Artikel

Sosbud

Selembar Koran Untuk Berkhayal dan Kejujuran Seorang Leyla (Review Teluk Naga #2 oleh Spasi)


REP | 05 October 2010 | 16:38 Dibaca: 93   Komentar: 43   7 dari 8 Kompasianer menilai Inspiratif

SPASI kembali merancang sebuah lokakarya sederhana bertajuk “belajar menulis” di SD Negeri Muara 1, Teluk Naga, Tangerang. Dan rancangan tersebut berhasil ditunaikan pada hari Minggu, 3 Oktober 2010. Tanpa “Bu Bos” Gitaditya, mentor utama Mba Mariska Lubis, sahabat kami Yayasan Pelita Hati, dan beberapa teman yang berhalangan hadir: Andy, Fikri, Gibic, Pungky, dll; kami masih bersemangat untuk bisa mencapai Teluk Naga hari itu juga dengan dua mobil pinjaman dari seorang anggota SPASI yang sangat mulia. Tak terlupakan jasamu Mahatma.

Dee Dee Sabrina dengan jenius membuka jalan baru, berbeda dengan jalan yang kami pakai pertama kali. Berbatu, becek, dan memakan jarak tempuh yang lebih lama tetapi kami dihadiahi pemandangan sebagian wilayah Teluk Naga, banyak tambak, rawa, dan beberapa kultur masyarakat pesisir. Dengan kondisi mobil tampak selesai off road, kami memasuki pelataran SD Negeri Muara 1 disambut beberapa bocah berteriak girang.

Setelah berbasa-basi dengan pengurus sekolah, kami menggiring 26 bocah siap mimpi ke dalam kelas untuk bersantap siang nasi Padang.

“Mana Kak Andy?”

“Mana Kak Pungky?”

Nama Andy dan Pungky dicari-cari, mungkin karena mereka berdua lah yang lebih banyak berinteraksi dengan siswa- siswi tersebut pada gelaran lokakarya pertama, jadi nama mereka berdua masih jelas diingat, karena mereka berdua adalah pemandu acara.

“Kak Adit kan?”

Ketika aku akan membasuh tangan sebelum makan, suara wanita cilik memanggil dari belakang. Kyaaaaaaa ! Hatiku girang, salah satu dari mereka masih ingat namaku. Leyla namanya, manis, mungil, dan berkerudung.

Selesai makan , Paman Syam menggiring siswa-siswi SD tersebut pindah ruang dan akan mengajak mereka mengembangkan imajinasi. Rombongan bocah tersebut kemudian pindah ke kelas seberang penuh semangat, termasuk Leyla, berlari kecil dia mengikuti teman-temannya.

Paman Syam membagikan alat peraga, berupa lembaran-lembaran koran bekas. Beliau lalu menginstruksikan kepada mereka untuk duduk dan lembaran koran yang sudah dibagikan tersebut dijadikan alas.

“Sekarang pejamkan mata kalian dan anggap lah apa yang kalian duduki itu adalah sebuah kendaraan, apa saja!”

Paman Syam memberi instruksi berikutnya lalu mulai menggiring mereka ke dunia khayal. Tak salah suka berimajinasi, karena bila hasil imajinasi itu kita tuliskan tentu akan menghasilkan sebuah cerita yang bagus, mungkin ini adalah inti dari permainan yang Paman Syam berikan tersebut.

Selesai mengajak anak-anak kecil tersebut berfantasi, Paman Syam menyerahkan mereka kepada kami SPASI sebagai mentor utama. Kami bertugas mengembalikan mereka ke dunia nyata dan mengajak menulis apa yang menjadi keseharian mereka. Dibagi menjadi lima kelompok yang masing-masing kelompok didampingi oleh dua orang mentor. Aku bersama Dee Dee menjadi mentor pada kelompok yang juga terdapat Leyla di dalamnya.

“Kamu tadi berkhayal naik apa, Leyla?”

“Naik kapal, Kak.”

“Pergi ke mana aja tadi?”

“Ya ke tempat-tempat yang udah disebutin sama si Om yang tadi.”

Ok sekarang Leyla mau nulis apa?”

“Mau nulis tentang sahabat, Kak. Tapi kakak jangan di sini, aku malu kalo diliatin.”

“Oh iya, nanti kalo mau tanya panggil kakak ya.”

Aku beranjak dari sebelah Leyla menuju luar kelas. Sambil menikmati sebatang rokok kuperhatikan Leyla lewat kaca jendela. Mimiknya terlihat serius sambil menulis dan kakinya bersilang di atas meja. Kali itu ajang bebas, tiap siswa boleh menulis dalam kondisi apapun tetapi harus didampingi.

Akhirnya tiba sudah waktu pengumpulan tulisan. Dan tiap-tiap kelompok wajib mewakilkan salah satu dari anggota untuk maju ke depan membacakan tulisan. Aku mantap menunjuk Leyla, malu-malu dia maju ke depan. Lalu diceritakannya si sahabatnya dengan detail. Alurnya runtut, di mulai dari saat pertama kali dia berkenalan dengan sahabatnya itu, keseharian mereka saat bermain, dan kondisi keluarga sahabatnya tersebut. Kami mengernyitkan dahi ketika mendengar Leyla menyebut orang tua dari sahabatnya itu telah meninggal dunia. Sangat jujur dan polos, sampai-sampai dia tidak peduli bagaimana ekspresi sahabatnya ketika membaca tulisannya itu.

Itu lah anak-anak, apa adanya dan hanya menulis apa saja yang mereka tahu. Setidaknya tersirat sebuah pesan dari tulisan Leyla tersebut. Dalam menulis, kejujuran adalah poin utama, apalagi yang ditulis adalah bukan hal-hal fiksi.

“Kak, kapan ke sini lagi?”

“Nanti pasti dikabarin ya, Leyla.”

“Minta nomer Handpone kakak ya, kakak-kakak yang lain juga. Terus minta foto-foto yang dulu sama yang hari ini juga. Nanti kalo kakak ke sini lagi, kita camping ke Cibubur yuk!”

Catatan:

Terimakasih kepada Gita, Mba ML, Mamang Syam, “Kalian the best deh!”. Terimakasih kepada, Andy, Fikri, Pungky, Gibic, dan teman-teman lain yang ngga bisa ikut, “Seenggaknya kalian udah bantu doa kan?”. Terimakasih kepada Dee Dee, Sarah, Mahatma Putra, Saby, Irwan, Tantri, Endro, Reka, “Kita udah buktikan kalo kita mampu jadi mentor, hahaha!” Dan yang terakhir, tak terhitung terimakasih kepada Yayasan Pelita Hati, dan segenap keluarga SD Negeri Muara 01, Teluk Naga. Sampai bertemu di acara-acara berikutnya.

(Untuk dokumentasi tunggu aja postingan dari spasi yang lain, hehehe)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: