Kompasiana
Selasa, 07 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Kwee Minglie

Pengurus di dua Perhimpunan Pendidikan Kristen sejak tahun 1984 hingga sekarang. Motto : Hiduplah bermanfaaat bagi orang banyak

Dimana Jiwa Besar Penguasa Bangsaku ?

OPINI | 29 July 2010 | 18:55 69 1 Nihil

“Salah satu hal yang paling sulit di dunia ini adalah mengakui kesalahan dan tak ada yang lebih membantu dalam memecahkan persoalan daripada pengakuan jujur.” Benjamin Disraeli (1804–1881), Novelis dan Mantan Perdana Menteri Inggris”

Setelah mambaca dan merenungkan kalimat diatas, barulah penulis mengerti mengapa bangsa kita sulit untuk berpikir maju, berbagai masalah yang terjadi dibumi kita, begitu hebatnya koruptor bercokol, dari paling atas hingga terbawah, kehiangan keadilan yang tidak lepas semua urusan ada kaitannya dengan uang dan koneksi, tanpa uang dan koneksi semua tidak berjalan, tanpa uang dan koneksi kebenaran dikalahkan dengan KKN – Mau berbuat baik untuk memperbaiki kinerja dan membuang kebiasaan buruk, dikatakan pahlawan kesiangan, bahkan niat baik menjadi boomerang, ancaman dipecat bahkan diperkarakan sebagai penfitnah ! à Begitu suitkah kita untuk mengakui kesalahan masa lalu ? ataukah semua perbuatan yang memalukan itu sudah membudaya, sehingga bukan lagi di tabukan , bahkan dibenarkan ? – Satu pertanyaan yang sulit terjawab dan dibuktikan, namun suara hati setiap anak bangsa tentu merasakan ketidak adilan yang terjadi dan kemungkinan pernah menjadi korban ketidak adilan, penulis sendiri juga pernah mengalami hal yang sama, namun namanya rakyat kecil yang tidak berdaya dengan kekuasaan maupun hukum yang bisa diatur dengan uang dan kekuasaan, siapa berani melawan ? selain menarik nafas dalam dan pasrah ada yang terjadi. – Pada zaman demokrasi digalakan, suara rakyat cukup keras mengecam ketidak adilan yang bisa diikuti dalam berbagai media tulis maupun elektronik, demonstrasi anti ketidak adilan, korupsi dan markus. Apa yang terjadi ? bukankah suatu sandiwara, dan lelucon yang tidak lucu, sangat menyakitkan hati anak bangsa yang mencari kebenaran – Semua yang dijanjikan oleh penguasa hanya tinggal janji yang tidak pernah terwujud, adapun hanya masalah kecil yang dilakukan rakyat kecil dan pegawai menengah yang menjadi tumbal, bagaimana dengan yang diatas ? Bukankah mereka masih duduk dengan tenang, seolah-olah rakyat tidak mengerti seperti anak kecil, mudah dibodohi – Suara hati rakyat semua mengerti siapakah pejabat itu yang jujur, siapakah yang hanya menjadi dalang dan memainkan wayang menurut kehendaknya, membuat skenario menuruti apa dan siapa yang mau dikorbankan, siapa yang mau diselamatkan – Fenomena yang terlihat betapa banyak pejabat yang baik, yang jujur dan vocal nasibnya selalu disingkirkan, ditaruh diposisi yang kering ( istilah umum, jika yang basah itu mudah dapat duit, pandai mencapai penghasilan untuk setor keatasan ).

“ Mengakui “ adalah satu-satu jalan yang bisa memperbaiki keadaan, hanya melalui pengakuan, pertobatan dan melakukan perombakan barulah akan terjadi perubahan. Bagaimana dengan pejabat kita, adakah jiwa sebesar itu untuk mengakui ? Beranikah ia membayar mahal untuk mengakui ? Apakah ada nyali untuk mengakui ? – Penulis sangat pesimis akan hal ini, sulit bisa terwujud dalam kondisi bangsa saat ini. Adakah pahlawan yang berani mengakui dan membayar mahal atas pengakuannya ? – Perlindungan bagi pelapor dan perlindungan saksi yang ada, masih belum menjamin keamanan bagi seseorang yang mau melakukan. Bukti mata sudah terlihat bukan ? Bahkan mereka dimusuhi, dicari salahnya untuk dijebloskan, yang diungkap malah lenggang – lenggang kangkung ! Ada wadah perlindungan, fungsi nya juga dikalahkan dengan alasan hukum, apa arti hukum itu sendiri, dibuat untuk siapakah hukum itu ? apakah penapsiran hukum hanya berlaku bagi sipemegang hukum sesuai keinginan nya untuk menapsirkan ? Belum lagi datangnya intimidasi, ancaman-ancaman dan lain sebagainya. Jika demikian kenyataannya, yakinkah bangsa kita bisa bangkit ? Rakyat bisa merasa aman ? Bangsa kita akan menjadi bangsa yang disegani dunia ? Atau semua ini hanya mimpi siang bolong yang kosong ?—Salahkah jika saya mengatakan bahwa ini sudah menjadi budaya bangsa, yang sudah membenarkan semua perilaku yang terjadi, jika tidak benar mengapa kita sulit untuk mengakui kesalahan masa lalu, dan mengadakan perubahan yang sungguh-sungguh ? Jika itu harus dibayar mahal, mengapa tidak ? dari pada kehancuran moral bangsa sepanjang masa ! – Penulis hanya mengharapkan belas kasihan Tuhan, ada satu hari ada juru selamat bangsa diantara bangsa ini, yang berani dan mengambil resiko besar untuk memerangi kebejatan dan budaya yang sudah mengakar kuat dalam mentalitas pejabat bangsa. Berani mengakui kesalahan masa lalu, mengadakan perubahan besar untuk membawa bangsa ini keluar dari kemelut yang berkepanjangan, meskipun itu membutuhkan waktu panjang, mungkin satu generasi kedepan, namun upaya itu sangat terpuji. Penulis juga yakin, tentu rakyat akan mendukung sepenuhnya pemimpin yang demikian, hanya apakah itu hanya sebatas mimpi ? Semua ada waktunya, marilah kita berdoa untuk bangsa dan Negara kita, Jika Negara India ada Gandhi, Amerika ada Martin Luther King, Afrika ada Nelson Mandela, China ada Teng Xiau Ping dan ada banyak tokoh-tokoh dunia yang sudah bangkit karena lahirnya juru selamat bangsa, tentu tidak lepas kemungkinan juga ada di Indonesia, hanya butuh kesadaran dan waktu akan menentukan itu semuanya.

Penulis , seorang pemerhati bagi orang / keluarga / masyarakat / komunitas dan bangsa yang dalam kesulitan. Keinginan untuk membantu mencari solusi cukup kuat, namun apa daya seorang kecil yang tidak berdaya ! semoga melalui tulisan ini akan menggugah mereka yang memiliki daya dan kemampuan untuk mau memikirkan nasib orang banyak !  Penulis mengenal banyak pemerhati yang sama, mereka berbuat dengan berbagai cara, tanpa dukungan kuat. Kemungkinan waktu belum tiba, namun satu hari juru selamat bangsa ini akan timbul — Siapa sangka komunis di China masa lalu dibawah Mao Zte Tong, rakyat hidup begitu melarat, hanya dengan satu kalimat perubahan dengan membuka pintu selebar-lebarnya oleh Teng Xiao Ping, dalam waktu relative pendek ( Kira2 30 tahun ), China menjadi Negara Besar yang memiliki cadangan devisa terbesar dunia – Mahalkah yang dibayar ? sangat mahal, mereka harus menjalankan hukuman mati bagi koruptor, penjahat dan yang menghambat perubahan untuk menjadi lebih baik, pejabat harus memberi contoh yang baik, APAKAH ITU SUDAH SELESAI ? TENTU BELUM, PROSES TERUS BERJALAN –  Disitulah momentum dipakai sebaik-baiknya. Berapa banyak momentum berada ditangan bangsa kita ? Mengapa masih belum digunakan dengan baik ? Apakah juru selamat bangsa belum ada ? Yang pasti ada ! Kembali lagi Mental menjadi penyebab utama, Beranikah mengakui dan mengadakan perubahan total ? Hanya itu jawabannya !


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012