang sedang trend dan heboh saja tetapi tidak bisa melihat apa yang akan terjadi kemudian.
Semua ini bisa dibuktikan dengan begitu mudahnya tergiring oleh suasana dan juga oleh hal-hal yang negatif yang dilakukan oleh segelintir manusia yang tidak juga mau jujur dan mengakui diri yang sebenarnya. Sehingga kemudian apa yang menjadi penting itu bukan lagi mutu ataupun kualitas. Tidak lagi terfokus pada keinginan dantujuan untuk menjadi seorang penulis sejati yang bisa memberikan banyak arti dan manfaat. Yang ada hanyalah keangkuhan, egois, iri hati, dan juga dengki. Yang benar, baik, dan hebat hanyalah diri sendiri bukan yang lain dan untuk mendapatkan semuanya, cara yang paling mudah adalah dengan menjatuhkannya. Cinta itu bukan untuk diberikan tetapi semata untuk cinta terhadap diri sendiri.
Kompasiana ini adalah blog jurnalis tetapi tidak berarti bahwa semua adalah jurnalis. Tidak mudah untuk menjadi seorang jurnalis yang handal. Untuk menjadi seorang jurnalis yang hebat diperlukan proses, waktu, serta pengalaman. Hasil tidaklah digapai dalam waktu sehari dua hari saja tetapi bertahun-tahun dan itu sangatlah tidak mudah. Berapa banyak yang sudah melewati proses itu pun tetap tidak ada perubahan yang berarti. Mari tanyakan kenapa?!
Terus terang saja hal inilah yang membuat saya menjadi enggan dan malas untuk menulis di Kompasiana ini. Penghargaan atas sebuah karya tidak lagi ada karena yang lebih dipentingkan adalah “nama” dan juga “kuantitas”. Bagi saya semua itu tidaklah penting karena tujuan saya untuk menulis adalah untuk bisa benar-benar dibaca, dimengerti, dan dipahami dengan baik sehingga bisa tercapai semua tujuan dan maksud saya. Bila hanya sekedar dibaca, diberi pujian, diberi hinaan, sekedar tertawa dan bersenda gurau saja, bagi saya secara pribadi, sudah tidak lagi mencapai tujuan. Sehingga saya lebih memilih menulis di blog pribadi saya, Bilik ML, juga di tempat lain baik di dunia nyata maupun di dunia maya, di dalam negeri maupun di luar negeri, seperti yang biasa saya lakukan selama ini. Apakah sebuah kesombongan bila itu merupakan fakta dan kenyataan yang sebenarnya?!
Penghargaan itu tidak perlu dalam bentuk HL, lalu menjadi yang ter ter dan ter, tetapi dari seberapa besar pengaruh atas tulisan itu sendiri. Untuk apa menjadi HL dan masuk yang ter ter dan ter bila memberikan pengaruh yang tidak baik bagi semua?! Untuk apa juga menjadi seorang “pejuang” bila tidak juga mau tahu dan memiliki kepedulian atas apa yang sebenarnya terjadi?! Untuk apa menjadi seorang “pahlawan” bila tidak bisa melihat akar permasalahan yang ada dan menyelesaikannya?!
Berteman dan bersahabat memang indah tetapi benarkah bahwa memang benar teman dan sahabat?! Dengan begitu banyaknya intrik, saling menjatuhkan, saling memaki dan menghina, baik secara terang-terangan maupun diam-diam, bagi saya, sama sekali tidak menunjukkan pertemanan dan persahabatan yang sesungguhnya. Semuanya hanyalah pertemanan dan persahabatan yang palsu dan semua. Memang benar seperti kata pepatah, yang namanya teman dan sahabat, meski memiliki sejuta namun yang sebenarnya tidak pernah bisa lebih dari jumlah jari di tangan.
Saya memang pada dasarnya adalah penyendiri dan lebih senang sendirian meski saya sangat senang berteman dan bersahabat. Namun demikian, bila cinta dan kasih sayang itu hanyalah kepalsuan dan dengan sejuta embel-embelnya, lebih baik saya menghindar saja. Demi kebaikan dan kepentingan semua. Saya selalu yakin bahwa kesempatan itu selalu terbuka dan tidak perlu dicari. Semua tergantung dari keinginan saja. Apa dan siapa kita semua ada di dalam pikiran kita sendiri. Hati nurani meski dipungkiri tidak akan pernah berdusta.
Kompasiana ini hanyalah dunia yang kecil dibandingkan dengan Indonesia secara keseluruhan. Bayangkan saja, semua bicara tentang korupsi, moral, etika, kebenaran dan lain sebagainya yang hebat-hebat tetapi baru di Kompasiana saja semua itu hanyalah menjadi pertikaian dan perselisihan yang terus menerus dan berkesinambungan. Bagaimana mau memberikan yang terbaik dan menjadi yang terbaik bagi bangsa dan Negara ini?! Bagaimana kita semua bisa memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik jika demikian?!
Ekslusifitas dalam bentuk, golongan, atau kelompok apapun merupakan bukti dari kompleksnya primordialisme pemikiran manusia. Terus menjadi “manusia penonton” yang meyakini apa yang dilihat dan didengarnya tanpa mau berpikir dan merenungkannya lebih lanjut adalah bukti dari pembodohan dan kebodohan yang terus berlanjut. Kuantitas yang didahulukan adalah juga bukti kuat atas gagalnya era post modersm yang membuat komersialisasi dan industrialisasi menjadi tujuan utama. Tidak diindahkannya tata bahasa dan cara berbahasa adalah bukti kelabilan dan ketidakkokohan mentalitas serta kepribadian. Ketidakmampuan untuk membaca yang tersirat dan tersurat serta menulis hanya untuk mencapai orgasme dari praktek masturbasi otak dan onani intelektual saja juga membuktikan betapa primitifnya pola pikir dan cara pandang. Toh, sujud pun hanya sekedar sujud bukan merendah dengan sepenuh hati yang tulus dan ikhlas. Bagaimana bangsa dan Negara ini bisa maju?!
Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah dunia bila tidak mengubah diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa mengubah lainnya selain diri sendiri. Introspeksi diri bukanlah sekedar kata yang tidak memiliki arti dan makna. Bukan juga hanya sekedar sekilas kata yang membosankan ataupun remeh temeh. Tidak mudah untuk mau melakukannya dengan sungguh-sungguh. Keberanian dan nyali sungguh sangatlah diuji dalam hal ini. Begitu juga dengan jiwa besar, cinta, kasih sayang, ketulusan dan keikhlasan.
Semoga saja apa yang menjadi ungkapan dari rasa dan hati seorang perempuan “penulis lendir” yang tidak senonoh dengan “celengan babinya”, yang menjerumuskan, tidak pernah member dan hanya sekedar berucap serta tidak berarti ini masih bisa memberikan arti dan manfaat. Waktu bisa bicara dan kebenaran adalah sebuah kepastian. Hanya pembenaran yang tidak pernah pasti dan di mana ada alasan di sanalah ada alasan lagi yang lain dan untuk alasan yang lainnya.
Damai itu indah dan damai itu hanya bisa ada di dalam hati dan jiwa mereka yang dipenuhi oleh cinta dan kebahagiaan. Jadilah seorang penulis sejati demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik.
Maaf bila ada salah baik dalam kata ataupun perbuatan. Terbanglah tinggi ke langit dan ukirlah bintang. Semua adalah bintang dan semua memiliki bintang. Tergantung bagaimana kemudian kita mau mengukir dan menjadikannya.
Salam hangat selalu,
Mariska Lubis