
Ustadz Funky, Mahasiswa Pascasarjana UNJ Prodi Teknologi Pendidikan, Senang mengamati masalah sosial
Dibaca: 117
Komentar: 11
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual
Setelah menyaksikan acara Kick Andy kemarin, tanggal 15 Oktober 2010 di Metro TV dengan topik “bunuh diri”, membuat saya termenung dan tersadar, bahwa negara ini telah demikian parah dan mendekati kehancuran. Bukti yang paling sederhana adalah meningkatnya angka bunuh diri di negeri ini, dan alasan yang paling menyedihkan adalah ekonomi dan ketidakmampuan menahan derita yang berkepanjangan.
Jika kesulitan ekonomi menjadi alasan kuat untuk mengakhiri hidup, maka selaku orang yang berakal kita harus mencari jawabannya, kenapa ekonomi kita tidak membaik. Ketika tetangga kita sudah “reverse” ke arah yang lebih baik pasca hantaman krisis ekonomi secara global, kenapa kita masih “betah” membenamkan diri pada jurang yang mengerikan. Apakah tidak malu dan tidak mau merubah kondisi ini? Wahai anak dari Ibu Pertiwi tercinta, mari kita kita pikirkan. Dengan segala potensi dan semua elemen, mari bergandeng tangan, untuk menyelamatkan bangsa ini.
Kita berdosa secara bersama-sama, Allah akan mencatat dalam buku amal kita dengan catatan “DOSA” secara kolektif, karena kita tidak hirau dengan sekitar kita. Bukankah Nabi Muhammad SAW telah bersabda : “Tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan”. Kita asik dengan urusan diri sendiri, keluarga dan kelompok, sementara melupakan rakyat disekitar kita yang kelaparan, mereka tenggelam dalam kemelaratan yang tak terperi, tidak mampu lagi mengeluarkan air mata, karena telah kering dan telah terlalu lama menangis.
Padahal jeritan mereka sudah tampak di media elektronik, media cetak, bahkan di depan mata kita sendiri, di jalan-jalan, di perkampungan kumuh, bahkan derita mereka sudah “berbau”.
Kadang terpikirkan, apakah pemerintah sekarang tidak melihat televisi atau membaca koran dan majalah, berita kelaparan dan kesulitan sudah begitu terbuka, mereka satu persatu telah menyerah kalah dalam mengarungi sulitnya hidup ini, bukan karena mereka tidak mau berjuang, tapi karena mereka merasa tidak ada lagi yang peduli. Atau,…. jangan-jangan, berita televisi, koran dan majalah di meja para petinggi kita “berbeda”, semua laporannya hanyalah senang dan kemakmuran, pencapaian dan peningkatan, tidak ada laporan dan berita duka. Celakanya, mungkin kita masuk pada periode 32 tahun yang kedua, jilid dua dari penjajahan oleh bangsa sendiri.
Pada 32 tahun jilid pertama, berita bunuh diri tidak terlalu sering kita dengar, mungkin karena pemberitaan yang terbatas, atau kasusnya belum banyak. Sementara pada awal “32 tahun yang kedua”, hampir tiap hari parade kelaparan dan rebut makanan di sana-sini. Apakah kita harus menunggu hingga genap 32 tahun lagi untuk sadar, bahwa kita masuk perangkap yang lebih menyedihkan.
Pemimpin bertanggungjawab atas apa yang mereka pimpin, jangan cari alasan bahwa masalah ada di luar sana bukan di dalam, jika demikian cara pandang pemimpin, maka kehancuran hanya tinggal menghitung hari. Wahai pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya sendiri, sadarlah!, tanggungjawab ini bukan dibibir saja, tapi nanti akan diminta pertanggungjawabannya.
“Wahai bangsaku, saksikanlah! aku menarik diri dan menyesal telah memilih pemimpin yang sekarang, karena aku sudah tidak tahan lagi melihat luka saudaraku yang tak kunjung sembuh, tak tahan lagi melihat saudaraku berebut makan dengan mempetaruhkan nyawa, tak tahan lagi melihat saudaraku bunuh diri karena lapar, sementara mereka yang di atas sana sibuk, sibuk membagi kekuasaan kepada keluarganya, kepada kroninya, kepada partainya. Mereka terlalu sibuk menghitung proyek yang akan dibagi, terlalu sibuk membagi jabatan, terlalu sibuk memperbaiki citra. Aku berlepas diri dari segala upaya mereka dalam memperkaya diri. Ya Allah, rasanya dosa berjamaah kami telah begitu besar, kami tidak akan sanggup menahan balasannya nanti, maka angkatlah kekuasaan yang Engkau titipkan pada mereka, Engkaulah yang memberi kekuasaan dan Engkau pula yang dapat mencabutnya”.
Mari kita perbaiki diri kita sendiri, ya! mulai dari diri sendiri, yang paling utama adalah jangan salah lagi memilih pemimpin yang tidak jelas komitmentnya. Jika kemarin kita dihadapkan 3 paket capres yang sama buruknya, semoga di masa yang akan datang ada yang lebih baik. Tidak ada paket “SDM”, tidak ada paket “pencitraan” dan tidak ada paket “PLN”.
Mari perbaiki bangsa kita, dan mari berbuat!