Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Cipta Wardaya

~ Kupu-kupu yang indah pun berawal dari ulat yang tadinya "disangka" menjijikan. Karena semua akan selengkapnya

Mewujudkan Perdamaian Dunia

OPINI | 22 October 2010 | 12:29 Dibaca: 4874   Komentar: 0   0

Dulu kita mengenal bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cinta damai. Dunia pun mengakui akan hal itu. Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang santun, ramah, peduli serta cinta damai. Namun masih pantaskah sekarang bangsa ini menyandang predikat sebagai bangsa yang santun, ramah, peduli serta cinta damai seperti dahulu kala? Tentu jika mau jujur harus kita akui bersama kini bangsa ini tidak pantas lagi menyandang sebutan sebagai bangsa yang santun, ramah, peduli, serta cinta damai. Maaf saja sebelumnya, namun itulah kenyataan yang ada.

Jika mau sejenak merenung, kini bangsa Indonesia seolah semakin kehilangan jatidirinya. Salah satu yang menjadi cirri khas jatidiri bangsa Indonesia adalah cinta damai. Namun kenyataannya akhir-akhir decade ini penulis mengamati budaya cinta damai itu semakin menghilang seiring berjalannya waktu. Maka dari itulah dalam tulisan ini penulis akan memfokuskan terkait masalah perdamaian. Perlu kita ketahui bersama, masalah perdamaian kini tidak saja menjadi masalah urgen bagi bangsa Indonesia. Namun masalah perdamaian merupakan sebuah salah satu dari lima isu global yang berkembang sekarang ini.

Seperti yang diungkapkan seorang dosen bernama (ibu) Ariefa Efianingrum, M.Si bahwa sekarang ini ada lima pokok isu global yang sedang berkembang. Yaitu terkait pollution (polusi), masalah kemiskinan, peaceful (masalah perdamaian), population (masalah populasi penduduk), dan terkait masalah konflik sosial. Sedangkan menurut (bapak) Arif Rochman, M.Si yang juga seorang dosen mengungkapkan ada satu lagi yaitu terkait masalah crime (kejahatan, kriminalitas). Beberapa hal itu merupakan isu global yang sedang berkembang sekarang ini.

Dalam tulisan ini saya hanya akan sedikit mengulas dan memberikan analisis sederhana terkait isu peaceful (perdamaian). Sebab menurut penulis masalah perdamaian saat ini menjadi hal yang sangat urgen sekali. Bukan hanya bagi bangsa Indonesia, namun juga bagi seluruh warga dunia ini. Merasakan kehidupan yang aman, tentram, dan damai merupakan hak asasi setiap manusia. Dan ini tidak bisa diganggu-gugat ataupun ditawar-tawar lagi. Sekaya apapun seseorang atau semaju apapun sebuah Negara pasti tidak mau hidup dalam kondisi konflik atau peperangan. Menurut penulis kodrat kita sebagai manusia yang dianugerahi rasa kasih sayang dan nurani oleh Tuhan mendorong kita untuk terus mencintai perdamaian.

Ketika ada seseorang ataupun Negara yang lebih suka menyerukan peperangan, mungkin saja hati nuraninya telah mati. Sebab semua yang hati nuraninya masih berfungsi tentu akan memilih perdamaian. Bukankah perdamaian itu tidak sulit dan lebih memberikan harapan? Mengapa harus kita persulit? Sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan, andai saja semua orang dan seluruh Negara di dunia ini mau bersama-sama “saling bergandengan tangan” dan berkomitmen untuk terus menyerukan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Murut penulis sudah saatnya kini kita hapuskan paradigma bahwa mewujudkan sebuah perdamaian itu sulit. Paradigma bahwa mewujudkan perdamaian itu sulit hanya akan terus membelenggu fikiran kita dan menjadi batu sandungan yang menjegal segala upaya perdamaian itu sendiri. Penulis terkadang merasa miris, mengapa begitu mudahnya kita serukan konflik dan peperangan? Sementara itu begitu sulit hanya untuk sebuah perdamaian yang mana demi kehidupan bangsa juga seluruh Negara yang lebih baik. Ini tentu menjadi PR untuk bangsa Indonesia khususnya dan seluruh Negara di dunia yang masih bernurani tentunya.

Kita bersama harus yakin bahwa suatu saat nanti perdamaian dunia akan benar-benar terwuudkan. Tentu yakin saja tidak cukup dan tidak akan pernah mengubah keadaan. Menurut penulis harus ada upaya-upaya nyata yang kita lakukan bersama Negara-negara di seluruh penjuru dunia. Selama ini memang sering ada upaya-upaya diplomasi dan pertemuan antar Negara guna menciptakan perdamaian dunia. Pada akhirnya yang dihasilkan seperti biasa yaitu butir-butir kesepakatan atau semacam perjanjian bersama yang selama ini belum banyak mampu merubah keadaan.

Mengapa penulis melihat belum banyak adanya perubahan yang dihasilkan dari pertemuan-pertemuan atau perjanjian-perjanjian terkait perdamaian yang dilakukan berbagai Negara selama ini? Kita lihat saja sebagai contoh konflik antara Israel dan Palestina yang tak kunjung usai hingga kini. Atau yang lebih sederhana lagi betapa masih marak terjadi konflik SARA pada akhir-akhir ini. Terus bagaimana solusinya?

Ada beberapa solusi atau upaya versi Cipto Wardoyo yang harus dilakukan demi mewujudkan perdamaian dunia, antara lain:

•Melalui Pendekatan Cultural (Budaya)

Menurut penulis untuk mewujudkan perdamaian kita harus mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat ataupun sebuah Negara. Jika tidak akan percuma saja segala upaya kita. Dengan mengetahui budaya tiap-tiap masyarakat atau sebuah Negara maka kita bisa memahami karakteristik dari masyarakat atau Negara tersebut. Atas dasar budaya dan karakteristik masyarakat atau suatu Negara, kita bisa mengambil langkah-langkah yang tepat dan efektif dalam mewujudkan perdamaian disana. Menurut penuulis pendekatan budaya ini merupakan cara yang paling efektif dalam mewujudkan perdamaian di masyarakat Indonesia serta dunia.

•Melalui Pendekatan Sosial dan Ekonomi

Dalam hal ini pendekatan sosial dan ekonomi yang penulis maksudkan terkait masalah kesejahteraan dan factor-factor sosial di masyarakat yang turut berpengaruh terhadap upaya perwujudan perdamaian dunia. Ketika masyarakatnya kurang sejahtera tentu saja lebih rawan konflik dan kekerasan di dalamnya. Masyarakat atau Negara yang kurang sejahtera biasanya akan “cuek” atas isu dan seruan perdamaian. “Boro-boro mikirin perdamaian dunia, buat makan untuk hidup sehari-hari saja susahnya minta ampun”, begitu fikir mereka yang kurang sejahtera. Maka untuk mendukung upaya perwujudan perdamaian dunia yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah meningkatkan pemerataan kesejahteraan seluruh masyarakat dan Negara di dunia ini.

•Melalui Pendekatan Politik

Menurut analisis penulis, melalui pendekatan budaya dan sosial ekonomi saja belum cukup efektif untuk mewujudkan perdamaian dunia. Perlu adanya campur tangan politik, dalam artian ada agenda politik yang menekankan dan menyerukan terwujudnya perdamaian dunia. Terlebih lagi bagi Negara-negara maju dan adidaya yang memiliki power atau pengaruh dimata dunia. Negara-negara maju pada saat-saat tertentu harus berani menggunakan power-nya untuk “melakukan sedikit penekanan” pada Negara-negara yang saling berkonflik agar bersedia berdamai kembali. Bukan justru membuat situasi semakin panas, dengan niatan agar persenjataan mereka terus dibeli.

Ini tentu sekali lagi butuh kesadaran dan komitmen bersama. Yang jadi pertanyaan dibenak penulis terhadap Negara-negara adidaya, katanya cinta damai tapi mengapa terus berlomba-lomba membuat senjata perang yang super canggih dan mematikan yang bersifat masal ?!.

•Melalui Pendekatan Religius (Agama)

Pada hakikatnya seluruh umat beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya perdamaian. Sebab saya kira tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan, kekerasan ataupun peperangan. Semua Negara mengajarkan kebaikan, yang diantaranaya kepedulian dan perdamaian. Maka dari itu setiap kita yang mengaku beragama dan ber-Tuhan tentu harus memiliki kepedulian dalam turut serta mewujudkan perdamaian di masyarakat maupun di kancah dunia. Para tokoh agama yang dianggap memiliki charisma dan pengaruh besar di masyarakat harus ikut serta aktif menyerukan perdamaian.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 15 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 15 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 15 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 15 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: