
Dibaca: 116
Komentar: 3
1 dari 1 Kompasianer menilai Aktual
Ini tulisan ringan hasil pengamatan di sekitar tempat tinggal saya. Saya tinggal di sebuah komplek perumahan di Jogja timur. Blok yang saya tinggali tidaklah terlalu besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil.
Ketika hari menjelang senja blok tempat tinggalku (juga blok lain dalam satu komplek tentunya) mulai ramai oleh penjaja makanan. Ada tukang sate ayam Madura dengan teriakannya yang khas (saatteee!!!), ada tukang bakso dengan kodenya yang khas pula (ting……ting……..ting), ada abang mie ayam dengan suara pukulan kentongannya, dan juga tukang nasi/mie goreng (juga rebus).
Yang paling menarik perhatian saya adalah yang terakhir, yakni tukang nasi/mie goreng rebus. Ada 3 jenis tukang nasi/mie goreng yang lewat di tempat kami. Yang pertama lewat adalah nasi/mie goreng rebus Surabaya (seperti tertulis di gerobaknya). Penjajanya duet, satu orang bertugas mendorong gerobak dang yang lainnya sebagai kokinya. Kemudian disusul jenis yang kedua, yaitu nasi/mie goreng rebus Jawa. Yang terakhir nasi/mie goreng rebus sejenis yang pertama, namun yang ini penjajanya single fighter, sendirian. Ketiganya mempunyai cirikhas tersendiri dalam memasak. Jenis yang pertama dan ketiga sama, menggunakan bumbu minimalis, hanya satu siung bawang putih yang digeprak dan bumbu botolan plus bumbu wajib (garam & penyedap). Memasaknya menggunakan kompor gas dan dengan gaya yang cekatan. Jenis yang kedua menggunakan bumbu komplit yang sudah diracik dari rumah, menggunakan tungku areng (anglo). Ketiganya mempunyai citarasa yang berbeda, namun semuanya enak dan mak nyuss. Selisih waktu kedatangan ketiganya tidaklah lama (kurang dari 1 jam).
Yang menjadi kekaguman saya adalah semua jajanan di atas selalu ada saja pembelinya, semuanya laku. Memang benar, rejeki itu yang mengatur Tuhan. Betapa Maha Murahnya Tuhan. Tuhan takkan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Selama kita selalu berusaha, Tuhan pasti takkan lalai.