
Ustadz Funky, Mahasiswa Pascasarjana UNJ Prodi Teknologi Pendidikan, Senang mengamati masalah sosial
Dibaca: 38
Komentar: 1
Nihil
Mengatur Negara dengan selera sendiri tanpa mengindahkan aturan yang ada dan kepentingan umum, maka akan dapat dipastikan semuanya akan kacau balau. Contoh arogan yang telah dilakukan oleh wakil ketua DPR.
Jika setingkat wakil ketua DPR saja sudah berani memerintah pesawat garuda untuk pulang lagi untuk menjemputnya kembali, dan jika benar itu terjadi, maka sudah dapat dipastikan Negara ini dalam masalah besar. Karena dengan logika sederhana dapat kita simpulkan, pertama, mereka meletakkan kepentingan pribadi atau kelompok diatas kepentingan umum, kedua, level wakil ketua DPR yang tidak mempunyai kewenangan langsung pada jajaran kepemerintahan “berani” memberikan intruksi, bagaimana dengan yang mempunyai kekuatan? Pasti akan menggunakannya, seperti setingkat Dirjen, menteri, Presiden, Para ketua lembaga tinggi Negara.
Ini contoh konkrit, kekuasaan dijadikan alat “penekan” untuk memenangkan kepentingan pribadi. Berbeda dengan unkapan di negeri Paman Sam : Pengabdianku kepada keluarga berakhir, ketika pengabdian kepada partaiku dimulai, pengabdianku kepada partai berakhir ketika pengabdian kepada Negara dimulai. Di Indonesia punya versi berbeda, Pengabdian kepada negaraku berakhir ketika pengabdian kepada partaiku dimulai, dan pengabdian kepada partaiku berakhir ketika pengabdian kepada keluargaku dimulai.
Sabarlah bangsaku, mereka akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat jika tidak dapat dituntut KPK.