Ada hitam ada putih. Ada banyak ada sedikit. Semua memang diciptakan memiliki pasangan. Bahkan sandal pun memiliki pasangan. Bagaimana jika ‘Ada uang ada barang?’. Saya pergi ke pasar membeli satu kilogram cumi-cumi. Boleh saja kan? Saya ada uang. Penjual ada barang. Saya butuh cumi, penjual mau jual.
Nah, bagaimana jika yang dibeli adalah sesuatu yang ‘lain’? Kursi. Bukan kursi putar atau kursi goyang. Masalah jual beli kursi sudah menjadi pembicaraan. Bukan hanya gaungnya terdengar di kancah politik, bahkan dunia pendidikan. Dunia pendidikan. Lingkup dimana seharusnya manusia diajarkan, dibimbing, dan dididik menjadi manusia yang baik. Sehat jiwa raga, jasmani rohani.
Ada ‘lika-liku’ dalam penerimaan mahasiswa baru di universitas, membuat ‘kelinci masuk ke lubang tikus tanah’. Tidak efisien. Mungkin pihak universitas (yang memperjualbelikan kursinya) akan berdalih untuk meningkatkan mutu institusinya, ia berhak memungut dana dari pendaftar maupun dari mahasiswanya. Subsidi silang? Tentu, biaya dibutuhkan untuk membangun prasarana dan menyediakan sarana yang memadai. Namun bagaimana dengan individu yang ada di dalam sana?
Baik. Itu bukan tanggungan institusi Anda. Itu semua bergantung pada masing-masing individu. Tapi sesungguhnya bila memang benar ada jual beli kursi, ini akan berpengaruh pada citra institusi. Semua tahu, berapa biaya yang dibutuhkan ketika seseorang hendak masuk ke perguruan tinggi lewat jalur ujian masuk. Banyak orangtua yang bahkan berhutang sana-sini, untuk memenuhi biaya masuk.
Beasiswa? Ada beasiswa. Namun begitu kata ini diucapkan, “Bagaimanapun zaman sekarang, kalau tidak sangat pandai, atau sangat kaya, sulit masuk perguruan tinggi,” . Mari kita berandai-andai ( yang realistis ). Kalau saja dalam skala nasional anak-anak yang masuk kategori sangat pintar ( tidak perlu beli pun sudah diterima di sana-sini )ada sepuluh persen. Dan yang sangat kaya juga sepuluh persen. Lalu kemana yang lainnya? Adik-adik, Bapak-Ibu, saya hanya berdoa semuanya mendapatkan yang terbaik.
Jual beli kursi, bagaimanapun termasuk ‘jalan belakang’ yang hanya akan merugikan institusi perguruan tinggi dan ‘pembeli’. Sekarang Anda (orangtua) yang membelikan putra-putri tercintanya tempat di perguruan tinggi yang Anda inginkan. Anda tahu dunia berjalan dan tidak bisa dikendalikan. Karena itu Anda berusaha membuat jalan untuk buah hati Anda agar nantinya tak hanya bisa mengunyah sesuap nasi. Bagus. Namun ingat peluh keringat yang Anda curahkan itu…nantinya tak akan ada yang tahu akan berbuah apa. Mari menjadi manusia yang lebih baik.