Artikel

Sosbud

Hafiz Al Asad

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

ciri-ciri : smart talented dan charming Motto : Care Calm n Comfortable hobby : menulis (seneng banget sama hobby yang satu ini) Info lain: mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Hati-hati dengan Angkot di Jakarta


HL | 27 July 2010 | 00:57 Dibaca: 565   Komentar: 24   1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat

hati-hati dengan angkot Jakarta, khususnya bagi orang-orang yang masih belum kenal betul tentang seluk beluk ibu kota semrawut ini.

tadi pagi, saya dari Ciputat hendak bepergian ke daerah Tangerang, tepatnya desa Perigi Baru kecamatan Pondok Aren. berangkat dari Ciputat saya naik angkot S10 ke daerah Bintaro dengan ongkos Rp. 3000, dari Bintaro saya naik angkot lagi dengan kode mobil D09 dengan bertanya terlebih dahulu apakah angkot tersebut tujuannya ke Pondok Aren (sebab meski sudah 3 kali pulang pergi ke desa Parigi karena kegiatan Kuliah Kerja Nyata, saya tidak perna sekalipun menggunakan angkot), “Iya”, jawab sopirnya singkat. segeralah saya masuk.

dalam perjalanan, tidak banyak yang saya lakukan, hanya duduk sembari menikmati tatanan bangunan serba moderen minimalis yang memenuhi setiap kompleks dengan beberapa taman dan kanal cantik yang dialiri air. perjalanan berjalan cukup nyaman sebelum akhirnya angkot tersebut melewati kawasan Bintaro 9 Walk dan memilih belok kanan melewati jalanan yang tidak pernah saya lweati sebelumnya.

agak terkejut memang, namun saya mencoba untuk diam dengan beranggapan bahwa jalan tersebut memang biasa dilalui oleh angkot D09 sebagai jalan pintas. lama kelamaan saya mulai khawatir, baik terhadap diri saya sendiri pun juga dengan barang bawaan saya berupa smartphone, handphone dan juga laptop. kekhawatiran semakin menjadi-jadi ketika mobil secara mendadak turun di tempat antah berantah yang tidak pernah saya lewati sebelumnya dan serta-merta sopirnya bilang “pemberhentian terakhir”… Rp. 3000 lagi.

jujur saya rada shock, karena saya belum sampai di desa perigi tau-tau sudah disiruh turun. dengan mencoba tetap berikap relaks, saya akhirnya turun dan duduk dibawah pohon palm sembari menghubungi teman saya yang asli Tangerang, mungkin bisa membantu! pikir saya saat itu.

mungkin memang hari sial saya, tidak seorangpun teman saya yang saya hubungi menjawab panggilan saya, bahkan salah tiga di antara nomor HP yang saya hubungi, mati sama sekali. akhirnya saya mencoba bertanya ke sopir angkot lainnya yang kebetulan lewat, sejurus kemudian, salah seorang sopir mengatakan bahwa saya sudah ditipu, dan menyuruh saya ikut angkot lagi jurusan Jombang-Ciledug sebelum akhirnya naik angkot lagi.

akhirnya saya mendapatkan angkot jurusan Jombang-ciledug, “Bang, turun di desa Perigi tidak?”, saya memastikan, sopirnya mengangguk sembari tertawa dengan teman yang duduk di sebelahnya, sejenak saya merasa tenang karena dengan ini saya akan segera sampai di tempat KKN dan segera menunaikan sholat Dhuhur, tapi sejurus kemudian sopir angkot yang saya tanyai sebelumnya manggil-manggil saya bahwa angot tersebut bukan ke jombang, tapi arah sebaliknya yakni ke Ciledug. sesegera mungkin saya turun sembaru ngedumel enggak jelas terhadap sopir tersebut. “dasar tukang angkot!” geutu saya.

kemudian saya benar-benar mendapatkan angkot yang saya cari. alhamdulillah saya bertemu dengan seorang Ibu berumur sekitar 36 tahun yang mengatakan bahwa tujuan kami searah. “memang ada berapa angkot bernomor D09, Ibu?”, tanya saya di dalam angkot.

“D09 itu memang ada dua, yang dari gintung ke jagung, dan yang satunya lagi yang adhe tumpangi tadi itu”… akhirnya saya sadar, bahwa jangan terlalu percaya pada angkot di Jakarta, banyak yang usil, tapi alhamdulillah, masih saja ada orang yang baik, yang mau menolong hingga saya sempai di tempat KKn dengan selamat sehan wal afiat.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: