
Baru saja menyelesaikan buku "Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!" yang diterbitkan oleh Grasindo (Gramedia Group). Twitter: http://twitter.com/MariskaLbs dan http://twitter.com/art140k juga @the360love bersama Durex blog lainnya: http://bilikml.wordpress.com dan mariskalubis.wordpress.com
Dibaca: 547
Komentar: 108
12 dari 18 Kompasianer menilai Aktual
Mentawai, Merapi, dan Jakarta juga daerah-daerah lainnya di seluruh Indonesia sekarang ini sedang mengalami musibah yang amat sangat membuat kita semua merasa sedih dan berduka. Namun ada satu hal lagi yang membuat saya amat sangat sedih adalah karena sudah hilangnya rasa peduli dan tidak adanya hati atas cinta serta ketulusan dari mereka yang mengaku peduli atas semua ini.
Saya sangat gemas sekali mendengarkan bagaimana wartawan mewawancarai para korban musibah bencana kemarin malam. Kata-kata yang digunakan benar-benar menunjukkan ketidaksiapan mereka untuk menjadi seorang wartawan yang baik dan juga sama sekali tidak memiliki hati di dalam bersikap ataupun bertanya. Melakukan reportase bukan hanya sekedar bicara ataupun mengungkapkan berita, tidakkah juga mau belajar bahwa kata-kata menunjukkan pribadi seseorang dan juga pihak yang dipresentasikannya?! Tidakkah juga sadar bahwa kata-kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dunia apalagi media massa?!
Contohnya saja sebuah posting status yang saya terima dari @tvoneNews di twitter, isinya: “Kami memang sedang fokus meliput bencana. Mohon maaf pemirsa yang terus memaki kami. Silahkan pindah saluran liburan/lawak…”. Apa maksudnya?! Sebuah contoh tidak adanya profesionalisme serta ketidakpedulian terhadap apa yang sedang terjadi. Masa media massa beropini onani?! Sibuk mengkritik tetapi nyatanya hanya sebuah itik kritikus orgasmus* bukan atomic maksimus orgasmus yang membuat bahagia semuanya.
Belum lagi mendengar celoteh mereka yang mengaku pemimpin dan memang sebenarnya diangkat sebagai pemimpin oleh rakyat. Bisa-bisanya berkomentar yang sifatnya membuat situasi menambah tidak enak dan nyaman. Amat sangat tidak menunjukkan kelasnya sebagai seorang tokoh elit politik. Hanya masturbasi otak semata. Masih sempat pula ada yang berangkat ke Italy tanpa alasan yang jelas. Sebuah pelecehan dan pemerkosaan berat terhadap bangsa dan Negara ini.
Masyarakat pun kemudian menjadi menganga dan bingung. Hanya bisa menjadi manusia penonton yang pasrah dan memilih diam. Padahal dalam keadaan seperti ini diam bukanlah emas tetapi sangat menjerumuskan. Memang semua ini adalah pilihan tetapi alangkah baiknya bila kita semua sadar bahwa selama ini kita telah terjerumus, hanyut, larut, dan tenggelam pada sebuah situasi dan kondisi yang merugikan kita semua. Tidakkah ada kepedulian untuk bangkit dan berjuang demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik?! Apakah karena kepala dan hati kita sudah terbungkus kondom** malah yang sulit untuk bocor dan terbuka?!
Kita bisa saja ribut dan berkata bahwa semua musibah ini adalah akibat dari dosa dan perbuatan maksiat yang telah dilakukan oleh yang lainnya. Bisa juga mengatakan bahwa ini adalah akibat dari perbuatan mereka yang tidak beriman. Namun sudahkah kita bercermin?!
Saya sempat berdikusi dan meminta pendapat dengan seorang pria penuh cinta yang sangat saya hormati dan cintai.
“Duh, apa yang sebenarnya terjadi? Kok berantakan sekali kita ini, ya?!”
“Maksudnya alam?”
“Alam, sih, ya sudahlah. Ini orang-orang kenapa asbun (asal bunyi)?! Wartawan bikin gemas. Pemimpin asal… Heran, deh!”
“Kok asbun?!”
“Ya, saya tidak suka jika bencana dikaitkan dengan perbuatan maksiatlah, dosalah. Ampun, deh!”
“Dosa dan maksiat itu maknanya luas. Penebangan liar, penambangan, korupsi itu juga maksiat.”
“Ya, tetapi yang dimaksudkan mereka adalah zinah dan tidak beragama.”
“Korupsi bukan hanya ambil duit. Korupsi kerja, kebijakan, ideologi juga sama. Nebang hutan secara tidak benar juga zinah. Memperkosa alam.”
“Saya mengerti, namun berbeda dengan yang mereka maksudkan apalagi soal tidak beriman.”
“Tidak beriman maknanya tidak memegang aturan, nilai, dan norma. Jadi, suka berfoya-foya, menyimpang, perkosa dan akhirnya korupsi sana sini, rusak sana sini juga.”
“Apa mungkin mereka berpikir sejauh itu?! Menurut saya tidak sejauh itu. Mereka selama ini hanya mencari alasan saja untuk bisa menuduh dan menuding tetapi tidak berkaca dan bercermin. Bila memang mereka benar-benar paham dan mengerti tentunya mereka tidak sembarangan di dalam menuduh dan menuding. Memangnya siapa manusia sampai bisa melakukan semua itu?! Apa manusia sudah melebihi Tuhan?!”
“Mereka yang tidak beriman dalam arti yang lebih luas adalah yang tidak ikut aturan dan membangun aturan, kebijakan, dan kebijaksanaan yang adil.”
“Apakah sudah adil dengan melakukan tudingan dan tindakan diskriminatif apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini?!”
“Berbeda boleh tetapi diskriminatif tidak boleh. Berbeda itu juga sunnahtullah. Yakin pada keyakinan sendiri boleh termasuk yakin tidak sama dengan yang lainnya. Menghina juga dilarang menegaskan boleh.”
Hmmm….
Sungguh saya tidak bermaksud untuk kemudian menjadikan semua ini sebagai sesuatu yang semakin membuat tidak enak dan tidak nyaman. Saya akui saya memang marah dan kesal namun di satu sisi saya juga sebenarnya ingin mengingatkan semua betapa pentingnya bagi kita semua untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam keadaan seperti sekarang ini alangkah baiknya bila kita melakukan introspeksi diri bahwa tidak ada dari seorang pun di antara kita yang tidak luput dari kesalahan dan bisa saja menyebabkan apa yang terjadi sekarang ini terjadi. Kita seringkali terlalu sombong untuk mau mengakuinya meski selalu berkata memiliki cinta dan amat sangat peduli. Benarkah itu sebuah cinta ataukah itu hanyalah sebuah nafsu dan ambisi untuk diri sendiri? Benarkah memang kita peduli ataukah itu hanya sekedar “ada” dan hanya merupakan sebuah bentuk dari pencarian dan pengukuhan eksistensi diri?!
Media massa, pemimpin, masyarakat, kita semua sebenarnya adalah sama saja. Masuk ke dalam sebuah lingkaran yang sambung-menyambung dan terus berputar serta saling terkait. Setiap kali ada aksi pasti ada reaksi, setiap kali ada perbuatan pasti juga ada balasan. Terus saja demikian hingga kemudian menjadi sebuah benang kusut yang semakin sulit diuraikan dan dibenahi kembali. Bagaimana juga bisa menyelesaikannya bila tidak mencari ujung pangkalnya dan bagaimana bisa menemukan ujung pangkalnya bila tidak mau melepaskan diri.
Inilah yang sebenarnya merupakan duka terdalam saya. Segala peristiwa, kejadian, dan musibah sebenarnya bisa diambil hikmahnya. Kita seharusnya sadar bahwa kita ini sudah terlalu sombong dan tinggi hati. Tidak juga mau belajar dan menjadi seorang pribadi yang lebih baik lagi. Memang sulit untuk belajar bila kita terus saja tinggi hati dan tidak mau merendahkan diri. Padi semakin berisi saja semakin merunduk, masa kita sebagai manusia tidak malu?!
“Ya Allah, Ya Tuhan, maafkanlah kami.”
Apa yang sudah terjadi jadikanlah sebuah pelajaran dan jadikanlah pijakan untuk melangkah ke depan. Kita memang sedang susah dan sedih tetapi harapan itu selalu ada. Mimpi tidak boleh mati, oleh karena itulah kita harus sama-sama terus berjuang dan berusaha semampu kita. Ora et labora, berdoa dan berusaha. Perjuangan memang berat tetapi apalah artinya bila kita memang benar-benar memiliki cinta yang sesuangguhnya?! Negara dan bangsa ini sudah sangat membutuhkan cinta karena hanya dengan cinta sesunguhnyalah kita semua bisa bangkit kembali.
Penuhilah diri dengan cinta dan berikanlah cintamu dengan penuh ketulusan hati. Semoga kita semua mau melakukannya. Sekali lagi, demi masa depan dan kehidupan yang lebih baik. Yuk, bangkit!!! Semangat!!!
Salam hangat penuh cinta selalu,
Mariska Lubis
Catatan:
* Saya mengambil istilah orgasme itik kritik dari komentar Bang Itock Van Diera di status FB saya. Terima kasih ya, bang!
** Istilah kondom inipun saya ambil dari komentar Hazmo Srondol di status FB saya. Makasih ya darling!
Terima kasih juga untuk teman diskusi saya yang baik hati sudah memberikan saya banyak masukan. Terima kasih juga, ya, bang!