Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agnes Hening Ratri

Perempuan Itu Aku... Meresapi angin menuliskan kata-kata, diantara debu dan waktu

Tiwah Upacara Penghormatan Terakhir Dayak Ngaju

REP | 27 July 2010 | 10:20 Dibaca: 1055   Komentar: 5   1

Debu putih pekat menutupi sepanjang jalan yang bergelombang, pasir putih bak bibir pantai terhampar dikanan-kiri jalan. Bahkan bukit-bukit pasir membingkai jalan terjal yang harus kami tempuh selama kurang lebih tiga jam siang ini. Perjalanan menuju daerah Pangi, Kabupaten Pulang Pisau, di propinsi Kalimantan Tengah merupakan perjalanan yang lumayan sulit ditempuh, terkadang rombongan mobilyang saya tumpangi harus menyingkir ke kubangan air ketika berpapasan dengan pengendara mobil lain, atau meliuk ke kanan dan kiri untuk menghindari lubang yang mengangga.

Tempat penyelenggaraan Upacara Tiwah, tak jauh dari jalan raya desa, sejak masuk perkampungan Pangi, terlihat tenda-tenda berjajar disepanjang jalan. Rupanya Upacara Tiwah ini juga dimanfaatkan oleh para pedagang untuk berjualan. Mulai dari makanan, kerajinan, pakaian, hingga tempat karaoke menyemarakkan lingkungan tempat upacara. Menurut Bapak Prada, dalam upacara ini seluruh kerabat berkumpul baik dari dalam desa ataupun dari luar desa. Sehingga kemeriahan suasana menjadi salah satu daya tarik dan hiburan untuk masyarakat. Saya menyaksikan tiap rumah dipenuhi oleh anggota keluarga yang datang untuk mengikuti rangkaian upacara Tiwah.

Kedatangan saya bersama beberapa penganut Hindu Kaharingan kali ini  untuk melihat langsung serta mendokementasikan penyelenggaraan upacara Tiwah. Menurut kepercayaan masyarakat Hindu Kaharingan, Tiwah merupakan rukun kematian yang tertinggi. Upacara Tiwah dilaksanakan akibat adanya kematian yang menimbulkan sial atau pali (pantangan) sehingga tiap keluarga yang memiliki anggota keluarga yang meninggal diwajibkan untuk melaksanakan upacara Tiwah. Jumlah arwah yang ditiwahkan adalah terdiri 14 orang dewasa dan 3 orang anak-anak.

Upacara Tiwah merupakan salah satu upacara ritual keagamaan yang menjadi kekayaan budaya masyarakat Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah. Bagi masyarakat Dayak Ngaju, penganut Hindu Kaharingan upacara kematian merupakan upacara yang sudah menjadi tradisi sehingga menjadi kebiasaan yang membudaya dan melekat sehingga wajib untuk dilaksanakan. Ajaran Ranying Hattala Langit (Tuhan) menjadi dasar pelaksanaan upacara ini. Menurut kepercayaan mereka, jalan untuk mencapai Lewi Tata atau Rumpang Tulang Rundung Raja Isen Kamalesu Uhat (sorga).

Waktu pelaksanaan upacara Tiwah berlangsung selama sebulan sejak akhir Juni hingga tanggal 11 Juli 2010,  memerlukan persiapan matang serta biaya yang cukup besar. Beberapa persiapan dalam upacara Tiwah adalah; persiapan awal, persiapan upacara Tiwah, Pelaksanaan upacara tiwah, akhir upacara Tiwah, akhir upacara Tiwah dan Balian Baluku Untung.

Upacara Tiwah dapat dilaksanakan secara bersama-sama secara gotong royong dan melibatkan banyak orang tanpa membedakan status sosial. Dalam hal ini semakin banyak keluarga yang melaksanakan tiwah maka akan meringankan biaya yang harus ditanggung.

Dalam upacara Tiwah, pemimpin rohani yang disebut Basir dan Duhung Handepang Telun. Sesajian atau sarana yang dibutuhkan dalam upacara Tiwah banyak menggunakan simbol-simbol serta tarian sakral yang disebut manganjan. Persembahan suci khas masyarakat dayak, diikat pada sebuah patung (sapundu) yang nantinya akan ditombak oleh ahli waris pihak kelurga yang melaksanakan Tiwah.

Ritual upacara tiwah diyakini sebagai pemujaan terhadap Tuhan, dengan kayanya simbol-simbol sarana upacara, simbol rasa bhakti untuk memuja Tuhan. Upacara tiwah diyakini sebagai sarana untuk berhubungan dengan kekuatan dan kekuasaan Tuhan melalui simbol sarana upacara seperti Balai Nyahu, sangkairaya, Tihang Bendera, Sahur, Tihang bendera liau, Manganjan, Malahap, Balian, Hanteran, Balai anju-anjung, pasah kanihi, sapundu, palangka, sandung dan lain-lain.

Upacara tiwah ini berfungsi menghantarkan Telu Liau (tri liau) Kelewu Tatau sesuai dengan pesan suci Tuhan kepada utus (keturunan) Maha Taja Banu dan berfungsi sebagai pensucian bagi mereka yang ditinggalkan (tarantang nule) dalam menghantarkan Lewu kelewu tatau dengan simbol upacara Hanteran Basir Munduk dan Ngarahang Tulang. Hantaran dilaksanakan oleh Dukung Handepang Telun manamunan (mencontoh) Raja Pampulau hawun melaksanakan Tiwah Suntu di Lewu bukit Nandan Tarang. Tugas Handepang Telun adalah menghantarkan Liau Haring Kaharinangan yang berasal dari Tuhan saat tabuh pertama mariaran Lanting Sambeng Nampalang Penyang.

Dalam upacara tiwah ini, anggota keluarga diajak untuk mewujudkan bakti kepada keluarga, leluhur dan badan kita yang telah memabntu kita selama hidup. Sebagai anggota keluarga dalam tiwah ini diharapkan keluarga menghormati, menghargai, mencintai dan memuja sejak masih hidup hingga mati dan menyucikan atma dan badannya. termasuk kegiatan mengangkat, menyucikan tulang-tulang dari kuburan dan diangkat ke dalam Sandung.

Pada pelaksaan Tiwah terdapat pali atau pantangan yang harus diikuti oleh peserta tiwah dan pengunjung. Pali atau pantang tersebut merupakan wujud kesadaran akan kesemimbangan hidup didunia dan akhirat. Dalam pali atau pantang inilah yang melahirkan kesadaran untuk memenuhi kewajiban yang menjadi tanggung jawab moral kepada leluhur, keluarga, dan orang tua yang ditiwahkan.  Pali atau pantangan tersebut ditempel di Balai Nyahu, sehingga siapapun yang datang dapat membacanya.

Sejak malam Balai Nyahu telah ramai dikunjungi oleh anggota keluarga yang akan melaksanakan Tiwah, Balian yang berjumlah tujuh orang telah bersiap untuk melakukan pekerjaan Shang Hiang yang diturunkan memindahkan arwah yang sudah meninggal kembali ke alam rahim ibu.

Pada malam hari acara puncak dalam upacara Basir/ulama telah bersiap duduk berjajar disebuah tempat yang telah disiapkan. Sebelum upacara dimulai Basir di beri ikatan tangan sebagai ketahanan tangan agar mereka memiliki kekuatan meskipun dirasuki Sang Hiang Langit dan diletakkan gong di alas kakinya. Hal ini bermakna untuk menghormati Sang Hiang yang agung, mereka melaksanakan upacara hingga pagi hari dengan menggunakan bahasa Sang Hiang.

Peran Basir Munduk (balian) tugasnya menghantarkan Liau Balwang Panjang, yang berasal dari zat bapak pada saat tabuh kedua, dengan Marian Banama Nyahu, dan Liau Karahang Tulang dari zat ibu menghantarkan pada saat Balian Ngarahang Tulang tabuh ketiga menggunakan Talawang Teras jambu Bahandang, dengan proses menuju Lewu Tatau harus nyambung dengan Lamban Bulau Naliung Liu, Makang Garing tukang Tuyung (tali pusat) sesuai dalam kitab suci Panaturan manyarurui jalan ewan tesek dumah bara AKU (membawa mereka melalui jalannya untuk datang padaku).

Tiwah disebut Tabuh, sejak pagi masyarakat sudah berkumpul. Tarnatang nule sudah mempersiapkan sarana prasarana yang dibutuhkan untuk beberapa kegiatan, termasuk petugas yang menombak korban. Pada upacara ini dimulai dengan rangkain manganjan dan mempatei metu (hewan korban) yang diikat pada sapundu. Hal ini terus dilakukan hingga tabuh ketiga. Jumlah hewan korban sebaiknya makin banyak untuk meningkatkan kesejahteraan. Makna penombakan hewan tersebut yang dilakukan oleh keluarga, maka keluarga mentas yang disaksikan oleh semua keluarga. Sebagai contoh ketika pasangan kita meninggal dan belum melaksanakan upacara tiwah maka tidak diijinkan untuk menikah. Tiwah disaksikan oleh  seluruh ahli waris berfungsi sebagai penyaksian bahwa kita telah melakukan upacara tiwah.

Panas makin menyengat tepat pukul 14.00, Duhung Handepang Telun sudah bersiap dengan pakaian khusus untuk memimpin upacara yang disebut Hantaran. Tugasnya menghantarkan jalan kuasa Tuhan kepada yang kuasa. Sementara Basir Mundu berjalan mengelilingi hewan yang akan dikorbankan, tugas mereka adalah meluruskan roh tulang dan roh daging kepada Tuhan.

Umat Hindu Kaharingan percaya bahwa ajaran agama akan memberikan jalan untuk keselamatan manusia karena cinta kasih Ranying Hattala Langit (Tuhan) kepada umatnya. Ranying Hattala Langit (Tuhan) disebut Maha bijaksana, Maha pengasih, Maha Segalanya, karena Tuhanlah yang memberi nafas kehidupan kepada kita dan karena cinta kasihNya kita kembali padaNya, melalui upacara Tiwah.

Bertemu dengan masyarakat Hindu Kahariang dan berbincang tentang harapan mereka terhadap pelaksanaan uapacara Tiwah, makin membangkitkan sebuah harapan bahwa Kaharingan adalah agama yang berasal dari kehidupan dan selalu memberikan kehidupan. Karena ia tinggal dan ada disekitar kita, ia bersatu dengan alam dengan kehidupan ini. Seiring dengan perkembangan agama-agama lain, upacara Tiwah dapat menerima perbedaan yang ada. Hal ini tergambar dari proses pemotongan hewan yang di tombak dalam upacara Tiwah.

Untuk menghormati keluarga Muslim, hewan yang di korbankan disembelih atau dipotong oleh perwakilan dari muslim. Selanjutnya dalam penyajiannya mereka juga selalu mengatakan bahwa ini daging sapi atau babi kepada siapa saja yang menyantap hidangan yang disajikan. Hal ini sebagai bukti bahwa masyarakat Hindu Kaharingan sangat menghargai perbedaan kepercayaan diantara mereka.

Satu hal yang unik di Dayak Ngaju, Tiwah dapat dilaksanakan oleh umat dari agama apapun tetapi dengan tata cara asli masyarakat Hindu Kaharingan. Menurut Bapak Prada, keluarga muslim atau Kristen dapat ikut melakukan Tiwah atau meniwahkan keluarganya yang lain yang pemeluk agama Kaharingan. Bahkan ada juga beberapa penganut selain Hindu Kaharingan yang ikut melaksanakan Tiwah.

Bercengkerama dengan keberagaman memang selalu memberikan ruang sejuk bagi kehidupan beragama di Indonesia. Masyarakat Hindu Kaharingan memberikan bukti, bahwa perbedaan itu dapat disatukan dengan budaya saling menghormati, menghargai leluhur dan meninggikan penghargaan terhadap orang tua, tetua dan keluarga. Kaharingan adalah kehidupan, kehidupan itu berada dekat dengan tiap individu. Dalam upacara tiwah ini tiap manusia memiliki kewajiban untuk melakukan bhakti kepada Tuhan dan keluarga, dengan menciptakan keselarasan, keseimbangan antara manusia dengan Tuhan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungannya.

Senja mulai merah ketika saya bersama rombongan meninggalkan Pangi, Pulang Pisau. Perjalanan pulang menuju Palangkaraya segera dimulai.  Debu masih terus menutupi sepanjang perjalanan pulang, pasir putih meremang di sepanjang sisi jalan sementara aroma kehidupan tetap singgah dihati untuk makin menghargainya sebagai anugerah yang mestinya disyukuri. Masih terngiang ditelinga satu harapan yang tetap terbawa “Kaharingan ingin tetap diakui sebagai agama asli masyarakat Dayak Ngaju”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 5 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 5 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Jokowi Marahin Wartawan …

Ifani | 9 jam lalu

Pelacur Berisi, Berintuisi di Dalam Selimut …

Seneng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawanlah Jemu, Mulailah Membaca! …

Junius Fernando | 7 jam lalu

Di Balik Sukses Qatar Juarai AFC U-19 …

Handy Fernandy | 7 jam lalu

Manajemen Negara Itu Beda dari Manajemen …

Mahi Baswati | 7 jam lalu

Pers Realese, Senam Sehat Ceria ‘Aisyiyah …

Sapardiyono | 8 jam lalu

[Cerpen] Perempuan Alpha #2 …

Lizz | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: