Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Heri Yanto

ingin belajar n mencoba menyalurkan hobi menulis

Pernikahan Dini

OPINI | 02 December 2010 | 02:55 Dibaca: 338   Komentar: 0   0

Kata pernikahan dini sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Indonesia,apalagi didaerah tertentu seperti kota Palabuhan ratu dan sebagian Puncak Cisarua Bogor,apalagi masyarakat asli didaerah tersebut pasti lebih tidak heran dan aneh lagi dengan istilah pernikahan dini karena masyarakat didaerah tersebut memang mayoritas melakukan pernikahan pada usia dini,mengapa demikian?Ini dikarenakan 2 hal yakni :

1.Himpitan Ekonomi

banyak keluarga yang berharap setelah anak gadisnya menikah dapat meringankan beban keluarga dan dapat merubah nasib keluarganya,contohnya Syekh Pudji walaupun ini diluar daerah yang saya ceritakan tapi ini bukti bahwa ada keluarga diIndonesia yang rela mengawinkan anaknya hanya karena tuntutan materi,hal ini cenderung terjadi pada kalangan rakyat yang dikelas menengah kebawah.

2.Kebiasaan Masyarakat

Didaerah yang saya angkat kedalam cerita ini adalah tentang kebiasaan masyarakatnya yang mayoritas menikah muda,terlebih dadaerah Cibuntu dan Cibutun kecamatan Loji,Palabuhan Ratu didaerah ini sesuai dengan hasil survey lapangan yang pernah saya lakukan meghasilkan hasil yang sangat mengejutkan yakni 80% dari gadis  didaerah tersebut telah menikah pada usia 14-17 tahun???Hal yang sangat mengejutkan tentunya,pasti muncul pertanyaan dalam benak kita kenapa ada hal ini,jawabnya adalah didaerah ini ada kebiasaan mencap perawan tua bagi gadis yang belum menikah pada usia lebih dari 17tahun,akibatnya banyak sekali janda  - janda muda yang pada usia belia harus mengurus anak dan juga harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya,sehingga mereka berusaha mencari pengganti sosok lelaki dalam hidupnya,yang seakan akan melegalkan kawin cerai didaerah ini.Mengapa demikian?

Adakah resiko menikah pada usia muda?salah satu resikonya adalah Wanita yang hamil pada usia 14 sampai 17 tahun memiliki resiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi prematur, dan memiliki bayi berat lahir rendah (BBLR), terutama bila kehamilan tersebut merupakan kehamilan yang kedua. Hal ini merupakan hasil penelitian seperti yang ditulis dalam Jurnal “BMC Pregnancy and Childbirth”. Dalam jurnal tersebut, para peneliti merekomendasikan kepada wanita muda belia untuk memakai kontrasepsi setelah melahirkan dan lebih memerhatikan masalah kondisi kesehatannya,dan juga keadaan emosi yang masih dalam tahap pendewasaan diri yang cenderung tidak stabil sehingga ada sedikit masalah saja akan marah hingga meledak ledak,yang berakibat sampai pada tahap perceraian.

Hal yang sangat menakutkan tentunya karena dapat menyebabkan kematian janin beserta ibunya,dan juga dapat merusak tali silaturahmi juga dapat menelantarkan anak apabila terjadi perceraian. apa ini yang diharapkan tentunya tidak, maka disini harusnya pemerintah lebih meningkatkan penyuluhan bagi masyarakat tentang bahaya  dan resiko menikah pada usia dini,dan juga harus semakin berpikiran terbuka bahwa menikah pada usia dini bukanlah jalan yang terbaik.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: