
just visit me at http://ririsatria40.wordpress.com
Dibaca: 148
Komentar: 1
Nihil
Apa kabar, Bu Sri? Apakah Bu Sri sekarang merasa plong yaitu merasa lega setelah lepas dari suatu beban yang berat? atau justru merasa kesal karena suatu alasan tertentu yang tentu Bu Sri sendiri yang mengetahuinya. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa ini adalah suatu bentuk deal politik yang win-win solution. Ada juga yang bilang juga Bu Sri “dikorbankan” untuk suatu kepentingan yang “lebih besar”. Jujur saja, saya juga tidak terlalu tahu, apalagi paham. Ilmu yang saya miliki belum cukup untuk menganalisis fenomena politik tingkat tinggi seperti itu. Tetapi saya berharap apa yang terjadi saat ini adalah yang terbaik untuk Bu Sri.
Saya teringat pada bulan Februari (tanggalnya saya lupa) tahun 1998, sekitar 12 tahun yang lalu, pada acara wisuda di Balairung Universitas Indonesia, saya terpukau mendengarkan orasi ilmiah Bu Sri. Sebagai seorang dosen Fakultas Ekonomi yang belum berusia 40 tahun, Bu Sri mendapatkan kesempatan yang sangat terhormat menyampaikan pemikiran mengenai krisis ekonomi dan strategi penanggulangannya di depan pimpinan dan para guru besar Universitas Indonesia, para wisudawan, serta undangan lainnya. Saya tahu persis, sungguh tidak mudah mendapatkan kesempatan seperti itu, apalagi untuk seorang dosen yang baru berusia 36 tahun!
Buat saya, itu menunjukkan kapasitas Bu Sri yang sudah diperhitungkan dan tentu saja berpikiran sangat maju dan holistik. Rasanya tidak mungkin Universitas Indonesia memberikan kesempatan itu jika Bu Sri adalah “dosen yang biasa-biasa saja”. Jujur saja, saat itu (12 tahun yang lalu) saya berpikir, inilah sosok Menteri Keuangan RI masa depan. Terbukti, beberapa tahun setelah itu, Bu Sri ternyata memang menduduki jabatan yang sangat strategis itu. Berbagai penghargaan yang Bu Sri peroleh di kemudian hari, menurut saya, adalah lumrah.
Saya banyak punya teman, baik dosen maupun mahasiswa di FEUI. Dari mereka, sering terungkap kompetensi Bu Sri yang memang patut dikagumi, dan sekaligus ketegasan dalam sikap dan prinsip. Cuma satu Bu, banyak yang bilang bahwa Bu Sri sering meremehkan pihak lain terutama kalau sudah kalah adu argumen dengan Ibu. Benarkah itu? Wah, saya juga tidak tahu.
Tetapi satu hal yang saya khawatirkan begitu Bu Sri jadi menteri untuk pertama kali tahun 2004 dulu. Bu Sri sudah masuk ke dunia politik. Suka tidak suka, menjadi anggota kabinet adalah menempatkan diri pada teater politik, yang tentu saja berbeda dengan teater akademik maupun profesional. Saya sempat berpikir Bu Sri akan mendapatkan tekanan hebat di kabinet dari kalangan politisi, tetapi ternyata dugaan saya meleset pada 5 tahun pemerintahan Presiden SBY yang pertama. Ternyata Ibu survive.
Tetapi ternyata tekanan itu datang pada masa pemerintahan periode kedua Presiden SBY. Banyak pihak melihat Bu Sri ternyata terjebak di tengah-tengah konflik politik tingkat tinggi. Dalam politik memang tidak ada siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan siapa yang sanggup membangun opini, dan opini tersebut diamini oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Segala macam cara dan trik dipergunakan untuk membangun opini. Kita tidak berbicara tentang rakyat Bu, karena saya termasuk yang tidak percaya para politisi itu mewakili kepentingan rakyat yang sesungguhnya (walaupun ada politisi yang lurus dan bersih, dan untuk mereka ini saya menaruh hormat yang sangat tinggi).
Sekarang, Bu Sri sudah meninggalkan kursi Menteri Keuangan RI. Apakah masalahnya sudah selesai? Jika masalahnya ini hanyalah deal politik, mungkin sudah selesai. Terlihat dari pernyataan beberapa anggota DPR yang tadinya “garang” terhadap Bu Sri, tetapi sekarang “melunak” begitu Ibu mundur sebagai menteri.
Saya yakin, ada suatu kisah lain di balik semua ini, dan tentu Bu Sri adalah pihak yang paling mengetahuinya. Mungkin deal-deal politik yang ada membuat Bu Sri akan diam dan memilih (atau dipaksa?) untuk keluar dari lingkaran konflik saat ini. Tetapi saya yakin, pasti banyak cerita di balik layar yang suatu saat perlu dibuka ke publik sebagai sebuah proses pembelajaran. Saya berharap suatu saat nanti Bu Sri akan membuat sebuah memoar atau (auto)biografi mengenai hal ini sehingga bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat banyak ke depan.
Saya termasuk yang menyayangkan kepergian Bu Sri ke Washington. Kita kehilangan Menteri Keuangan yang terbaik saat ini. Tetapi memang deal-deal politik tidak mudah dipahami, dan membuat kita terkadang harus mengalah (atau mungkin dikalahkan). Itulah teater politik, yang memang jauh berbeda dengan teater akademik dan profesional. Saya yakin Bu Sri tentu memahami hal ini.
Selamat bertugas di World Bank, Bu Sri. Kami masih menantikan kontribusi Bu Sri untuk negara Indonesia kita ini di masa-masa mendatang, paling tidak untuk mendidik calon-calon ekonom masa depan negara ini di kampus FEUI khususnya, dan tentu saja Indonesia pada umumnya.
Salam
Riri Satria
(repost dari blog saya)