Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muthofarhadi

"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus puluhan bahkan ratusan selengkapnya

Teori Psikologi Adler

OPINI | 13 July 2010 | 05:38 Dibaca: 2096   Komentar: 2   0

Tema-tama pokok dari teori psikologi Adler antaralain:

(1) Mengenai perasaan Inferioritas, Adler mengemukakan dua sumber inferioritas yaitu inferioritas fisik dan inferioritas psikologis

(a) Inferioritas fisik adalah rasa tidak lengkap oleh adanya kekurangan dalam tubuh. Dalam praktek kedokteran, Adler tertarik untuk menemukan jawaban mengapa orang yang terserang penyakit tertentu akan berusaha untuk mengatasinya. Ia menemukan bahwagangguan pada tubuh sebenarnya merupakan inferioritas dasar yang timbul karena hereditas atau kelainan dalam perkembangan.
Contoh terkenal adalah Demosthenes, seorang yang gagap ketika kanak-kanak, namun berkat latihan yang keras kemudian menjadi seorang orator ulung yang terkenal; Theodore Roosevelt, yang lemah fisik pada masa mudanya, berkat latihan yang sistematik menjadi orang yang berfisik tegak.

(b) Inferioritas Psikologi, yaitu perasaan-perasaan inferioritas yang bersumber pada rasa tidak lengkap atau tidak sempurna dalam setiap bidang kehidupan. Contoh: anak yang dimotivasikan oleh perasaan inferior akan berjuang untuk mencapai taraf perkembangan yang lebih tinggi. Setelah mencapai perkembangan yang diinginkan, muncul lagi perasaan inferioritas lalu ada perjuangan lagi, demikian akan terjadi seterusnya.

Perasaan inferioritas bukan suatu pertanda abnormalitas, melainkan justru penyebab segala bentuk penyempurnaan dalam kehidupan manusia.

Dari sudut pandang kesehatan mental ada perasaan inferioritas normal seperti rasa tidak lengkap yang merupakan daya pendorong kuat bagi perkembangan manusia.

Manusia didorong oleh kebutuhan untuk mengatasi rasa inferioritasnya dan ditarik oleh hasrat untuk menjadi rasa superior.

Dan ada inferioritas abnormal yang adalah perasaan inferioritas yang dilebih-lebihkan oleh kondisi kondisi tertentu dalam keluarga dan masyarakat. Misalnya karena pemanjaan, penolakan anak, kritik berlebihan, yang akan menghasilkan manifestasi perilaku yang abnormal pula.

Perasaan inferior akan ditonjolkan secara kuat sekali apabila anak yang bersangkutan benar-benar memiliki inferioritas baik organik maupun inferioritas bayangan (semu), bila ia termasuk dalam jenis kelamin perempuan, atau menjadi anggota suatu kelompok minoritas.

(2) Kompensasi lebih muncul akibat perasaan inferior yang diberi penegakan berlebihan sehingga selanjutnya akan menuntun anak menuju suatu kegiatan kompensatoris dan suatu gaya hidup dengan ciri usaha-usaha aktif untuk mengatasi situasi minus dari inferioritasnya, dengan cara mencapai suatu situasi plus dari superioritas.

Tingkah laku kompensatoris itu condong menuntun orang kepada “kompensasi-lebih” lewat usaha-usaha untuk mendominasi orang lain, membangkitkan rasa permusuhan terhadap saingan-saingannya, dan mengembangkan sikap-sikap asosial, seperti ciri-ciri yang dimiliki oleh orang-orang jahat, teror bom/teroris, kriminal atau individu yang suka mengasingkan diri.

Individu yang menderita sebagai akibat perasaan inferior yang berlebihan, juga akan didorong oleh satu pikiran mengenai nilai diri yang dibesar-besarkan, arahan khayalan yang tidak masuk akal terhadap apa yang sedang diperjuangkan.

Pikiran ini mendominasi seluruh gaya hidupnya. Kesenjangan besar diantara realitas kehidupan individu dan khayalan yang diidealkan, justru menimbulkan banyak kecemasan, usaha-usaha lebih keras lagi, dan “kompensasi lebih” yang semakin parah.

Dan hal ini akan menimbulkan suatu lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkalnya. Dalam perjuangan kearah superioritas, agresi dianggap lebih penting untuk diperhatikan dari pada seksualitas, lalu impuls agresi diganti dengan hasrat akan kekuasaan. Kekuasaan disamakan dengan sifat maskulin dan kelemahan selalu disamakan dengan sifat feminis. to be continue …

Catatan Sebelumnya: Alfred Alder (http://www.facebook.com/note.php?note_id=133785419977780)

Saya senang ilmu psikologi, semoga ini waktu yang tepat untuk belajar psikologi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 3 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 8 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 13 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 13 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Mati Karena Oplosan dan Bola …

Didi Eko Ristanto | 7 jam lalu

Ketika Lonceng Kematian Ponsel Nokia …

Irawan | 7 jam lalu

Catatan Terbuka Buat Mendiknas Baru …

Irwan Thahir Mangga... | 7 jam lalu

Diary vs Dinding Maya - Serupa tapi Tak Sama …

Dita Widodo | 7 jam lalu

Nama Kementerian Kabinet Jokowi yang Rancu …

Francius Matu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: