Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Purnawan Kristanto

Purnawan adalah seorang praktisi komunikasi, penulis buku, penggemar fotografi, berkecimpung di kegiatan sosial, kemanusiaan dan keagamaan. Menulis di blog pribadi http://purnawan.web.id/ menjadi kontributor video klip untuk video streaming http://www.beoscope.com/

Solo Batik Carnival Kehilangan Gereget

REP | 25 June 2010 | 02:46 282 8 1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual

Memasuki tahun ketiga, penyelenggaraan Solo Batik Carnival mulai kehilangan greget. Parade sepanjang jalan Slamet Riyadi ini terasa hambar dan mulai masuk dalam perangkap rutinitas. Apa yang terjadi dengan Karnaval yang sempat diboyong ke Singapura ini?

Pada mulanya, karnaval ini terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval (JFC), sebuah parade peragaan busana di jalanan. Untuk itu, maka walikota Solo Joko Widodo secara khusus mengundah presiden JFC untuk membidani acara serupa di kota Solo, namun dengan tema batik sebagai pembedanya. Melalui serangkaian woorkshop dan perisapan selama berbulan-bulan, maka karnaval tersebut berlangsung dengan gemilang.

Tahun ini adalah penyelenggaraan yang ketiga. Dan penyelenggara harus mencari sesuatu yang baru supaya tidak ada kesan pengulangan ide atau istilah orang Jawa “ngangeti jangan wingi” (memanaskan lagi sayur kemarin untuk disantap hari ini).  Maka karnaval pada tanggal tanggal 23 Juni 2010, ini mengangkat tema Sekar Jagad yang terinspirasi dari isu lingkungan hidup.

Foto Pribadi

Foto Pribadi

“Sekar Jagad” memiliki arti kembang dunia, merupakan sebuah perwujudan dari keindahan dan keselarasan lingkungan dalam nuansa warna-warni. Tema ini kemudian diterjemahkan dalam konsep pembagian warna. Peserta parade dikelompokkan berdasarkan warna dan berpakaian sesuai warna kelompoknya, yaitu: Merah, Kuning dan Coklat, Hijau, Putih, Biru dan Ungu.

Tepat pukul 16:30, parade mulai bergerak. Kelompok jatilan dan barongsai menjadi pembuka parade, yang diikuti barisan penabuh drum mirip berpakaian prajurit Kraton.  Menyusul di belakangnya, iring-iringan kereta yang ditumpangi oleh delegasi dari berbagai negara sahabat. Mungkin ini untuk menandakan tema “jagad” atau “dunia.”

Setelah itu, barulah iring-iringan peserta parade yang sesungguhnya. Mereka berpakaian dengan meriah dengan menggunakan bahan utama kain batik. Kebaruan yang terlihat adalah soal desain pakaian yang menyerupai tanaman atau flora. Peserta parade dipisah dalam beberapa kelompok, sesuai dengan warna yang dominan pada pakaian yang dikenakan.

Foto Pribadi

Foto Pribadi

Setelah kelompok flora berlalu, disusul kemudian peserta yang mengusung tema fauna. Mereka mengenakan pakaian yang dibuat mirip dengan hewan. Namun jumlah tidak sebanyak peserta dari kelompok flora. Kelompok Fauna ini dibagi dalam tiga sub-kelompok yaitu fauna darat, fauna laut dan fauna udara.

Pada rangkaian terakhir, berbarislah beberapa pengrajin dan pengusaha batik yang ada di kota Solo. Mereka mengusung papan nama usahanya masing-masing. Maka selesai sudah parade ini. Parade ini hanya berlangsung 20 menit dan menyisakan kebengongan di antara penonton. Mereka tidak percaya bahwa parade yang mereka tunggu dengan berpanas-panas sejak pukul 13 itu berlangsung sekejap.

Foto Pribadi

Foto Pribadi

Secara pribadi, saya merasa bahwa karnaval kali ini sudah kehilangan spiritnya. Inti dari karnaval sebenarnya adalah selebrasi massal yang di antara warga kota. Yang terjadi, karnaval ini justru mulai membuat jarak dengan warga. Demi mengamankan karnaval maka panitia mengerahkan pramuka untuk membentuk pagar betis. Berbekal tongkat bambu kuning, anak-anak pramuka ini bergandengan tangan untuk menghalang-halangi warga supaya tidak mendekat. Di belakang pagar betis ini, masih ada beberapa pemuda berbadan kekar, berwajah sangar yang siap memberikan teguran keras jika ada warga yang tidak menurut.

Ketidakramahan itu juga ditunjukkan oleh panitia terhadap orang-orang yang ingin mengambil foto atau video. Panitia melarang para fotografer amatiran ini untuk mengambil gambar dari dekat. Tidak hanya itu, bahkan terhadap pewarta saja mereka juga melakukan pelarangan. Yang diperbolehkan mendekat hanya orang yang mengantongi tanda pengenal dari panitia. Patut disayangkan bahwa panitia karnaval belum menyadari kekuatan citizen journalism.  Meskipun menggunakan peralatan seadanya, namun warga yang mengambil gambar ini sesungguhnya sedang membantu mempublikasikan acara ini secara gratis. Dengan sukarela mereka akan mengabarkan karnaval ini melalui berbagai jejaring sosial yang mereka ikuti.

Kritikan lainnya adalah jumlah panitia yang ikut dalam parade. Dengan mengenakan kaos resmi panitia, mereka berjalan di samping peserta parade. Rupanya mereka adalah anggota keluarga dari peserta parade itu. Mereka mengiringi sambil membawakan minuman, kadang membetulkan pakaian peserta parade dan tak jarang ikut nampang untuk foto-foto. Jumlahnya cukup banyak sehingga terasa mengganggu penonton di pinggir jalan.

Foto Pribadi

Foto Pribadi

Jika tidak ada pembenahan dan terobosan, saya khawatir bahwa reputasi karnaval ini akan memudar. Pada beberapa karnaval, ada satu sosok sentral yang menjadi motor penggerak. Jember Fashion Festival dirintis dan digerakkan oleh Dynand Fariz. Festival Gamelan di Yoyakarta dapat digelar bertahun-tahun berkat kegigihan (alm) Sapto Raharjo. Sedangkan dalam Solo Batik Carnival ini, penggagas utamanya adalah walikota Solo, Jokowi. Dia melontarkan ide dan mewujudkannya pada periode jabatannya yang pertama. Berkat kesuksesannya dalam pemerintahan, Jokowi terpilih lagi sebagai walikota untuk periode kedua. Pertanyaannya, apakah Jokowi masih punya semangat yang sama untuk mengurus karnaval ini sementara dia tidak mungkin mencalonkan diri menjadi walikota lagi? Entahlah. Siapa tahu dia berminat menjadi gubernur Jawa Tengah.

Foto Pribadi

Foto Pribadi

Foto Pribadi

Foto Pribadi


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012