Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Krishna Prawirawinata

Bergelut dengan bidang pendidikan sudah menjadi cita-cita semenjak kecil. Kebahagiaan dan kebanggaan menjadi guru tidak selengkapnya

Hari Pertama Sekolah

REP | 12 July 2010 | 06:54 Dibaca: 114   Komentar: 2   0

Anak bungsuku semangat sekali mau sekolah pagi tadi. Dia akan mulai hari pertama sekolahnya di tingkat SMP. Gedung sekolah yang baru, seragam baru (putih-biru sesuai warna kesayangannya, yang jelas berbeda dengan warna seragam SD), dan teman-teman baru pula. Walau warna cat sekolahnya bukan biru seperti yang dia harapkan, dia senang karena gedung sekolah dan halamannya kelihatan bersih dan asri. Beberapa siswa baru terlihat datang sendiri ke sekolah, ada juga yang diantar orangtua atau kakaknya sampai ke depan pagar sekolah, tapi cukup banyak juga yang diantar orangtuanya sampai ke dalam halaman sekolah.

Jadi teringat pengalaman beberapa hari lalu. Karena hari kerja dan sedang ada acara cukup penting saya tak bisa antar anak mengembalikan formulir pendaftaran. Alhamdulillah, dia memahami dan berani berangkat sendiri untuk mengembalikan kelengkapan pendaftaran siswa baru.Tapi agak kaget juga ketika anak saya menelpon dan menceritakan komentar guru di sekolahnya, “udah tahu lagi repot begini datang sendirian, mana orang tua kamu?”. Hah? Gak salah? Alih-alih memuji siswa baru yang berani mengurus dirinya sendiri, sang guru malah menyalahkan orang tua siswa, tanpa mencari tahu mengapa mereka tidak bisa mengantar anaknya.

Ketika saya ceritakan kejadian tersebut kepada teman-teman di Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota mereka langsung bisa menebak siapa kira-kira guru yang dimaksud (walaupun saya tak pernah menyebut nama guru tersebut). Menurut mereka, di setiap sekolah hampir dapat dipastikan ada guru dengan profil seperti itu. Profil guru yang cerewet, kerap marah (padahal gak perlu marah), dll. Waah, bahaya kalau benar di hampir setiap sekolah ada guru yang seperti itu.Jangan sampai anak-anak kita kena dampakny.

Satu dua hari pertama siswa baru akan mendapatkan MOS, Masa Orientasi Studi. Mudah-mudahan MOS benar-benar bisa memberikan pandangan baru yang memotivasi mereka untuk menjadi yang terbaik. Membekali mereka dengan kesiapan untuk belajar dan bersaing secara sehat.

Seperti apa sebenarnya MOS untuk siswa baru di tingkat SMP saat ini? Semoga bukan semacam perpeloncoan yang dilakukan kakak kelas, tapi bukan juga hanya sekedar rangkaian pidato dan indoktrinasi tentang ketahanan nasional, Pancasila, dll.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 8 jam lalu

Saatnya Import Substitution Strategy untuk …

Ahmad Mikail | 8 jam lalu

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 8 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 8 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: