Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ki Bonthot Kamulyan

saya adalah paranormal pewaris ilmu leluhur dengan gelar ki bonthot kamulyan alias pendekar pemegang petir

Jati Diri Pendekar Pemegang Petir & Prabu Siliwangi

OPINI | 23 September 2010 | 12:32 Dibaca: 7975   Komentar: 4   0

Saat berumur 10 tahun saya diajarkan ilmu kegoiban/membuka mata batin (indra keenam). Orang tua saya (ayah) sudah melanglang buana sampai akhirnya beliau bertemu dengan Prabu Siliwangi berbentuk macan sebesar kerbau. Singkat cerita Macan Siliwangi telah dikalahkan oleh ayah saya dan telah menjadi pendamping beliau, kemanapun beliau pergi selalu mengawalnya dan aku pun pernah melihatnya berbentuk macan yang bercahaya putih, kata ayah saya Macan Siliwangi akan selalu mendampingi saya jika berhasil mengalahkan dia.
kemudian saya dibimbing oleh ayah, saya diajarkan tentang kegoiban (membuka mata batin), tapi tidak semudah yang dibayangkan terutama untuk mengalahkan ilmu-ilmu tingkat tinggi, seperti Macan Siliwangi, Ratu Kidul, Ratu Lor, Raja Jin Muslim bahkan Putri Kamulyan pun menguji saya agar mengalahkannya, maka dari itu orang tua saya mengajarkan saya tentang dzikir, puasa dan sholat
  1. Dzikir membaca kalimat lailahaillallah sebanyak 70.000(tujuh puluh ribu) setiap hari
  2. salat sunah 300 rakaat setiap hari, minimal 100 rakaat dengan tetap melaksanakan salat wajib 5 waktu
  3. memperbanyak puasa

disamping itu harus menanamkan dalam hati sifat-sifat :

  1. kejujuran
  2. tidak menyakiti orang lain dan mahluk lain
  3. tidak membunuh hewan kecuali tidak disengaja

Disaat itu pula saya diberi gelar oleh ayah saya Pendekar Pemegang Petir atau lebih akrabnya dipanggil Ki Bonthot Kamulyan, karena saya dari keturunan Kerajaan Medang Kamulyan.

Kita kembali kepada sejarah Prabu Siliwangi.
Prabu Siliwangi adalah Raja Tanah Pasundan dan Raja-raja Jawa sangat menghormati Prabu Siliwangi karena orangnya sangat adil, bijaksana, dan wibawa. Beliau sangat suka menolong orang-orang yang sedang dalam kesusahan. singkat cerita Prabu Siliwangi telah meninggalkan alam dunia ini bersama jasadnyanya menghilang bagai ditelan bumi. karena beliau mempunyai ilmu yang sangat luar biasa, maka sepeninggalnya beliau selalu menampakkan diri dengan bentuk harimau atau disebut “Macan Siliwangi” karena beliau mempunyai ilmu kesaktian harimau, mungkin dari beberapa masyarakat Indonesia terkhusus di Jawa menganggap beliau jahat tapi ketahuilah bahwa “macan siliwangi” itu baik dan termasuk Ilmu Putih. Jadi yang mengatakan Macan Siliwangi Jahat berarti itu orang-orang yang tidak suka, sedangkan macan yang berlaku jahat itu bukan Macan Siliwangi tetapi hanya mengaku asisten atau anak buah yang membangkang dengan Macan Siliwangi. “yang saya katakan adalah benar adanya”. Saya memanggil Macan Siliwangi dengan sebutan “sahabat siliwangi”. untuk menjadi sahabat beliau harus mengalahkan beliau terlebih dahulu dan sekarang beliau selalu berada di dusun Kamulyan sehingga saya menyebutnya dengan sebutan “Macan Tanah Kamulyan”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 12 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 16 jam lalu

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 18 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 20 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 21 jam lalu


HIGHLIGHT

Rebranding Sepak Bola di India …

Handy Fernandy | 12 jam lalu

Kesetrum, Antara Reflek dan Tuhan …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Judika Bangga Membagikan Budaya di Rising …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

i-Road, “Bajaj” Masa Depan ! …

Angga Saputra | 13 jam lalu

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | 14 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: