Artikel

Sosbud

Restu Ashari Putra

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seorang penulis yang sedang belajar menyikapi hidup dan kehidupan

Urusan Perut dan Dilema Budaya Baca


OPINI | 06 October 2010 | 15:33 Dibaca: 53   Komentar: 2   Nihil

Sambil merebus indomie yang saya panaskan dalam pemanas air, saya coba meraih buletin sastra yang diberikan kawan saya, Atep Kurnia, tadi malam. Ia, yang juga redaktur sebuah majalah sunda di Bandung, tak hanya memberikan majalah itu tapi juga kami sempat ngobrol banyak hingga larut malam dengannya. Pagi ini saya sarapan agak telat. Selain memang karena pemanas air yang kebetulan rusak dan sempat saya perbaiki sebentar, saya pun berpikir ulang dengan apa saya sarapan pagi ini sedang keuangan tinggal cukup untuk dua hari lagi. Seakan tak peduli pada segala kemelut ekonomi (entah kenapa saya merasa yakin bakal dapat rejeki cepat), saya membaca halaman pertama esai dalam buletin sastra yang diberikan kawan saya itu, karena memang semalam belum sempat saya baca serius. Kebetulan esai di halaman pertama itu adalah hasil tulisannya dia.

Saya membaca cepat. Dalam esai itu ia menggambarkan bagaimana budaya baca barat yang sangat mengagumkannya. Dari mulai perjalan literasi dunia barat hingga aneka rupa jenis literasi barat ia beberkan dalam esai itu. Seperti karya-karyanya Walt Whitman, Emily Dickinson, dan ada juga Umberto Eco, sang pakar semiotik itu. Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa perkembangan budaya baca barat telah dibentuk sedemikian rupa bahkan pada kaum cendekiawan masa Renaisans serta Reformasi Protestan yang mensyaratkan para pengikutnya untuk bisa membaca Injil, sehingga mempengaruhi daya literasi masyarakat Eropa saat itu.

Hingga menginjak era Revolusi Industri di mana dinamika literasi menjadi bagian dari perkembangan proses produksi manual kepada mesin (percetakan). Perkembangan tersebut mempengaruhi car abaca masyarakat Eropa dari reading aloud (baca bersuara keras) kepada silent reading (baca dalam hati).

Namun yang menjadi pemikiran saya adalah saat tradisi dan perkembangan yang sedemikian rupa tersebut ditarik pada kondisi masyarakat kita, maka persoalannya menjadi dilematis. Pertama, kendala sejarah perkembangan bangsa kita yang sudah terlanjur menjadi korban doktrin “Pembangunan” (terutama pada era orde baru). Hal yang lebih diutamakan saat itu adalah pembangunan ekonomi secara fisik. Memang masyarakat sejahtera, namun pelan-pelan kita seperti merasakan kebodohan kita sendiri. Padahal kalau melirik tradisi dan pembangunan budaya Jepang , mereka lebih memntingkan membangun institusi pendidikan dan melahirkan ribuan guru sebagai pondasi awal pembangunan. Malasia saja saat itu rela mengirimkan banyak sumber daya manusianya ke Indonesia, bukan untuk bekerja melainkan untuk belajar.

Persoalan kedua, adalah setelah mengalami perjalanan panjang masa-masa sejarah seperti itu (walaupun tak bisa melulu kita sesali), saya terkadang berpikir, memang sih tradisi barat terutama dalam budaya literasi mereka sangat tinggi. Namun itu terjadi karena mereka telah menyelesaikan persoalan kesejahteraan masyarakatnya yang tiap-tiap individu mereka telah mampu berdaya sendiri-sendiri. Mereka sudah tak lagi dicekoki pemerintah atau banyak bergantung pada nasib yang turun dari pemerintah untuk mengurusi hidup mereka lagi. Oleh karenanya, bagi saya sudah tak asing jikalau sambil menunggu pakaian kering mereka terbiasa membaca buku-buku tebal. Atau sambil menunggu antrian loket yang panjang mereka sibuk membaca. Karena urusan “perut” bagi mereka telah selesai.

Bahkan buku-buku karya sastra, yang mungkin tebalnya setebal kamus biasa mereka lahap dalam waktu senggang meskipun mereka jauh dari hiruk pikuk dunia sastra itu sendiri. Bandingkan dengan kehidupan masyarakat tanah air kita, siapa penulis sastra dan siapa pembaca sastra?

Akhirnya setelah indomie rebus saya matang, saya tinggalkan bulletin pemberian teman saya tadi sebelum perut saya didera perih berkepanjangan hingga saya tak dapat membaca lagi. Lagi-lagi urusan perut.<*>

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: