
Di samping senang menulis, saya senang berkebun, memasak (menu vegetarian), keluar masuk kampung atau hutan, dan bersepeda ontels.
Dibaca: 382
Komentar: 15
2 dari 2 Kompasianer menilai Aktual
Semakin banyak Marzuki Alie berbicara, semakin nampak bahwa orang ini memang tidak mempunyai kualitas yang memadai sebagai seorang ketua DPR. Betapa mengherankan bahwa orang macam ini bisa menjadi ketua DPR di sebuah negara berpenduduk lebih dari 240 juta jiwa. Entah sengaja atau tidak, wajah-wajahnya di media massa lebih sering nampak dalam keadaan bloon bagi saya.
Jawabannya yang enteng baru-baru berkaitan dengan berbagai kutukan dan hujatan terhadapnya atas komentarnya terhadap warga Mentawai yang sedang dirundung bencana membuat manusia-manusia yang masih punya akal sehat terheran-heran. Seorang ketua DPR RI bisa berkomentar: “Tak ada masalah. Saya syukuri saja, bisa menjadi orang terkenal.” (Tempo: Marzuki Alie.)
Marzuki Alie ini benar-benar sudah sakit jiwa. Dia tidak sadar posisinya sebagai ketua DPR? Apa dia kira dia artis murahan yang bisa bikin ulah apa saja sehingga menjadi terkenal? Terkenal dalam hujatan dan kutukan apa gunanya? Kalau dia tidak sedang sakit jiwa, maka apa lagi nama yang tepat untuk orang macam dia ini?
Dia bersedia minta maaf kepada khususnya warga Mentawai? Apakah orang seperti Marzuki Alie ini bisa kita percayai? Caranya yang anggap remeh dan enteng itu membuat saya sama sekali tidak percaya bahwa dia bahkan tahu apa artinya minta maaf sebagai seorang ketua DPR RI. Dia kira itu jabatan kerajaan di keluarga nenek-moyangnya apa? Apa dia kira dia sudah hebat sebagai seorang ketua DPR ya? Mentalitas feodal orang ini sungguh menjijikkan. Siapa pun yang memperlakukan posisi/jabatan yang mereka emban untuk kepentingan publik sebagai sebuah kesombongan dalam bertindak dan bertingkah laku maka orang macam ini adalah sungguh menjijikkan.
Saya sama sekali tak melihat bahwa Marzuki Alie ini punya cukup simpati terhadap warga Mentawai. Sangat mudah membuktikannya wahai saudari dan saudara sebangsa dan setanah air. Tempo memberitakan bahwa kemarin, Jum’at, Marzuki Alie sedang berada di Malayasia dalam rangka wisuda doktoralnya. Untuk apa gelar doktor kalau orang tak punya rasa kemanusiaan terhadap sesamanya dalam bertindak dan bertingkah laku? Untuk apa gelar doktor? Gelar macam ini hanya sebuah gelar yang maaf, menjijikkan.
Apa sih guna dan relevansi upacara seremonial yang membosankan dan penuh basa-basi itu bagi kehidupan banyak manusia? Justru, si Marzuki Alie ini sama sekali tak punya rasa malu sebab dia memilih bersenang-senang di Malaysia untuk acara wisudanya sementara dia sebagai ketua DPR sama sekali belum pernah ke Mentawai setelah tsunami terjadi.
Apa sih yang pantas kita tiru dari seorang manusia macam si Marzuki Alie ini? Justru pada saat warga negara Indonesia sedang sibuk dengan apa yang sedang terjadi di Mentawai, Jogja dan Jakarta, dia malah pergi ke Malaysia untuk wisuda. Oooh! Sama sekali tak bisa saya percaya bahwa orang ini hanya punya kepedulian yang sangat dangkal terhadap sesamanya. Tak punya rasa malu sama sekali!***