Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Galih Tri Panjalu

Hanya orang biasa yang ingin menjadi dirinya sendiri

Manfaat Nyamuk

OPINI | 24 May 2010 | 06:04 Dibaca: 5441   Komentar: 4   0

Apabila kita mendengar kata nyamuk, tentu pikiran kita akan tertuju pada salah satu mahluk ciptaan Tuhan, yaitu binatang yang sangat kecil, bisa terbang, dan menghisap darah manusia atau binatang lainnya untuk mempertahankan hidupnya.

 

 

 

Nyamuk dikenal sebagai binatang pembawa penyakit, seperti demam berdarah, malaria, cikungunya, dan masih banyak penyakit lainnya. Sepertinya binatang ini memang melulu pembawa penyakit, tidak ada manfaatnya sedikitpun.

 

 

Bicara tentang penyakit yang dibawa oleh nyamuk, saya adalah salah satu orang yang pernah trauma dibuatnya. Saya pernah mengalami sakit demam berdarah sebanyak dua kali. Pengalaman yang sungguh tidak mengenakkan. Bahkan pada demam berdarah yang pertama, sampai membuat saya mengalami demam tinggi dan berhalusinasi karenanya. Rambut rontok. Kulit mengelupas (bahasa jawanya : ngglodoki), dan harus rela di opname di rumah sakit selama 8 hari, dan butuh biaya yang tidak sedikit.

 

 

Salah satu dokter pernah mengatakan kepda saya, bahwa penyakit demam berdarah ini adalah penyakit untung-untungan. “Kok untung-untungan sih dokter?”, kata saya. Ya, karena meskipun kita sudah melakukan tindakan pencegahan di lingkungan kita dengan sebaik-baiknya, tapi mungkin ketika kita berpergian ke tempat lain, misalnya ketika makan di warung bakso, pergi ke rumah teman, atau aktifitas lainnya, dan ternyata di lingkungan tersebut, lingkungannya tidak bersih, maka bisa saja kita di gigit oleh nyamuk demam berdarah. Jadi penyakit demam berdarah bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja.

 

 

Pernah terbersit dipikiran saya, untuk apa Tuhan menciptakan nyamuk kalau hanya untuk membuat menderita dan tidak memberikan manfaat apapun kepada umat manusia? Pernah terbersit juga, saya akan merelakan darah saya dihisap oleh nyamuk, asalkan tidak membuat badan saya gatal, dan tidak membawa penyakit. Hitung-hitung amal kepada sesama mahluk ciptaanNya.

 

 

Butuh waktu lama bagi saya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan diatas. Beberapa jawaban yang bisa saya temukan, baik dari literatur maupun dari perenungan saya, adalah sebagai berikut:

 

  • Dari sisi ekonomi, maka tercipta lapangan pekerjaan melalui pabrik obat nyamuk, dokter-dokter, perawat dll.
  • Dari sisi tehnologi dan ilmu pengetahuan, maka tercipta jenis-jenis obat nyamuk seperti, obat nyamuk bakar, gel, obat nyamuk semprot,  obat nyamuk elektronik, juga mendorong manusia untuk membuat temuan-temuan baru.
  • Dari sisi manusia, maka kita harus membuat lingkungan kita menjadi bersih.
  • Dari sisi ilmu alam, untuk memenuhi rantai makanan, karena nyamuk juga makanan bagi binatang lain. Misalnya nyamuk di makan cicak, cicak dimakan ikan, ikan dimakan ikan lainnya yang lebih besar, dan seterusnya.

 

Dan masih banyak manfaat lainnya yang belum saya dapatkan.

 

 

Kalaupun saya kemudian merelakan darah saya dihisap oleh nyamuk asalkan tidak membuat gatal kulit (yang artinya saya tidak merasakan apa-apa ketika digigit nyamuk) dan membawa penyakit, itu adalah kesombongan dan pikiran yang takabur dari saya.

 

 

Bayangkan kalau saja gigitan nyamuk tidak membuat gatal badan dan saya tidak merasakan apa-apa ketika di gigit nyamuk, maka mungkin saja saya akan mati kehabisan darah, karena darah saya habis dihisap oleh nyamuk dan tema-temannya yang jumlahnya sangat banyak.

 

 

Ternyata gigitan nyamuk yang membuat kulit kita gatal itu adalah merupakan early warning system bagi tubuh kita, untuk kemudian kita menggunakan obat nyamuk dan menyadarkan kita kalau mungkin lingkungan kita tidak bersih.

 

 

Lebih dari itu semua, saya yakin ini adalah bentuk dari kebesaran sang Pencipta. Tuhan menciptakan nyamuk semata-mata untuk menegur umatnya untuk tidak sombong dan tidak takabur. Merasa lebih sempurna, merasa lebih berkuasa ketika sedang mempunyai jabatan. Merasa tidak terkalahkan dari yang lainnya. Bagaimana kita bisa takabur dan sombong, merasa lebih dari lainnya, apabila ternyata kita sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna, tetap saja bisa “dikalahkan” oleh mahluk Tuhan lainnya seperti nyamuk yang ukuran tubuhnya sangat jauh lebih kecil dibandingkan ukuran tubuh manusia. Subhanallah      

 

 

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | | 02 September 2014 | 11:41

Yakitori, Sate ala Jepang yang Menggoyang …

Weedy Koshino | | 02 September 2014 | 10:50

Hati-hati Menggunakan Softlens …

Dita Widodo | | 02 September 2014 | 08:36

Marah, Makian, Latah; Maaf Hanya Ekspresi! …

Sugiyanto Hadi | | 02 September 2014 | 02:00

Masa Depan Timnas U-19 …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 21:29


TRENDING ARTICLES

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 4 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

Menyaksikan Sinta obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | 8 jam lalu

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | 9 jam lalu

Prof. Suhardi & Kesederhanaan Tanpa …

Hazmi Srondol | 9 jam lalu

Siapa Ketua Partai Gerindra Selanjutnya? …

Riyan F | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: