Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dian Kelana

Ilmu tidak didapatkan disekolah, tapi pada kemauan belajar. dan Tuhan tidak akan mengubah nasib kamu, selengkapnya

Shalat Pertama….

OPINI | 28 September 2010 | 00:06 Dibaca: 366   Komentar: 14   2

Shalat - Google

Aku lagi bermain di halaman rumah keluarga ayahku di Guguak Rang Pisang. Sedang asyik bermain aku mendengar bunyi beduk yang di tabuh di Masjid Sofia, satu-satunya masjid yang ada di Jorong atau desa Guguak Rang Pisang itu.

Mendengar bunyi beduk itu, baru aku ingat bahwa hari itu adalah hari Jum’at. Aku tahu, bahwa tidak lama lagi akan kedengaran bunyi bedug kedua, yang kemudian diiringi oleh Azan dan khotbah jum’at dan selanjutnya shalat Jum’at.

Sudah menjadi tradisi di kampung keluarga ayahku, setiap hari Jum’at beduk itu di tabuh dua kali. Pertama satu jam sebelum masuk waktu zuhur, dengan maksud untuk memberi tahu para penduduk kampung laki-laki yang umumnya petani atau tukang perabot rumah tangga. Agar segera pulang dari sawah atau kebun mereka atau yang bekerja sebagai tukang, agar menghentikan kegiatan mereka dan mempersiapkan diri untuk pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at.

Kedua kali, beduk itu di tabuh saat waktu shalat zuhur telah masuk. Dimana, setelah beduk selesai di tabuh, maka pelaksanaan ritual shalat jum’at dilaksanakan. Khatib naik mimbar, mengucapkan salam kepada jama’ah, diteruskan dengan azannya mu’azin dan bila telah selesai azan, khatib menyampaikan khotbah jum’atnya yang kemudian di tutup dengan pelaksanaan shalat jum’at itu sendiri.

Begitu bedug pertama selesai di tabuh, mulailah kedengaran aktifitas di rumah orang-orang mempersiapkan diri, kakekku yang sehari-hari aku panggil inyiak aki, pak Uwo suami kakak ayahku yang berprofesi sebagai tukang perabot, terlihat mulai berbenah. Pergi mandi ke sumur dekat sawah yang berjarak sekitar limapuluh meter dati rumah.

Setelah rapi dengan pakaian bersih dan kain sarung melilit di pinggang serta peci hitam di kepala, walau tidak berbarengan, merekapun berangkat ke masjid yang jaraknya sekitar tiga ratus meter dari rumah.

Setelah inyiak aki dan pak uwo itu berangkat, terbersit pula suatu keinginan di hatiku untuk ikut pergi shalat Jum’at seperti mereka.

Aku lalu naik ke rumah dan menemui tuo istri pak uwoku. Aku mengatakan aku akan pergi shalat jum’at, lalu aku meminjam atau lebih tepatnya meminta kain sarung, yang sejak itu tak pernah lagi kukembalikan, sama beliau.

Aku lalu di beri kain sarung, yang walaupun bukan baru tapi bersih dan licin, karena habis disterika disimpan di lemari.

Dengan kain sarung yang kebesaran, aku yang waktu itu baru berusia 7 tahun dan belum bersekolah, pergi meninggalkan rumah menuju masjid.

Dalam perjalanan ke masjid, perasaanku membubung ke angkasa, ada rasa haru, bangga dan bahagia, membayangkan aku akan melaksanakan shalat dan itu adalah shalat pertamaku, dan akan menjadi seorang muslim yang taat, dan akan mendoakan kedua orang tuaku yang saat itu telah tiada.

Sampai di masjid, aku mengambil wudhu di kolam dekat tangga di belakang masjid. Setelah itu naik dan masuk kedalam masjid. Di dalam masjid aku tak menemukan satu orangpun anak-anak yang sebayaku. Semuanya orang dewasa atau mereka yang beberapa tahun diatasku, termasuk diantaranya tuan Man, yang menyelamatkan aku di waktu aku terjatuh ke sungai ketika kami bermain rakit batang pisang. Akulah satu-satunya anak kecil diantara jama’ah yang ada.

Kurasakan, ini adalah hidayah pertama yang kuterima dari Allah subhanahu wata’ala. Alhamdulillah sejak itu hingga kini aku selalu melaksanakan kewajiban dari rukun islam kedua itu. Walau tak ku mungkiri, aku juga pernah lalai melakukannya, semoga Allah mengampuni kelalainku itu.

.

Tulisan sebelumnya  http://nostalgia-bersama-penggembala-sapi-nyaris-tenggelam/

.

Postingan teman :

@ Della Anna:  http://perkataan-kasar-duta-besar-ri-dimuka-kunjungan-resmi-pressby-ke-belanda/

@ OmJay : http://postingan-ke-1000-catatan-penting-seorang-blogger/

@ Yusran Darmawan : http://ahmadinejad-membawa-injil-what/

@ Okti Li : http://the-real-indonesian-heroes-today-aretki/

@ Limantina Sihaloho :  http://robohnya-surau-kami-cerpen-favorit-saya/

@ Anazkia :  http://suatu-pagi-di-kbri/

@ Ragile  :  http://serbuan-akun-siluman-dari-situs-situs-lain/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 11 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 12 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Upaya Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan …

Harry Supandi | 8 jam lalu

Bunga Generasi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 8 jam lalu

Persebaya Gagal Di 8 Besar, Karma Kah ? …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: